Bimbing Aku Istriku

Bimbing Aku Istriku
Kesabaran itu tidak ada batasnya


__ADS_3

Setelah memakai pakaian, Zahra pun di ajak Daniel jalan-jalan di taman yang ada di rumah sakit. Dengan senyuman yang selalu mengembang di bibirnya, Zahra begitu menikmati semilir angin yang menerpa wajahnya.


"Hubby, aku mau air kelapa muda."


"Siap, honey." Daniel pun mendorong kursi roda menuju tempat duduk yang ada di taman. Setelah itu ia mengeluarkan ponselnya lalu menghubungi anak buahnya untuk membelikan kelapa muda.


"Sebentar lagi kelapa mudanya akan datang," ucap Daniel sembari mengelus tangan Zahra.


"Hubby," panggil Zahra.


"Iya, sayang." Zahra menatap mata Daniel dengan lekat lalu tersenyum.


"Tidak jadi," ucap Zahra terkekeh kecil lalu memeluk lengan suaminya.


"Ck, kebiasaan."


Beberapa menit kemudian, kelapa muda pun datang. Dengan antusias, Zahra meminum air kelapa muda yang manis dan juga segar.


"Hubby mau?" tawar Zahra.


"Honey saja yang minum," tolak Daniel sembari mengelus kepala Zahra.


Zahra pun melanjutkan minumnya hingga air kelapa habis.


"Sekarang mau apa lagi?" tanya Daniel. Zahra tampak berpikir lalu menggelengkan kepalanya.


"Ngantuk, Hubby." Zahra merengek manja "ayo tidur," lanjutnya.


Daniel mengangguk lalu kembali mendorong kursi roda menuju ruangan. Di perjalanan menuju ruangan, seorang laki-laki muda menyapa Zahra.


"Zahra?" laki-laki itu menghentikan perjalanan Zahra dan Daniel menuju ruangan.


Zahra tampak menatap laki-laki itu sejenak lalu memalingkan wajahnya.


"Kau Zahra kan?" tanya laki-laki itu.

__ADS_1


"Ada urusan apa kau dengan Istriku?" tanya Daniel tajam.


"Istri? Kau sudah menikah, Zahra? Hahahaha, kalau begitu perkenalkan nama ku Zico dan aku pernah satu sekolah dengan Zahra waktu SMP."


"Hubby, ayo pergi." Zahra merasakan akan ada perseteruan nantinya, lebih baik ia mengakhiri pertemuan mendadak ini dengan laki-laki yang bahkan sangat ia benci itu.


"Yuhu, terburu-buru sekali. Sepertinya kau sudah bahagia yah sekarang. Lihatlah perut buncit mu, kau hamil? Apa itu anak sugar Daddy mu atau anak suami mu?" ledek Zico membuat Daniel naik pitam namun Zahra langsung menahan Daniel.


"Sudahlah Hubby, ayo pergi. Jangan dengarkan perkataan manusia seperti ini," ucap Zahra.


Daniel pun mendorong kursi roda sembari masih menatap tajam pada Zico yang tersenyum mengejek.


"Bagaimana rasanya bercinta dengan pelacur, bro?" tanya Zico dengan nada meledek. Kali ini Daniel sudah tidak bisa diam lagi. Saru bogeman mentah mendarat di wajah Zico membuat laki-laki menjengkelkan itu tersungkur ke lantai.


"Jaga ucapan mu, bajingan! Istriku bukanlah wanita murahan, istriku adalah wanita terbaik. Dia menjaga kesuciannya hingga suaminya lah yang menyentuhnya. Atas dasar apa kau mengatakan istriku wanita rendahan? Seharusnya kau malu, kau adalah seorang pria namun mulut mu seperti seorang wanita jalang!" tegas Daniel.


"Hubby, sudahlah. Ayo pulang."


Daniel mengangguk lalu memberikan satu tendangan keras di area perut Zico lalu pergi meninggalkan laki-laki itu yang masih meringis kesakitan.


"Hubby jangan mudah marah seperti itu yah," ucap Zahra membelai wajah suaminya yang tampak dingin.


"Bagaimana bisa aku tidak marah. Bajingan itu menghina istriku, laki-laki itu merendahkan istriku. Aku tidak terima itu, honey."


Zahra tersenyum sembari menarik tangan Daniel lalu menggenggam tangan Daniel serta mencium tangan suami tercinta nya.


"Jika Hubby menemui orang-orang seperti itu, jangan di lawan. Cukup doakan semoga ia mendapatkan kebahagiaan sehingga melupakan kebahagiaan kita. Hubby harus bersabar, jangan di bawa emosi. Nanti bahaya."


"Ck, sabar bagaimana? Hubby mencoba untuk diam tapi dia semakin melunjak, kesabaran juga ada batasnya honey."


"Eh, jika kesabaran mempunyai batas maka itu belum bisa dikatakan sabar. Hubby harus lebih sabar lagi yah," ucap Zahra tersenyum manis.


Daniel menatap sendu istrinya, apakah selama ini istrinya selalu menerima hinaan dengan tersenyum. Jika dia yang menjadi istrinya, ia tak akan sanggup. Ia pasti lebih memilih menghabisi semua orang yang menghina nya.


"Iya honey, terimakasih."

__ADS_1


"Ngomong-ngomong, laki-laki itu siapa?" tanya Daniel penasaran.


"Dia pernah satu sekolah dengan ku, hanya saja kami tidak berteman maupun dekat. Dia itu dekat dengan Silvi, sehingga dia juga sama jahatnya dengan gadis itu. Orang-orang di sekolah semua tahu kalau aku anak seorang wanita malam dari laki-laki itu an juga Silvi. Laki-laki itu bahkan pernah ingin memperkosa ku," jelas Zahra tersenyum sendu dengan mata sudah berkaca-kaca.


"Jangan di lanjutkan, honey. Semua sudah berlalu. Sekarang honey sudah bahagia."


"Iya, semua sudah menjadi masa lalu dan semoga kedepannya tak akan ada hal-hal seperti itu lagi. Baik untuk ku maupun orang lain. "


Daniel mengecup kening Zahra lalu mengusap mata Zahra yang berair.


"Kau sangat kuat, honey. Aku bangga padamu."


Zahra terkekeh kecil, "terimakasih."


_


_


_


_


_


_


_


Slow up.


°_°


typo bertebaran dimana-mana harap bijak dalam berkomentar yah


tbc.

__ADS_1


__ADS_2