
Keenam manusia itu kini mulai kebingungan. Tidak ada orang dan pintu juga tidak terbuka. Lalu suara apa tadi dan dimana dua sandera mereka?
"Auww, ayah. Sakit sekali," ringis Silvi tak kuat menahan sakit di lengannya. Entah mengapa semakin lama sakit yang ia rasa semakin kuat menyebar keseluruhan tubuhnya.
Zaki menggapai putrinya lalu merobek kemejanya dan membalut luka di lengan Silvi. Dengan cahaya yang yang tidak terlalu terang ia mencoba menghentikan pendarahan di lengan anaknya.
"Ayo kita berjalan pelan-pelan menuju pintu," ucap Glen membimbing jalan menggunakan senter ponselnya.
Pelan-pelan mereka berjalan mendekati pintu hingga tangan Glen menggapai gagang pintu lalu mencoba membuka pintu, namun pintu terkunci dari luar. Ada yang sengaja mengunci mereka.
"Sialan! Buka pintunya!" teriak Glen menendang pintu dengan keras. Berani-beraninya mereka menguncinya di dalam ruangan gelap ini. Pasti ada musuh di sini, pikir Glen.
"Bagaimana ini?" tanya Ruby cemas. Ia tak ingin sesuatu yang berbahaya mengenainya, apalagi melihat luka di lengan Silvi semakin membuat ia ingin cepat-cepat keluar dari ruangan gelap ini.
"Iya, bagaimana ini? Kita harus segera keluar agar luka Silvi bisa diobati," sahut Nonik khawatir pada cucunya.
"Tak bisakah kalian diam! Ini semua karena kalian terlalu bodoh!" hardik Glen.
"Kau yang bodoh, sialan! Kau dengan sombong merencanakan semua ini seolah kau akan berhasil. Ternyata kau adalah orang payah," balas Lia tak terima.
"Beraninya kau!" teriak Glen.
"Sudah! Apa kalian akan terus bertengkar! Ini bukan saatnya. Kita harus mencari cara untuk keluar dari sini. Kau dan kau, kalian berdua laki-laki. Jadi, dobrak pintunya!" perintah Ruby agar Glen dan Zaki mendobrak pintu.
"Ck ck, mengapa terburu-buru keluarnya?"
Keenam orang itu langsung membalikkan tubuh mereka membelakangi pintu saat seseorang berbicara dari arah belakang. Glen mengarahkan senter ponselnya ke penjuru ruangan hingga terhenti pada sosok yang berdiri di sudut ruangan.
"Hantu," gumam Silvi.
"Siapa kau?" tanya Glen mencoba sedikit berjalan mendekat untuk bisa melihat wajah sosok yang ada di sudut ruangan.
Dorr
Satu tembakan melesat mengenai paha kanan Glen membuat laki-laki itu meringis kesakitan dan menjatuhkan ponselnya.
Klik
Lampu menyala, terlihatlah apa yang mestinya di lihat. Sosok yang berdiri di sudut ruangan tersenyum menyeringai sembari meniup ujung pistolnya.
"Ka-kak Daniel," gumam Ruby gemetaran ketika melihat sosok itu adalah laki-laki pujaannya. Jika, Daniel melihatnya pastinya laki-laki itu akan membencinya. Ia harus mencari akal agar terselamatkan dari tindak kriminal ini.
__ADS_1
"Sialan kau!" teriak Glen mencoba berdiri.
Dorr.
Satu tembakan lagi melesat mengenai paha kiri Glen, membuat laki-laki itu terjatuh kelantai menahan sakit di kakinya.
Daniel memasukkan pistolnya ke dalam saku lalu mengeluarkan benda kesayangannya.
Sebuah pisau kecil.
Daniel berjalan mendekati Glen yang masih terkapar di lantai menahan rasa sakit. Dengan kuat laki-laki itu menginjak perut Glen. Tangan kirinya mencekik leher Glen sedangkan tangan kanannya masih menganggur.
"Kau mengharapkan aku datang, bukan? Kau mencoba menculik istriku dan mencoba melakukan negosiasi dengan ku. Kau pikir aku bodoh! Aku ini sangat pintar," ucap Daniel tersenyum senang ketika Glen tak bisa mengeluarkan suara.
"Karena kau begitu mengidolakan ku hingga berbuat nekat agar bisa bertemu dengan ku, maka aku akan memberikan hadiah."
Dengan pelan Daniel menancapkan mata pisau di bagian dada Glen, lalu Adegan di potong karena dianggap terlalu sensitif demi keamanan dan kenyamanan kita semua!
