
Setelah shalat zhuhur Daniel dan Zahra sudah berganti pakaian dengan pakaian kedua. Kini mereka harus berdiri dan menyapa para tamu yang akan minta bersalaman dan juga foto.
Mereka memakai pakaian dengan warna senada. Daniel dan Zahra kini duduk di atas pelaminan dan sesekali berdiri kalau ada tamu.
Dion datang bersama Rian dan juga dokter Setya. Mereka berjalan di baris depan mempelai pria karena memang laki-laki dan wanita tidak di gabung. Jika laki-laki maka harus menyalami mempelai laki-laki saja, jika perempuan maka harus menyalami mempelai perempuan saja. Tidak boleh ada campur baur.
"Selamat my brother," ucap Setya memberi selamat dan memeluk Daniel.
"Terimakasih."
"Selamat my big brother," ucap Rian memberi selamat dan memeluk Daniel.
"Terimakasih."
Kini giliran Dion. "Huffff, kau menikung ku. Kau menikahi Neneng ku," ucap Dion cemberut.
"Itu karena kau terlalu lama berpikir, jadi aku harus memberikan kepastian." Daniel tersenyum meledek pada Dion.
Dion memeluk Daniel lalu menyampingkan tubuhnya, ia mengatupkan tangannya ke arah Zahra.
"Selamat Neng ku. Ternyata ada laki-laki yang lebih beruntung dari ku yah. Aku harap kalian bahagia, jangan ada pertengkaran dan juga kebohongan. Semoga kalian cepat memberikan kami keponakan. Aku pesan 12 yah, " ucap Dion di baringi tawanya yang seperti magnet dan alhasil membuat orang-orang juga tertawa.
"Walau Neng ku sudah menikah, Neng ku tetap ada di hati." Dion menepuk dadanya.
"Kalau nanti Daniel melirik rumput tetangga yang lebih hijau maka Neneng lirik saja burung tetangga yang lebih berkicau. Selamat," ucap Dion tertawa meninggalkan para mempelai dan pergi ke tempat hidangan.
"Jangan dengarkan dia kakak ipar, dia sedang putus cinta." Zahra mengangguk mendengar perkataan dokter Setya.
"Selamat yah," ucap Ruby kepada Zahra di balas senyum dari Zahra. Ruby memeluk Zahra dengan hangat sembari tersenyum smirk.
"Semoga kalian bahagia."
"Selamat kak Daniel, semoga kalian bahagia." Ruby menyampingkan tubuhnya lalu memberikan selamat dari jarak jauh.
Daniel hanya mengangguk dan tersenyum kecil sebentar membuat Ruby menjadi semakin panas.
Ia pun berjalan meninggalkan Zahra dan pergi bersama Mommy nya. Niatnya ingin tampil menjadi ratu gagal karena ketika Zahra masuk ke ruangan, gadis itulah yang menjadi pusat perhatian.
Menyebalkan.
Ruby segera masuk ke dalam mobil bersama Mega.
"Mommy, Ruby sedih Mom. Mengapa kak Daniel tidak senang melihat Ruby, apa dia sudah lupa dengan Ruby." Ruby menyeka air matanya. Melihat Daniel tersenyum pada istrinya membuat ia terluka.
"Sayang, mungkin Daniel bukan jodohmu. Kau harus bisa melupakan nya."
"Tidak Mom! Aku akan berusaha untuk mendapatkan kak Daniel, aku akan berusaha! Akan ku buktikan bahwa hanya akulah yang pantas bersanding dengan kak Daniel. Gadis itu hanya wanita kampungan. Lihat saja tadi gaunnya besar seperti ibu-ibu." Ruby tersenyum mengejek melihat gaun yang di gunakan Zahra seperti ibu-ibu pengajian. Kalau saja dia tahu bahwa pakaian lebar itu akan membuat si pemakai aman dan tentram tentunya ia akan menarik kata-katanya.
__ADS_1
"Di bandingkan dengan style Ruby yang modern dan mengikuti zaman, style gadis itu sangat norak. Jilbab besar, gamis besar dan juga pakai sarung tangan. Halah, sok alim!"
"Iya sayang, kau memang yang paling cantik. Selain cantik di wajah kau juga pintar bergaya. Mommy suka itu."
"Hmmm, dengan begini Ruby akan semakin mudah mendapatkan kak Daniel. Kita lihat saja nanti."
