Bimbing Aku Istriku

Bimbing Aku Istriku
Bingung


__ADS_3

Satu Minggu berlalu dengan semestinya. Zahra dengan tabiat ngidamnya dan Daniel dengan sikap penuh kesabaran nya.


Hari ini Daniel pergi ke kantor karena memang ada pekerjaan yang harus ia selesaikan secepat mungkin. Sedangkan Zahra berdiam diri di rumah sembari menikmati beragam makanan lezat yang di sajikan.


Malik menemani istrinya pergi ke toko kue milik Aisyah dan begitulah hari-hari di lewati oleh keluarga Raymond.


"Nona muda, sebaiknya anda memakan nasi. Sedari pagi anda tidak memakan nasi," bujuk pak Lim. Ia sudah seperti ayah untuk Zahra karena semenjak kehamilan Zahra laki-laki paruh baya itu lebih posesif akan apa yang dimakan hingga yang dilakukan Zahra. Itu semua karena pak Lim sangat menyayangi Daniel. Jadi, ia tak ingin sesuatu yang buruk terjadi pada orang yang berharga untuk tuan mudanya.


"Aku tidak mau makan nasi, pak." Zahra terus mengunyah keripik kentang yang ada di di tangannya.


Pak Lim hanya bisa menarik nafas berat karena nona nya terus menolak makan nasi, sedangkan ia terus di hubungi oleh tuan mudanya agar Zahra di beri makan nasi.


"Tuan muda sudah berpesan agar anda makan nasi, nona. Jika anda tidak mau, nanti tuan muda akan marah," bujuk pak Lim.


"Memangnya kapan My Hubby pulang?" tanya Zahra mengalihkan pembicaraan.


"Sebentar lagi, nona. Katanya tadi, tuan muda sudah ada di perjalanan." Pak Lim berharap dengan mengatakan itu nona nya akan makan nasi walau hanya sedikit.


"Benarkah? Kalau begitu tunggu my hubby saja datang, baru aku makan nasi nanti."


Yasudahlah. Pikir pak Lim. Ia sudah menyerah.


Beberapa menit kemudian, mobil Daniel sudah tiba di parkiran mansion. Di depan pintu sudah ada Zahra yang berdiri menyambut suaminya. Ini masih jam 11 tapi Daniel sudah pulang. Jangan di tanya mengapa, yah suka-suka hatinya.


"Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh," ucap Daniel memberi salam sembari tersenyum manis ke arah istrinya.


"Wa'alaikumusalam warohmatullahi wabarakatuh, selamat datang hubby." Zahra langsung memeluk suaminya, mengecup bibir suaminya membuat Daniel terkekeh geli.


"Selamat datang tuan muda. Nona muda tidak mau makan nasi sedari tadi," lapor pak Lim membuat Zahra cemberut. Cepat sekali laporan nya.


"Kau tidak makan nasi sedari pagi, honey. Kau harus makan yah, biar ku suapkan." Zahra akhirnya mengangguk. Apapun itu jika di lakukan nya dengan sang suami ia akan menerima nya dengan lapang dada.


Daniel dan Zahra pergi ke kamar sedangkan pak Lim langsung ke dapur meminta agar para pelayan menyiapkan makanan yang enak.


Di dalam kamar tepatnya ruang ganti. Daniel membuka satu persatu pakaiannya dan tak terlepas dari tatapan Zahra.


"Mata mu itu, honey. Liar sekali," goda Daniel tersenyum mesum menatap istrinya yang menganga melihat roti sobeknya.


"Mau?" tawar Daniel menunjuk roti sobeknya.


"Mau," jawab Zahra mengangguk.


"Nanti siap makan yah," ucap Daniel mengecup kening istrinya lalu melanjutkan ganti baju nya.

__ADS_1


Setelah selesai mengganti pakaian, Zahra dan Daniel kini berada di gazebo belakang rumah. Di sana tampak Daniel sedang menyuapi istri manjanya dengan tangan nya tanpa sendok.


"Enak?" tanya Daniel menatap istrinya yang tengah menguyah. Zahra mengangguk sembari membuka mulutnya lagi. Daniel pun langsung menyuapi istrinya sampai makanan habis.


Setelah selesai makan, Zahra dan Daniel berada di kamar. Daniel duduk di tepi ranjang, Zahra berbaring. Daniel sudah mengatakan jangan tidur setelah makan, namun istrinya itu sangat susah di nasehati.


"Hubby, nanti sore kita kerumah ibu yah," pinta Zahra. Ia sangat merindukan ibunya.


"Jam berapa?" tanya Daniel fokus dengan laptopnya.


"Siap ashar, yah."


"Jam 5 sore saja yah, honey. Jam 3 nanti, aku harus kontrol dengan dokter dan jam 5 baru pulang."


"Oke."


*****


17.00


Zahra menunggu Daniel sedari tadi di halaman depan. Duduk dengan manisnya sembari memainkan ponselnya.


Daniel pergi kontrol sendiri, awalnya Daniel mencoba mengajak istrinya sekalian cek kesehatan Zahra. Tapi, istrinya tidak mau ikut jadi Daniel hanya pergi sendirian.


Drrrrttt


Drrrrttt


"Assalamu'alaikum, ibu ku sayang." Zahra memberi salam dengan gembira.


"Datang kerumah mu sekarang jika kau masih menginginkan ibu mu hidup!" ancam dari seberang telepon.


Zahra di buat bingung. Nomor yang tercantum nomor ibunya, tapi mengapa laki-laki yang menjawab.


"Ini siapa?" tanya Zahra.


"Jangan banyak tanya! Datang saja sendirian tanpa pengawal! Aku tunggu 20 menit, jika lewat maka ibu mu akan mati!" ancamannya membuat Zahra gemetar.


"Dimana ibu ku? Kau pasti orang tidak jelas kan? Kau mau mengerjai ku kan?"


Tut..


Tut...

__ADS_1


Panggilan terputus membuat Zahra bertambah panik.


Ting.


Suara pesan masuk. Zahra langsung membuka pesan itu. Matanya terbelalak kaget melihat foto ibunya yang duduk dengan kaki dan juga tangan yang terikat. Terlihat juga bekas luka di wajah ibunya.


Ting.


Datang sendirian, jangan bawa siapapun bersamamu. Jika kau berani membawa orang maka ibu mu akan ku bawa pergi dan ku jual ke pria hidung belang! Jangan kira kami tidak tahu kau ada dimana sekarang dan apa yang kau lakukan! Kami akan tahu jika kau mengatakannya kepada orang lain! Jangan macam-macam!


Air mata Zahra menetes ketika membaca pesan itu. Apa yang harus ia lakukan?


Jika ia mengatakan nya pada suaminya maka ibunya akan di bawa pergi dan akan di jual.


Ia harus bisa pergi secara diam-diam. Bagaimana pun caranya!


*


*


*


*


*


*


*


Uhhh, apa yang akan terjadi guys?


Zahra lemah? Bodoh? Dan juga lalai?


Kalau nanti kalian bilang gitu☝️ maka kalian sudah berdosa 😅


Author ciptakan karakter Zahra itu adalah seorang wanita lemah lembut, penyayang dan penyabar. Bukan wanita jago karate, pandai berbisnis, pandai berpikir secara kritis!


Kalau pemeran utama gak lemah, yah cerita gak bakalan lanjut🤭


Jangan lupa like komen dan juga vote serta hadiah nya.


Typo bertebaran dimana-mana harap bijak dalam berkomentar yah

__ADS_1


tbc.


__ADS_2