
Hari sudah malam. Daniel baru saja terbangun dari tidurnya. Malik mencoba menenangkan anaknya yang berusaha menghukum dirinya sendiri. Ia mengatakan bahwa istri dari putranya pasti akan memaafkan Daniel. Malik yakin itu.
Kini laki-laki itu sedang menemani putranya duduk di balkon kamar. Ia menjadikan bahunya sebagai tempat bersandar untuk putranya. Sambil terus mengelus kepala putranya yang tampak hanya diam membisu.
"Daniel ingin ke rumah sakit," ucap Daniel.
"Besok saja," saran Malik.
"Tapi, nanti Zahra akan tidur sendirian."
"Dia tidak akan terbangun sampai besok pagi, dokter sudah memberinya obat penenang," jelas Malik.
"Sebegitu parah kah traumanya?" tanya Daniel mulai khawatir.
"Besok istrimu pasti sudah baik-baik saja. Sekarang istirahatlah, besok kita akan ke rumah sakit sama-sama."
"Baiklah."
****
Pagi jam 08.00
Daniel sudah berada di rumah sakit, duduk di samping Zahra yang tampak masih tertidur. Ia menatap wajah pucat istrinya sembari mengelus kepala Zahra.
Malik dan Aisyah pun memilih menunggu di luar dan memberikan waktu untuk Daniel berduaan dengan istrinya.
Di dalam ruangan.
Mata Zahra perlahan terbuka, dengan lemah wanita itu meminta minum namun matanya masih sedikit terpejam. Daniel yang mendengar Zahra meminta minum dengan sigap membawakan air.
Dengan lembut ia membantu istrinya untuk minum.
"Hubby," lirih Zahra menatap sendu ke arah Daniel.
__ADS_1
"Iya, sayang."
"Ayo pulang," pinta Zahra.
"No, honey. Kau harus di rawat."
"Hm."
Daniel sedikit gemetaran, ia memegang tangan Zahra lalu menunduk. Zahra yang melihat gelagat Daniel pun menjadi bingung.
"Ada apa, Hubby?"
"Maafkan aku," lirih Daniel.
"Untuk apa?"
"Karena aku sudah melanggar semuanya. Aku melakukan hal yang tidak kau sukai, aku melakukan semuanya. Aku sangat hina," lirih Daniel membuat Zahra semakin bingung.
"Apa maksudnya?"
"Iya, Hubby. Katakan, apa yang terjadi?" tanya Zahra penasaran.
"Aku sudah melukai orang lain dengan tangan ku. Aku bahkan hampir membunuh orang itu," jawab Daniel pelan.
Deg
"Si-siapa?" tanya Zahra syok.
"Mereka yang menculik mu, aku melukai mereka semua." Daniel semakin menunduk, tidak berani menatap wajah istrinya. Ia takut melihat raut wajah ketakutan ataupun benci di mata istrinya.
Zahra tampak menghela nafas berat. Ia menatap ke sembarang arah sembari terus merenung.
"Apa Hubby menyesal?" tanya Zahra.
__ADS_1
"Iya.... Tidak juga," jawab Daniel plin-plan.
Zahra tersenyum kecut, dengan pelan mengelus kepala suaminya.
"Selama nafas masih berhembus, nyawa masih berada di raga maka tidak ada kata tidak mungkin untuk bertaubat. Untuk kejadian di masa lalu, jadikan pelajaran saja agar kedepannya tidak akan melakukan kesalahan yang sama. "
"Tapi aku sudah melakukannya berkali-kali dan aku tidak menyesal," sanggah Daniel.
"Hubby, Jika dulu hubby sering melakukan hal itu dan hubby tidak menyesal. Maka, mulai sekarang hubby harus membiasakan untuk menyesal akan semua perbuatan kejahatan yang akan Hubby lakukan. Jangan gunakan kalimat Allah maha pengampun sebagai alasan Hubby terus melakukan kejahatan."
"Tapi, aku tidak bisa. Aku sudah berusaha. Aku selalu terapi, aku selalu mencoba untuk mengendalikan nya, tetap saja tidak bisa."
"Bisa, Hubby. Kalau Hubby punya niat untuk berubah pasti bisa. Sebenarnya bukan tidak bisa, tapi Hubby tidak mau. Kalau Hubby bertekad untuk bisa, maka Hubby akan menguatkan iman hubby untuk tidak melakukan hal itu, tapi karena Hubby tidak mau berubah itulah sebabnya Hubby tetap melakukan kejahatan itu."
Daniel terdiam, benar juga yang di katakan istrinya. Kalau ia memang berniat untuk berubah pasti ia bisa. Tapi, karena ia sendiri yang tidak ingin berubah jadinya dirinya tetap melakukan kejahatan dengan leluasa.
"Kalau begitu, apa yang harus aku lakukan?" tanya Daniel menatap mata istrinya. Ada rasa lega ketika tahu istrinya tidak marah padanya.
"Ikuti apa yang aku katakan. Jangan membantah, jangan mengeluh."
"Siap Bu komandan," jawab Daniel semangat membuat Zahra terkekeh geli sembari mencubit pipi suaminya.
"Semangat."
_
_
_
_
_
__ADS_1
Typo bertebaran dimana-mana harap bijak dalam berkomentar yah
tbc.