
Setelah kejadian menggemparkan itu, semua kembali menjadi normal seperti tidak terjadi apa-apa di mansion ini. Mayat Sari sudah di kebumikan dan Malik memberikan kompensasi pada keluarga yang di tinggalkan.
Kejadian menggemparkan itu sukses membuat Zahra semakin gemetar ketakutan. Bagaimana tidak? Di saat para pelayan lain menghindari tuan mudanya, sedangkan ia malah rutin bertemu dengan tuan mudanya walau terpaksa.
Hari ini, Zahra sudah selesai membuatkan makan siang untuk Daniel dan kini tengah duduk di halaman belakang di dekat kolam renang. Zahra menatap air kolam yang jernih, ingin rasanya ia masuk ke dalam kolam itu.
Mengapa setiap rumah orang kaya ada kolam renang nya?
Zahra mencoba menyentuh permukaan air kolam dengan jemarinya. Sejuk!
Apa yang sedang ibu lakukan hari ini? Apa ibu baik-baik saja di sana. Kapan aku mendapatkan jatah libur.
Zahra menghela nafas berat bagaimana bisa aku mendapatkan hari libur, laki-laki itu saja selalu meminta makan. Apa dari kecil ia tak di beri makan.
Zahra hanya terdiam menatap permukaan kolam. Sedangkan dari atas sana, Daniel terus saja memandangi gerak-gerik Zahra sembari tersenyum.
Meow.
Seekor kucing dengan bulu yang lebat naik ke atas pangkuan Daniel. Bulu nya yang berwarna oren dan lebat itu membuat kucing itu terlihat gendut.
"Kau berat nona Ginger! Huss, huss.." Daniel menoel-noel perut kucing betinanya yang ia beri nama ginger atau nona jahe.
"Coba lihat di sana nona jahe," tunjuk Daniel pada Zahra yang masih setia duduk di dekat kolam renang.
Jangan pikir kalau si nona jahe akan melihat, itu sangat ajaib jika terjadi.
"Dia sangat manis kan? Sayangnya....." Daniel tak melanjutkan ucapannya diam menatap Zahra yang masih duduk diam di dekat kolam.
"Sayangnya aku tidak berani mendekatinya. Dia pasti akan ketakutan melihat ku."
"Menurut mu aku harus bagaimana nona jahe?" Daniel memeluk si nona jahe yang menggeliat di pangkuannya.
"Kau gendut sekali, Umi pasti memberikan banyak makanan untuk mu yah. Kau akan ku hukum untuk berdiam di kamar! Jangan makan! Harus diet yah. Nanti kau tidak bisa kawin."
Daniel mengusir kucingnya agar tidak naik ke pangkuannya lagi. Ia pun kembali menatap Zahra sedangkan si nona jahe pergi ke atas ranjang Daniel.
"Apa aku lamar saja yah biar dia tidak takut padaku. Masalah cinta pasti akan tumbuh seiring berjalannya waktu."
"Tapi, apa dia akan menerimanya? Jangan-jangan nanti aku di tolak mentah-mentah." Daniel tersenyum kecut.
"Untuk apa aku takut di tolak. Toh, aku dulu pernah di tolak."
"Lagi pula aku di sini adalah tuan mudanya, dengan sorot mataku pastinya dia tidak akan menolak. Tapi, kesan nya sedikit memaksa."
"Hah, aku bingung."
****
__ADS_1
Keesokan harinya.
Semua penghuni dapur tiba-tiba saja saling menatap satu sama lain tak kala melihat Daniel yang berkunjung di dapur utama dan menatap Zahra dengan tatapan sejuta makna.
Yah, Zahra pergi ke dapur utama hari ini karena ia bosan. Tapi, ia tak tahu kalau Daniel akan menyusulnya.
"Daniel, mengapa kau ada di dapur?" tanya Aisyah yang baru saja masuk ke dalam dapur.
"Umi, kemari." Aisyah mendekat menatap putranya yang terlihat bahagia.
"Ada apa?" tanya Aisyah.
"Semuanya dengarkan ini. Hari ini aku akan melamar seseorang." Dengan antusias Daniel mengatakan maksudnya.
"Benarkah? Siapa itu?" tanya Aisyah bahagia sekaligus terkejut begitu juga dengan seisi dapur, mereka merasa aneh. Kalau memang tuan mudanya ingin melamar mengapa dia ke dapur dan mengumumkan nya pada para pelayan.
Daniel tersenyum cerah, semalam ia sudah melakukan shalat istikharah dan di pagi hari hatinya tergerak untuk langsung melamar gadis manisnya.