"Argghhh!!" teriak Glen ketika tubuhnya menerima berbagai sayatan maupun tusukan dari pisau kecil Daniel. Kelima orang yang tersisa merinding melihat adegan di hadapan mereka. Rasanya mereka ingin cepat-cepat keluar agar tak berhadapan dengan Daniel, namun pintu yang terkunci dari luar membuat mereka semakin kebingungan dan ketakutan.
Daniel tertawa keras melihat wajah Glen yang tersiksa, dengan senyuman penuh kepuasan ia berdiri tegap lalu membiarkan tubuh Glen tergeletak bernyawa begitu saja.
"Kita mulai dari mana yah? Siapa yang ingin aku berikan hadiah terlebih dahulu?"
"Kak Daniel, maafkan aku. Aku bersalah. Mereka memaksa ku untuk bekerjasama dengan mereka. Padahal aku tidak mau," jelas Ruby sembari menangis sesegukan.
"Dasar jalang! Bermuka dua! Kau lah dalang dari semua ini, bukankah kau yang ingin memiliki Daniel dan berencana membunuh Zahra!" teriak Silvi.
"Diam kau sialan! Mana mungkin aku seperti itu? Aku ini adalah wanita yang baik. Orang tua ku selalu mengajarkan ku perbuatan baik," tangis Ruby berharap Daniel percaya padanya.
"Benarkah? Kalau begitu, kemarilah." Daniel menjentikkan jarinya sembari memasang wajah ramah dan senyuman manisnya.
"Kak Daniel." Ruby masih tak percaya, hanya dengan sedikit drama saja ia berhasil menarik kepercayaan Daniel.
Dengan cepat Ruby berjalan mendekati Daniel yang masih tersenyum, harap-harap ia akan di sambut dengan hangat, namun gadis itu malah mendapatkan satu tembakan di area perut.
Ruby menghentikan langkahnya sembari memegangi perutnya yang mengeluarkan darah dan rasa sakit yang mulai menyebar ke seluruh area tubuhnya.
"Kau cantik dan juga baik, tapi hati mu buta sehingga kau melakukan kejahatan ini. Aku tidak akan membuatmu seperti laki-laki sampah ini, karena kau tak menyentuh istriku. Tapi, akan ku pastikan kau mendekam di penjara dengan keadaan menyedihkan. Akan ku pastikan itu," papar Daniel menatap datar ke arah Ruby yang terjatuh ke lantai dan akhirnya pingsan.
"Mereka berdua sudah tidur, lalu bagaimana dengan kalian? Siapa yang ingin aku kuliti terlebih dahulu?"
__ADS_1
Daniel kembali memasang wajah manisnya dengan senyuman sejuta Watt, ia berjalan perlahan mendekati ke empat orang yang tersisa.
"Jangan lakukan itu, tuan. Zahra pasti tidak akan menyukainya, ia akan membencimu," tegur Zaki.
Dorr.
Satu tembakan mengenai bahu Zaki membuat pria itu meringis kesakitan.
"Jangan pernah kalian menyebut nama istriku dengan mulut kotor kalian! Kalian berencana ingin membunuhnya, bukan? Kalian memang manusia biadab! Orang-orang seperti kalian harusnya mati dengan cara mengenaskan. Tapi, karena aku ini adalah laki-laki yang baik maka aku akan membuat kalian hanya mendekam di penjara saja." Daniel kembali tersenyum setelah memasang wajah datarnya ketika menembak bahu Zaki.
"Dalam keadaan tak utuh," lanjutnya membuat keempat orang itu mencoba mendobrak pintu dengan sekuat tenaga mereka. Jantung mereka terasa copot ketika Daniel semakin mendekat dengan memegang pisau kesayangannya.
"Seseorang tolong kami! Ada orang gila di sini!" teriak Zaki terus menendang pintu.
"Kemarilah Darling, biarkan aku menguliti tubuh kalian. Ini pasti sangat menyenangkan," ucap Daniel semakin dekat membuat keempat orang itu berteriak histeris meminta agar pintu di buka.
_
_
_
_
_
_
Ada yang di potong kan?
Itu karena memang sadis kali loh. Author aja pas nulis ngilu, sampai jeda-jeda loh nulis nya. takutnya di tolak loh🥺 kalau gak di potong
Tapi gak apa lah.
belum habis nih😅
besok yah👍
Jangan lupa like komen dan juga vote serta hadiah nya teman-teman.
typo bertebaran dimana-mana harap bijak dalam berkomentar yah
__ADS_1