
21.00
Zahra kini duduk di atas ranjang sembari mendengarkan curhatan dari Umi Aisyah. Malam ini, Aisyah datang ke kamar Daniel dan Zahra untuk melihat keadaan menantunya.Ia baru saja pulang dari luar kota jadi baru malam ini ia bisa melihat keadaan Zahra.
"Zahra sudah baik-baik saja, Umi." Zahra mencoba menyakinkan bahwa dirinya baik-baik saja.
"Apa kepala mu masih pusing?" tanya Aisyah.
"Tidak, Umi. Semua baik-baik saja," jawab Zahra.
Di saat mereka sedang berbincang, Daniel baru saja keluar dari kamar mandi sembari memegang perutnya. Ia sakit perut karena makan makanan koki baru.
"Umi, ini sudah malam. Daniel ingin tidur," ucap Daniel membuat Aisyah memberengut kesal.
"Kau mengusir, Umi?"
"Bukan mengusir, Umi ku sayang. Tapi, Daniel ingin tidur." Daniel merebahkan tubuhnya di atas ranjang.
"Kalau mau tidur yasudah tidur sana, mengapa Umi harus keluar? Umi kan masih ingin mengobrol," ucap Aisyah tidak terima.
"Besok saja ngobrol nya, Umi. Daniel ingin tidur," ucap Daniel mengambil ponselnya di atas nakas.
"Yasudah tidur sana, biar Umi dan Zahra bercerita nya di tempat lain."
"Tidak boleh! Daniel ingin tidur dan tidur nya harus dengan istri Daniel." Terjadilah perdebatan diantara ibu dan anak itu membuat Zahra menjadi pusing.
"Seperti anak-anak saja kau ini. Tidur harus bersama istri mu, sebelum menikah kan kau biasa tidur sendiri," gerutu Aisyah.
"Itu dulu, Umi. Kalau sekarang kan beda."
"Umi tidak mau pergi, kalau pun Umi keluar kamar yah harus bersama menantu Umi. Umi ingin bercerita, sayang." Aisyah mencoba untuk membujuk Daniel yng tampak meletakkan kembali ponselnya di nakas.
"Tidak boleh!" tolak Daniel mentah-mentah.
"Ck, Zahra saja belum mengantuk. Kau saja yang berlebih-lebihan," ucap Aisyah masih tak mau kalah.
"Umi ingin punya cucu?" tanya Daniel membuat pipi Zahra merona malu.
"Mau," ucap Aisyah antusias.
"Kalau begitu tinggalkan kami di sini sekarang, Umi ku sayang. Kami ingin membuatkan Umi cucu yang banyak-banyak yang lucu dan juga menggemaskan," ucap Daniel membuat Aisyah berdiri.
"Baiklah, Umi akan keluar. Kalian lanjutkan buat anak nya, babay." Aisyah keluar dari kamar dengan perasaan bahagia meninggalkan dua insan yng kini tengah kikuk di atas ranjang.
"Sayang," panggil Daniel mencongkel perut Zahra membuat gadis itu terlonjak kaget.
"Apa?" tanya Zahra dengan nada sedikit tinggi efek dari keterkejutan nya.
"Ayo kita buat anak," pinta Daniel manja.
__ADS_1
"Untuk apa anak?" tanya Zahra yang pura-pura bodoh.
"Ck, untuk di jual!" ketus Daniel memeluk istrinya yang masih duduk.
"Dasar orang tua tak berperasaan," ledek Zahra mendapatkan cubitan di pahanya.
"Auuwww, sakit." Zahra mencubit lengan Daniel membuat laki-laki itu terkekeh.
"Ayo buat anak," pinta Daniel manja.
"Kalau tidak mau?"
"Harus mau!" tekan Daniel menarik paksa istrinya agar berbaring.
"Tolong..Tolong... Hahahahaha.. Pemerkosaan!" teriak Zahra dibaringi tawa.
"Jangan bergerak, nona. Atau anda akan menyesal!" ancam Daniel membuat Zahra menutup mulutnya karena tak tahan ingin tertawa.
"Kalau saya bergerak bagaimana, tuan tampan?" ledek Zahra.
"Saya akan membuat perut Anda membuncit selama sembilan bulan!" ancam Daniel membuat Zahra tak tahan menahan tawanya.
"Ampun, bang." Daniel tertawa lepas lalu menindih istrinya dan mengecup pipi Zahra bertubi-tubi.
"Tidak ada ampun untuk mu, sayang."
******
Zahra sudah selesai shalat subuh dan kini sudah ada di dapur, sedangkan suaminya masih di mesjid.