Kak Daniel akan menjadi milikku.
********
21.00
Acara sudah selesai dan kini semua sibuk beristirahat dan juga membereskan ruangan. Zahra kini tengah duduk di di depan meja rias sembari menyisir rambutnya. Ia memakai daster selutut dengan lengan pendek.
Aku harap dia tidak tidur di sini malam ini. Aku takut.
Tangan Zahra dingin. Ia memandangi dirinya di depan kaca. Dirinya masih muda, masih 17 tahun dan sekarang sudah berstatus menikah. Tak pernah terbayangkan sebelumnya kalau ia akan menikah di usia muda.
Ceklek.
Zahra membulatkan matanya mencari jilbab ketika pintu terbuka. Mana jilbabnya? Zahra bahkan lupa dimana dia menaruh jilbab tadi.
Tidak ada pilihan lain.
Zahra naik ke atas ranjang masuk kedalam selimut membungkus seluruh tubuhnya.
Pandangan nya pun terhenti dengan gundukan selimut. Ia tersenyum sembari berjalan ke arah nakas di samping ranjang dekat Zahra.
"Umi membuatkan susu untuk mu, ayo di minum bunny."
Di dalam selimut, jantung Zahra berdegup kencang mendengar suara Daniel dan juga panggilan bunny Itu.
Daniel meletakkan susu yang ia bawa tadi di atas nakas lalu pergi ke kamar mandi. Sedangkan di ranjang karena tidak mendengarkan pergerakan dari Daniel, akhirnya Zahra memberanikan diri untuk membuka selimutnya. Ia mengintip dan benar saja Daniel tidak ada di dalam kamar.
Zahra menghela nafas panjang lalu melirik susu hangat yang ada di atas nakas.
Apa susu ini aman? Jangan-jangan ada sianida nya.
Oh Zahra, kau terlalu berburuk sangka pada suami mu.
Suami? Hehehehe, aku geli.
Zahra pun mengambil susu itu lalu meminumnya sampai habis. Di saat susu habis, di situ pula Daniel keluar dari kamar mandi. Daniel berjalan mendekati Zahra yang sudah terdiam membeku.
"Sudah habis susunya?" tanya Daniel melirik gelas yang sudah kosong. Zahra mengangguk.
"Seharusnya kau tinggalkan untuk ku setengah, bunny." Daniel tampak terkekeh lalu menatap Zahra dengan tatapan penuh makna.
__ADS_1
"Sepanjang mana rambut mu?" tanya Daniel fokus pada rambut Zahra yang sedikit bergelombang.
"Sa-sampai paha." Bahkan Zahra sudah terlalu gugup untuk menjawab.
"Kau harus memberiku nama panggilan. Aku tidak suka di panggil dengan nama, suamiku, Abang ataupun kakak. Harus yang lain." Zahra menelan ludah kasar, memangnya apa yang ia pikirkan sampai-sampai harus menentukan nama panggilan.
"Apa yah?" Zahra tampak berpikir.
"Pikirkan saja besok, sekarang kita..."
"Tunggu dulu. Jangan sekarang, aku mohon. Nanti saja. Aku belum siap." Zahra memohon dan membuat Daniel menjadi bingung.
"Apanya yang jangan sekarang?" tanya Daniel bingung.
"Kau ingin itu itu kan." Dengan malu Zahra menjawab sembari memainkan jarinya.
Terdengar Daniel tertawa lepas lalu naik ke ranjang membuat Zahra membeku di tempat. Daniel semakin dekat dan dekat sekali hingga tersisa beberapa centi saja sebelum hidung Daniel menyentuh hidung Zahra.
Jantung Zahra berdetak kencang ketika wajah Daniel ada di hadapannya dengan jarak yang terlalu dekat.
"Pikiran mu mesum juga yah, bunny."
Daniel menoel hidung Zahra lalu membaringkan tubuhnya di samping gadis yang masih tercengang itu.
"Ayo tidur, bunny. Aku mengantuk."
Daniel menarik lengan Zahra agar berbaring namun gadis itu terlalu syok dengan apa yang baru saja terjadi.
Ternyata cuma aku yang berpikir mesum. Dasar mesum kau Zahra!
_
_
_
_
_
_
Typo bertebaran dimana-mana harap bijak dalam berkomentar yah
Jangan lupa like komen dan vote dong. 🥺
tbc
__ADS_1