
Ruang bawah tanah.
"Lepaskan!" teriak hantu jadi-jadian mencoba melepaskan ikatan tali di tubuhnya. Malik datang memasuki ruang dengan lengan yang sudah di balut perban. Aura penindasan terpancar dari laki-laki beranak satu itu, kumis nya yang tebal membuat ia terlihat sangat sangar.
"Jadi, apakah dia pekerja di sini?" tanya Malik pada pak Lim. Pak Lim tampak mengangguk dan memberikan sebuah map berisi biodata hantu palsu itu.
"Nama Rianthy Dalbora, status pekerjaan sebagai pelayan di samping mansion yang bertugas membersihkan halaman samping." Malik tampak mengerutkan keningnya mendengar penjelasan dari pak Lim.
"Dalbora? Bukankah keluarga itu termasuk keluarga kaya? Lalu mengapa dia menjadi pelayan di sini?" tanya Malik menatap tajam pada pak Lim.
"Maafkan saya, tuan. Saya lalai, seharusnya saya menyelidiki lebih lanjut untuk identitas nya. Pelayan ini mendaftarkan diri dengan tidak mencantumkan nama belakangnya. Jadi, saya pikir dia hanyalah orang biasa."
Malik berjalan mendekat ke arah Rianthy yang tampak menatapnya tajam. Ia mengambil sarung tangan lalu mencengkeram kuat wajah gadis itu.
"Katakan! Apa tujuan mu?" tanya Malik dengan nada penuh toleransi.
Rianthy tampak tersenyum smirk dan memilih membisu.
"Kau tak mau bicara!" tekan Malik.
"Dia tidak akan bicara, om. Langsung robek saja mulut nya itu!" ketus Dion.
"Ide yang bagus, akan sangat mengasyikkan kalau mendengarkan gadis ini berteriak. Bawa kemari pisaunya!" titah Malik meminta pisau. Dengan sigap Rian memberikan sebuah pisau silet.
"Tunggu, paman!" cegah dokter Setya.
"Biar aku saja yang melakukan nya, jangan kotori tangan paman dengan darah menjijikan nya!" lanjut dokter Setya mengambil alih.
Tampak Rianthy melotot ke arah dokter muda itu, tapi dokter itu mengabaikan nya.
__ADS_1
"Jangan mendekat! teriak Rianthy namun dokter muda itu seolah tuli.
"Aku bilang jangan mendekat!" teriak Rianthy.
"Kalau kau tidak mau aku mendekat, maka katakanlah tujuan mu, girl!"
Rianthy tampak tersenyum smirk Lalu memilih kembali diam.
"Hahahaha, putri keluarga Dalbora menyamar menjadi seorang pelayan. Wah, sangat menakjubkan kalau sampai alasannya adalah kekurangan uang jajan, pasti ada sesuatu. Ada udang di balik batu," ucap dokter Setya.
"Percuma! Percuma kau banyak bicara, dokter muda. Gadis ini harus di beri sedikit kejutan agar mau membuka suaranya."
Malik membawa sebuah alat setrum lalu berjalan mendekati Rianthy yang tampak tegang. Dekat semakin dekat sembari memperlihatkan bentuk dari alat strum itu.
"Jangan mendekat kalian para bajingan!" teriak Rianthy meronta-ronta ingin melepaskan diri dari tali yang mengikatnya.
"Kami akan tetap mendekat," ucap dokter Setya tersenyum meledek.
"Kau sudah membunuh orang yang tidak bersalah di sini! Jadi, kau harus membayarnya dengan rasa sakit sebelum kematian mu!" tekan Malik.
"Jangan! Tolong jangan lagi!" teriak Rianthy.
"Katakan apa tujuan mu?" tanya dokter Setya
"Tidak ada!" jawab Rianthy setengah berteriak.
"Akhhhhh!" teriak Rianthy ketika alat strum kembali mengenai kulitnya.
"Katakan!"
__ADS_1
"A-aku menyukai Daniel," jawab Rianthy gugup. "Itulah mengapa aku menyamar menjadi pelayan karena ingin berdekatan dengan Daniel, tapi...tapi dia malah menikahi gadis itu! Seharusnya aku yang di sana, bukan dia!" papar Rianthy membuat para pria itu terkejut.
"Cih, banyak sekali penggemar pshycophat tampan itu," gerutu Dion.
"Oh, jadi karena itu kau menakuti kakak ipar. Agar ia gila dan pergi dari Daniel?" tanya Dion.
"I-iya. Aku ingin dia menjadi gila dan Daniel akan menceraikan nya, aku benci dengannya dari pertama ia masuk kerja di sini. Terlihat kalau dia itu berbeda, dari tempat tidur dan juga perlakuan. Aku benci itu!" jelas Rianthy dengan amarah yang berkobar-kobar.
"Selain itu? Apalagi tujuan mu?" tanya Malik.
"Tidak ada. Aku hanya ingin dekat dengan putra mu," jawab Rianthy.
"Kalau begitu, kau harus mendekam di penjara seumur hidupmu dengan dugaan pembunuhan berencana! Kami tidak akan melukaimu ataupun membunuhmu, itu terlalu mudah untuk kau lewati. Lebih baik kau mendekam dan menderita di dalam penjara agar kau menyesal akan perbuatan mu!" tegas Malik.
"Tidak! Tidak! Jangan penjarakan aku! Bunuh saja aku!" teriak Rianthy ketika para pria itu pergi meninggalkan ruang bawah tanah.
"Argghhh!! Ini semua gara-gara gadis itu. Aku berharap kau akan menderita seumur hidup mu walau bukan aku penyebabnya. Aku berharap akan itu!" teriak Rianthy menggema di ruang bawah tanah.
****
Hai author menyapa!
Maaf karena telat up yah, sebab author kan sedang ada masalah nih. jadi, di selesaikan dulu.
oleh karena itu author dah up 2 eps untuk kawan-kawan, semoga terobati rindunya pada bang Daniel 😅
typo bertebaran dimana-mana harap bijak dalam berkomentar yah
jangan lupa like komen dan juga vote yah agar author makin semangat up nya.
__ADS_1
tbc