Ia berinisiatif membuat sarapan pagi karena belakangan ini terlihat suaminya tidak selera makan. Ia jadi khawatir jika nanti Daniel sakit.
Tak tahu kenapa, tapi hatinya terasa nyaman bila bersama suaminya. Ada rasa hangat dan juga sebuah kasih sayang berupa perlindungan bila di dekat suaminya.
Setelah selesai memasak, Zahra menata makanan khusus untuk suaminya di meja makan. Sedangkan untuknya dan juga kedua mertuanya sudah di tata oleh pelayan.
Setelah menata makanan, Zahra pergi ke kamar untuk mandi. Selepas masak badannya langsung lengket. Ia ingin membersihkan diri terlebih dahulu hitung-hitung menunggu suaminya pulang.
Beberapa menit kemudian, semua sudah berkumpul di meja makan untuk sarapan. Zahra tersenyum puas ketika suaminya menyantap sarapan dengan lahapnya.
"Hari ini adalah jadwal terapi mu, jangan sampai lupa." Malik menatap putra nya yang tampak lahap menyantap sarapan nya. Daniel yang mendengarkan perkataan Malik hanya mengangguk dan melanjutkan makannya.
"Karena kau pergi terapi, jadi Umi akan membawa Zahra bersama Umi yah," ucap Aisyah langsung mendapatkan penolakan dari Daniel.
"Zahra akan ikut bersama Daniel," ucap Daniel membuat Aisyah memberengut kesal.
"Tapikan kau pergi terapi, nanti istri mu bosan." Masih tak mau menyerah untuk membujuk putranya agar memberikan waktu sehari saja bersama menantunya.
"Tidak boleh!" tolak Daniel.
__ADS_1
Aisyah menghela nafas berat, putra nya itu sangat egois pikirnya.
"Oh ya, Bi. Kapan kiranya acara penyerahan perusahaan?" tanya Aisyah mengubah topik.
"Dua Minggu lagi," jawab Malik seadanya.
"Cieeee... Ada yang akan menjadi Presdir," ledek Aisyah menatap putranya yang tampak fokus dengan sarapannya. Seperti orang kelaparan pikir Aisyah.
"Apa nanti acaranya akan di datangi tamu yang banyak?" tanya Aisyah.
"Tentu, acara ini adalah acara yang begitu penting. Semua pengusaha harus tahu bahwa perusahaan Raymond akan menjadi milik Daniel seutuhnya. Maka dari itu, Abi mengundang banyak tamu, baik dari kalangan saudara, artis, maupun teman dekat lainnya." Aisyah tampak mengangguk mendengarkan penjelasan dari Malik.
"Abi sudah menyiapkan segalanya dengan matang mulai dari keamanan bahkan siapa-siapa saja yang boleh datang ke acara itu. Jadi, semua akan baik-baik saja."
"Maaf menyela, apa Zahra juga akan ikut?" tanya Zahra.
"Tentu. Zahra kan istri dari Daniel, jadi harus ikut. Semua orang harus tahu bahwa kau adalah istrinya dan Daniel kini sudah beristri." Zahra tampak mengangguk mendengarkan jawaban dari Malik.
"Apa kau berencana tidak ikut, honey?" tanya Daniel.
"Iya. Kalau saja tadi jawaban nya terserah, aku memilih tidak akan ikut. Tapi, karena aku harus ikut, yah aku akan ikut." Bukan apa-apa, Zahra hanya tidak ingin menemukan masalah baru. Apalagi dari paparan mertuanya bahwa semua pengusaha akan di undang, itu berarti keluarga Ayah nya kemungkinan besar akan turut di undang juga. Ia tak mau melihat para pengganggu itu.
"Kalau kau tidak mau ikut tidak apa-apa, honey. Jangan di pikirkan. Aku juga tidak akan ikut nanti," ucap Daniel membuat Zahra bingung.
"Kalai hubby tidak ikut, lalu siapa yang akan di nobatkan menjadi Presdir? Apa pak Lim?" ledek Zahra membuat Daniel terkekeh.
"Boleh juga. Biar pak Lim saja yang menjadi pengganti ku," ucap Daniel membuat pak Lim yang ada di ujung sana tepuk jidat.
_
_
_
_
_
_
_
Maaf yah telat update. kan author dah bilang kalau author ada sedikit permasalahan. jadi author siapkan dulu urusan dunia nyata nya yah..
terimakasih sudah membaca dan juga setia menunggu.
jangan lupa like komen vote, dan juga hadiah nya..
typo bertebaran dimana-mana harap bijak dalam berkomentar yah
__ADS_1
tbc.