Bimbing Aku Istriku

Bimbing Aku Istriku
Persiapan pernikahan


__ADS_3

Setelah berdebat dengan dua cecunguk tadi, akhirnya Zahra memilih masuk ke dalam butik. Di sana ia mencari-cari dimana nyonya Aisyah.


"Zahra," panggil Aisyah melambaikan tangannya pada Zahra. Gadis itu pun mengangguk lalu berjalan mendekati wanita paruh baya itu.


"Assalamu'alaikum, nyonya."


"Wa'alaikumusalam warohmatullahi wabarakatuh, sayang." Aisyah tersenyum manis ke arah Zahra lalu menarik tangan Zahra untuk masuk.


"Hari ini kita akan memilih pakaian pengantin. Semua pakaian ini adalah pengeluaran terbaru dan di rancang khusus untuk keluarga Raymond. Yah, kalau kita menjahitnya dulu itu akan memakan waktu yang lama sedangkan pernikahan kalian akan di laksanakan besok," papar Aisyah membuat Zahra tersedak air liurnya sendiri.


"Besok?" tanya Zahra syok.


"Iya, setelah perbincangan dengan Abi nya Daniel, maka pernikahan akan di percepat dan hari itu adalah besok. Kita akan melangsungkan acara di gedung hotel milik keluarga Raymond. Kau tidak perlu khawatir, sayang. Semuanya sudah di atur. Kalian berdua hanya tinggal menikah saja," papar Aisyah dengan antusias.


"Apa itu tidak terlalu terburu-buru, nyonya?"


"Shuuutttt, jangan panggil nyonya. Panggil saja Umi, kau akan menjadi menantu ku nanti. Masalah ini terburu-buru atau tidak, ini tidaklah terburu-buru. Lebih cepat lebih baik."


Zahra menelan ludah kasar mendengar perkataan Aisyah. Apa maksudnya lebih cepat lebih baik?


Itu artinya nyawa ku juga akan cepat menghilang.


Para desainer pun langsung mengerjakan tugas yang sudah di beritahukan, mulai dari mengukur baju hingga menemani Zahra untuk memilih warna.


"Oh iya, Zahra. Umi lupa memberitahu mu untuk mengajak ibu mu kemari. Bisa kau hubungi ibu mu supaya bajunya juga ikut di ukur?"


Zahra tersenyum. "Ukuran baju ibu ku sama seperti baju anda, nyonya." Zahra masih belum bisa memanggil Aisyah dengan sebutan Umi.


"Oh kalau begitu akan lebih mudah. Ibu mu juga baru saja sembuh. Baiklah, tolong sediakan satu lagi yang seukuran dengan ku." Aisyah pun mulai berbincang dengan pemilik butik membiarkan Zahra menikmati pemandangan pakaian-pakaian yang mewah dan juga elegan.


Kalau nanti aku sudah punya uang, aku akan membelikan baju yang bagus untuk ibu.


******

__ADS_1


Setelah dari butik, kini Zahra sudah berada di dalam mobil bersama Aisyah. Mereka akan pulang ke mansion.


"Nyonya, apakah ibu saya juga akan di undang?" tanya Zahra terdengar tabu di pendengaran Aisyah.


"Tentu saja. Ibu mu adalah besan ku nanti, tidak mungkin kami tidak mengundang keluarga mu." Aisyah tersenyum sembari mengelus kepala gadis malang yang akan menikah dengan putra monster nya. Ia tahu Zahra pasti berpikir macam-macam tentang pikiran kami yang berkaitan dengan ibu nya. Aisyah sudah tahu identitas Zahra ketika Zahra di nyatakan resmi menjadi koki Daniel, ia tidak akan memilih-milih siapa yang akan menjadi besan dan juga menantunya. Yang terpenting adalah kebahagiaan Daniel.


"Semua surat undangan sudah di sebarkan. Hanya tinggal pelaksanaan nya saja," ujar Aisyah antusias membuat Zahra menganga.


"Setelah itu kalian akan berbulan madu lalu kami akan mendapatkan cucu," lanjut Aisyah benar-benar membuat Zahra syok.


Bulan madu? Cucu? Mungkin kematian yang terlebih dahulu menghampiri ku.


"Oh ya, nyonya. Saya tidak melihat tuan muda tadi di butik. Apa Tuan muda tidak mengukur baju?" tanya Zahra.


"Hahaha, tentu saja sayang. Kalau tidak di ukur nanti bisa kacau acara pernikahan kalian. Tapi, Daniel mengukurnya di rumah. Dia tidak mau keluar rumah, malas katanya."


Dasar pemalas.


"Apa kau merindukan nya?" tanya Aisyah membuat Zahra kembali tersedak air liurnya.


Setelah beberapa menit, akhirnya mobil pun sampai di kediaman Raymond. Para pelayan terlihat sibuk karena besok akan ada acara, jadi mereka menghias mansion untuk menyambut kepulangan pengantin nantinya.


"Oh ya Zahra. Seharusnya Umi tidak membawa mu kemari, sebentar lagi kau bisa pulang dan besok akan ada perias pengantin dan juga supir pribadi yang akan menjemputmu dan ibu mu."


"Baik nyonya."


"Untuk sekarang kau bisa memasak makanan untuk makan siang Daniel, setelah itu kau boleh pulang."


"Selamat, cintaku." Dengan lembut Aisyah mengelus kepala gadis berumur 17 tahun yang akan menjadi istri anaknya yang berumur 23 tahun.


"Semoga kalian bahagia."


****

__ADS_1


Di sisi lain.


"Akhhhhh," teriak Ruby membuang satu persatu barang-barang yang ada di kamarnya.


"Sayang, bersabar lah." Mega mencoba menenangkan putrinya yang mengamuk.


"Apa ini, Mom? Apa ini? Kak Daniel akan menikah tapi bukan dengan ku. Aku tidak terima!" teriak Ruby frustasi.


"Sayang mungkin dia bukan jodoh mu," ucap Mega malah semakin membuat Ruby naik pitam.


"Aku tidak akan datang! Aku tidak akan datang!" teriak Ruby membuang kartu undangan pernikahan Daniel.


"Kalau kau tidak datang, lalu bagaimana kau bisa melihat calon istri Daniel. Siapa tahu calon istrinya itu untuk rupanya dan kau masih punya kesempatan kedua untuk merebut Daniel," ucap Mega membuat Ruby terpengaruh.


"Yah, ya aku akan datang. Aku akan berdandan dengan cantik dan aku akan menjadi ratunya besok. Akan ku pastikan kak Daniel akan terpesona padaku. Aku akan datang, hahahahaha."


"Iya sayang, kita akan datang."


"Aku sudah tidak sabar, Mom. Aku sudah tidak sabar."


Ruby terkekeh membayangkan apa yang akan terjadi di keesokan harinya.


_


_


_


_


_


_

__ADS_1


Typo bertebaran dimana-mana harap bijak dalam berkomentar yah


tbc


__ADS_2