Bimbing Aku Istriku

Bimbing Aku Istriku
Sepiring berdua


__ADS_3

Masih di dapur.


"Serius."


"Yes, my bunny. Aku ingin memakan mu." Daniel terkekeh geli. Sungguh puas mengerjai istrinya dan kini gadis itu tengah gemetar ketakutan.


"Tapi, aku tidak enak."


"Kau enak." Daniel ingin rasanya tertawa lepas melihat ekspresi wajah Zahra. Apa gadis ini benar-benar tidak tahu maksudnya. Oh ya, istrinya itu berusia 17 tahun bisa dikatakan masih di bawah umur untuk mengerti hal-hal seperti ini.


"Hahahaha, aku ingin makan makanan yang pedas," ucap Daniel tertawa berhenti menggoda gadis yang sudah menjadi istrinya itu.


"Bagaimana kalau kita makan mie goreng, aku ingin makan mie goreng.," saran Zahra.


"Boleh."


Zahra pun mengangguk dan mulai memotong bahan-bahan masakan yang akan ia masak. Pergerakan nya sedikit terganggu karena Daniel masih terus memeluk nya.


"Apa hubby pernah memeluk wanita lain?" tanya Zahra memecah keheningan. Zahra merutuki kebodohannya, bisa-bisanya ia menanyakan hal yang seperti itu. Bagaimana kalau suaminya marah. Tapi ia juga penasaran. Karena di jaman sekarang, laki-laki tampan itu pasti pernah pacaran.


"Pernah."


Deg


Zahra hanya diam, ia tak ingin melanjutkan. Bukan karena cemburu, tapi karena ia tak ingin menciptakan sebuah masalah.


"Bahkan tidur dengan wanita pun aku pernah. Kau pasti sudah pernah mendengar itu kan. Aku tidak akan memaksa mu untuk menerimaku dengan masa lalu ku yang kelam. Aku hanya ingin kau tahu, aku menerima mu apa adanya. Aku akan berusaha berubah."


Yah, Zahra tahu itu. Rianthy pernah mengatakan bagaimana masa lalu Daniel padanya. Tentang Daniel yang pernah membunuh bahkan memperkosa wanita.


"Apa Hubby Ingin berubah?" tanya Zahra.


"Iya, aku ingin berubah. Kau tahu, aku selalu mencoba untuk mengontrol hasrat yang ada di jiwa ku. Aku sudah mencoba, tapi hasrat itu belum kunjung hilang. Aku ingin hidup normal, keluar bersama teman-teman ku tanpa pengawal dan juga di mata-matai. Aku ingin kebebasan."


Hati Zahra serasa di pukul mendengar perkataan Daniel. Pasti sangat berat menjalani hidup dengan semua keterbatasan. Kau di sini kau akan di awasi. Kau di sana kau juga akan di awasi.

__ADS_1


"Kalau begitu biar kan istrimu ini membantu." Daniel tersenyum semakin mengeratkan pelukannya.


"Iya bantu aku, sayang. Bantu aku untuk bisa melupakan masa lalu dan berjalan di masa depan dengan benar. Bantu aku agar selalu mengingat bahwa Allah selalu memperhatikan semua apa yang kita lakukan. Bantu aku mengingat bahwa semua perbuatan akan di pertanggungjawabkan. Bantu aku, bimbing aku, istriku."


"Aku akan membantu mu, suamiku. Aku akan membantumu. Selama kau berniat untuk berubah aku akan berusaha untuk selalu membantu mu."


"Terimakasih." Daniel merasakan sesuatu yang hangat menyelimuti perasaannya. Ia sangat bersyukur karena bisa memiliki Zahra di samping nya.


******


Makanan sudah siap, sepiring mie goreng pedas sudah tertata rapi di atas meja. Mengapa hanya sepiring? Itu karena Daniel ingin makan sepiring berdua, segelas berdua, sesendok berdua.


"Hubby, biarkan aku makan di piring lain saja." Zahra merasa kalau mereka makan sepiring ia yakin mie goreng itu akan sulit ia telan nantinya.


"Tidak boleh."


Zahra hanya pasrah, ia duduk di samping Daniel menatap sang suami yang sedang menyendoki mie goreng dan mengarahkan kepada-nya.


"Ayo makan, panda. Tubuhmu terlalu kurus," ucap Daniel membuat Zahra cemberut. Ia pun membuka mulutnya lalu melahap mie goreng yang di suapkan suaminya untuknya.


"Enak?" tanya Zahra.


Daniel mengangguk sembari mengunyah. "Apapun yang di masak panda ku pasti enak."


"Terimakasih pujiannya."


Mereka pun makan dengan romantisnya, saling menyuapi hingga mie sendokan terakhir. Karena Zahra tadi tidak terlalu fokus memasak ia terlalu banyak menaruh cabai dan alhasil mereka berdua kepedasan.


Sesaat kemudian.


Mereka berdua sudah ada di dalam kamar, bibir Zahra sedikit membengkak namun tidak dengan Daniel yang terlihat sudah santai. Laki-laki itu kuat sekali makan pedas.


"Hmmm, my hubby. Apakah kita akan pulang hari ini?" tanya Zahra.


"Iya, kita akan pulang hari ini."

__ADS_1


"Panda," panggil Daniel melirik istrinya yang duduk di atas ranjang.


"Iya."


"Kemarilah."


Zahra pun berjalan mendekat duduk di sofa tepatnya di samping Daniel.


"Ada apa?" tanya Zahra.


"Berapa anak yang kau inginkan?"


Duarrrr


Bagaikan petir di siang bolong. Ingin rasanya Zahra berteriak sembari melompat. Ada-ada saja pertanyaan yang keluar dari mulut laki-laki yang ada di hadapannya itu.


"Aku...Aku belum berpikir ke arah anak. Itu terlalu jauh," ucap Zahra.


"Benarkah? Tapi, aku sudah memikirkan nya. Aku ingin anak yang banyak. Aku ingin melihat mereka merangkak banyak-banyak di lantai nanti. Hahaha, pasti menyenangkan melihat mereka seperti anak kucing."


Zahra menelan ludah kasar, bagaimana bisa laki-laki itu bercita-cita ingin punya banyak anak. Mengapa tidak dia saja yang mengandung. Jangankan mengandung, untuk malam pertama saja ia masih gemetaran.


_


_


_


_


_


_


Typo bertebaran dimana-mana harap bijak dalam berkomentar yah

__ADS_1


tbc


__ADS_2