Bimbing Aku Istriku

Bimbing Aku Istriku
Terlalu percaya diri


__ADS_3

Dua Minggu Kemudian.


20.00


Pesta Raymond Family pun di adakan, dengan begitu banyak persiapan matang membuat pesta itu tergelar dengan mewah dan juga akan berkesan bagi siapa yang menjadi tamu undangan. Para pengusaha, artis dan juga kalangan dokter maupun sahabat sudah mulai memenuhi gedung hotel milik Raymond Family.


Sengaja di adakan di hotel karena untuk mengantisipasi jika ada tamu yang tidak sanggup pulang karena lelah dan akan memilih menginap di hotel.


Jika di luar sedang ada penyambutan tamu, maka di kamar hotel dua insan kini saling menatap. Zahra menatap kagum ke arah suaminya yang memakai setelan formal, sangat tampan dan berkarisma, pikirnya.


"Ck, lepaskan saja pakaian ini! Menyebalkan!" gerutu Daniel tidak suka memakai pakaian formal.


"Jadi Hubby mau pakai pakaian apa ke sana nanti? Pakai kaos dan celana pendek?" ledek Zahra tersenyum ke arah suaminya yang tampak masih cemberut.


"Itu lebih bagus. Lagi pula ini kan pesta keluarga kita, untuk apa terlalu memikirkan penampilan?"


"Hubby tidak boleh begitu. Meskipun ini pesta kita tapi rasa menghargai itu harus ada," ucap Zahra menasehati suaminya sembari membenarkan dasi dan juga jas Daniel yang terlihat berantakan karena suaminya yang kesal dan ingin mengganti pakaiannya.


"Honey, cium." Daniel memanyunkan bibirnya.


Cup.


Satu kecupan mendarat mulus di bibir Daniel membuat laki-laki itu semakin melonjak kesenangan.


"Lagi," pinta Daniel sembari menunjuk pipinya. Dengan cepat Zahra menuruti kemauan suami manja nya itu.


"Di sini," tunjuk Daniel pada lehernya. "Di gigit yah. Tinggalkan bekas di sini," ucap Daniel semakin membuat Zahra kewalahan. Ia pun menggigit leher suaminya hingga meninggalkan bekas kemerahan di sana.


"Hubby, bekas nya kelihatan." Zahra menunjuk bekas kemerahan di leher Daniel yang terlihat sangat jelas.


"Sengaja." Daniel tersenyum puas lalu duduk di atas ranjang menatap istrinya yang masih berdiri.


"Kau cantik sekali, honey." Daniel menatap kagum pada istrinya yang memakai gamis warna senada dengan pakaian Daniel.


"Sudah beberapa menit bahkan hampir satu jam aku berdiri di sini. Hubby baru memujiku," gerutu Zahra cemberut.


"Sengaja," jawab Daniel terkekeh.


"Hubby keluar saja duluan, " ucap Zahra berjalan ke arah nakas.

__ADS_1


"Kau marah, honey?" tanya Daniel berjalan ke arah Zahra memeluk istrinya dari belakang sembari mengelus perut Zahra.


"Tidak. Aku tidak marah, tapi hanya ingin menghubungi ibu terlebih dahulu. Nanti, kalau sudah selesai aku akan keluar," jawab Zahra.


"Baiklah, sampaikan salam pada ibu yah." Daniel mengecup pucuk kepala Zahra lalu pergi meninggalkan Zahra sendiri di dalam kamar.


Zahra mengambil ponselnya lalu menghubungi ibunya. Ia berharap ibunya ada di sini, ia sangat rindu pada wanita yang ia cintai itu. Sayangnya ibunya menolak untuk hadir di pesta karena takut akan bertemu dengan laki-laki pengusaha yang pernah di layani ibunya.


Ibunya tak ingin mencoret nama baik Zahra di depan banyak orang.


Ruang pesta.


Para tamu undangan masih terus berdatangan, keluarga Nonik sudah tiba dan kini tengah duduk di meja yang sudah di sediakan.


"Bu, gedung nya sangat mewah," puji Zaki kagum melihat betapa besarnya ruangan yang sedang mereka tempati dan juga betapa mewahnya dekorasi maupun makanan yang di hidangkan.


"Iya, ini sangat mewah dan juga berkelas. Untungnya kita memakai pakaian yang mahal," ucap Nonik bangga.


"Ibu, ayah, nenek. Apa Silvi sudah cantik?" tanya Silvi membenarkan gaunnya.


"Kau sangat cantik sayang, ibu yakin pasti akan banyak pemuda kaya yang akan tertarik padamu. Dan semoga itu adalah putra dari keluarga Raymond," ucap Lia membuat Silvi merasa terbang ke atas langit.


"Mana mungkin dia datang kemari," jawab Lia dengan nada mengejek.


"Tapi dengar-dengar dia menikah dengan pengusaha kaya, bisa jadi dia akan hadir."


"Kalaupun dia menikah dengan pria kaya pastinya pria tua, perut buncit, kepala botak. Itu akan memudahkan kita untuk menjatuhkan gadis hina itu," ucap Zaki di angguki oleh Silvi.


Ia sangat bahagia hati ini karena penampilan nya yang sangat cantik menurutnya.


"Bu, itu siapa?" tanya Silvi sembari menunjuk dengan ekor matanya pada gadis dengan style hijab modern.


"Tidak tahu," jawab Lia.


"Dia cantik," puji Zaki tanpa sadar membuat ketiga wanita yang ada di dekatnya melotot tak suka.


"Mana lebih cantik? Silvi atau dia?" tanya Silvi penuh penekanan.


"Tentu saja putri ayah." Silvi tersenyum smirk. Ia menatap gadis yang ada di ujung sana yang sedang berbincang dengan beberapa pria tampan. Ia menjadi iri dengan gadis itu.

__ADS_1


Di ujung ada Ruby yang baru saja tiba dengan style hijab modern nya. Yah, gadis yang di tatap Silvi adalah Ruby. Kini gadis itu tengah mengobrol dengan teman laki-laki nya.


******


Tamu-tamu masih berdatangan. Semua masih menikmati acara ngobrol dan juga menikmati hidangan mewah.


"Bu, Silvi ingin ke kamar mandi," ucap Silvi.


"Yasudah, pergi sana. Hati-hati yah," ucap Lia tersenyum manis pada putrinya.


Silvi pun pergi mencari letak kamar mandi dengan menanyakan nya pada salah satu pelayan.


Setelah mendapatkan informasi dimana letak kamar mandi, gadis itu langsung pergi ke kamar mandi dan menunaikan hajatnya.


Setelah dari kamar mandi, Silvi berniat pergi ke ruang pesta. Namun, di perjalanan ia tak sengaja melihat seseorang yang sangat ia benci.


"Anak pelacur!" panggil Silvi membuat langkah kaki wanita yang ada di hadapannya terhenti. Silvi tersenyum smirk, ternyata benar itu adalah Zahra. Ia harus bermain-main terlebih dahulu sebelum menikmati pesta.


_


_


_


_


_


_


Waduhhhhh..


Apa yang akan terjadi yah🤔


jangan lupa like komen dan juga vote, serta hadiah nya...


Hei darling, yang baca tapi kagak like.. Like dong biar author makin semangat 🥰🥰


typo bertebaran dimana-mana harap bijak dalam berkomentar yah

__ADS_1


tbc.


__ADS_2