Daniel mengeluarkan sesuatu dari saku celananya. Sebuah cincin lalu ia tujukan pada Zahra membuat seisi dapur membisu.
"Hari ini aku melamar mu. Zahra maukah kau menjadi Istriku."
Duarrrrr
Seperti batu yang menghantam seluruh tubuhnya. Zahra di buat terkejut sekaligus syok. Bagaimana bisa ia mendapatkan lamaran seperti ini. Ia memang terkadang curi-curi pandang pada tuannya karena laki-laki itu tampan dan manis, tapi ia tak pernah berharap untuk di lamar apalagi sampai menikah. Ia masih waras untuk menikah dengan seorang pembunuh.
"Oh baiklah-baiklah, mengapa harus di dapur? Ayo ikuti Umi. Zahra ayo," sela Aisyah tak ingin nanti Daniel kecewa dan orang lain melihatnya.
Daniel dan Zahra pun mengikuti Aisyah pergi ke ruangan keluarga. Sedangkan di dapur para pelayan terus berbisik-bisik tentang permasalahan tadi.
"Tuan muda melamarnya, pasti dia sudah menggoda tuan muda sehingga mau melamarnya."
"Iya, mana mungkin laki-laki kaya mau dengan seorang pembantu. Pasti gadis itu sudah memberikan obat pada makanan tuan muda."
"Berhentilah bergosip atau aku laporkan kalian ke pak Lim!" ancam Rianthy membuat para penggunjing itu terdiam.
Di sisi lain tepatnya di ruang keluarga mereka bertiga sudah duduk di sofa.
"Daniel, bisa jelaskan apa maksudnya ini. Bukankah ini terlalu mendadak?"
"Hmmm, Daniel kan sudah bilang kalau Daniel ingin melamar dan wanita yang Daniel lamar itu adalah Zahra." Jantung Zahra berdetak dengan kencang, keringat dingin mengucur deras.
"Umi paham sayang, tapi...."
"Umi, tidak ada tapi-tapian. Daniel ingin menikah dengan Zahra."
Kalau tidak si Dion akan membawa nya. Cih, membayangkan nya saja aku hampir gila. Jangan sampai Zahra di ambil oleh Dion.
__ADS_1
"Tapi kau tidak bisa memaksa. Kalau nanti Zahra tidak mau kau tidak boleh memaksanya."
Dia harus mau!
"Nak Zahra...."
"Maafkan saya Nyonya, tuan muda. Saya rasa ini sebuah kesalahpahaman."
"Ini bukan kesalahpahaman, ini adalah kebenaran. Aku ingin kau menjadi istriku."
Anda terlalu memaksa tuan.
"Kalau saya tidak mau?" tanya Zahra membuat raut wajah Daniel kembali datar. Kalau tadi orang-orang dapat melihat sejuta bunga mekar di wajah Daniel, kalau sekarang hanya ada raut wajah bongkahan es.
"Kau tidak mau?" tanya Daniel dingin membuat sekujur tubuh Zahra merinding.
"Hmmm."
"Kau tahu, kau bekerja di sini dengan seluruh hidup mu. Itu artinya kau tidak bisa keluar dari mansion ini sampai aku mengijinkan nya. Tapi, kalau kau menikah dengan ku. Aku bisa mengijinkan mu untuk keluar dengan syarat harus bersama pengawal."
"Saya tidak tertarik."
"Lalu ibu mu? Apa kau tak merindukan ibumu? Aku dengar ibu mu sedang sakit di rumah." Zahra mengangkat kepalanya menatap Daniel yang tersenyum kearahnya.
"Ibu saya baik-baik saja, semalam kami bicara dan dia baik-baik saja."
"Oh ya? Lalu apa mungkin anak buah ku yang mengada-ada kalau ibumu tengah sakit dan tidak pergi ke rumah sakit melainkan bekerja menjadi tukang cuci?"
"Itu tidak mungkin."
"Kau bisa menghubungi nya dan desak dia agar mengakui kalau dia sedang sakit. Lalu setelah itu aku akan menunggu keputusan mu, menolak menikah dan kau tidak pernah bisa melihat ibu mu atau menikah dengan ku. Sedikit memaksa tapi ini demi kebaikanmu."
Daniel pergi meninggalkan Zahra dan Aisyah, Zahra memandang Aisyah mengharapkan sebuah bantuan, tapi Aisyah juga tidak bisa berbuat apa-apa.
_
_
_
_
Typo bertebaran dimana-mana harap bijak dalam berkomentar yah
Jangan lupa like komen dan juga vote biar author makin semangat.
Tbc
__ADS_1