
Hari ke hari di lalui dengan suka maupun duka. Hari ini Zahra sudah akan melahirkan, kepanikan di wajah Daniel sangat terlihat. Ia pernah membaca sebuah cerita dimana beberapa wanita yang melahirkan bisa saja meninggal.
Ia berdoa di dalam hatinya, semoga saja istrinya dan anaknya nanti baik-baik saja. Ia belum cukup baik untuk bisa hidup sendiri dan tak akan bisa baik untuk merawat anaknya tanpa istrinya.
Sudah lebih dari 20 menit pintu ruang operasi di tutup. Zahra akan melahirkan lewat operasi Caesar. Karena kondisi tubuh yang tidak memungkinkan wanita itu untuk melahirkan secara normal.
Wajah Daniel sedari tadi tampak pucat, ia bahkan tidak tahu bagaimana sakitnya melahirkan. Tapi, ia pernah membaca artikel bahkan menanyakan langsung pada Umi nya bagaimana sakitnya saat melahirkan. Mendengar penjelasan Umi nya, Daniel semakin takut jika terjadi sesuatu yang buruk pada istri dan anaknya nanti.
"Minumlah," ucap Malik memberikan sebotol air mineral pada Daniel. Laki-laki tampak kasihan melihat putranya yang sedari tadi tak berhenti-henti nya bergumam.
Daniel pun mengambil air mineral yang di berikan Malik lalu meneguk setengah air di botol.
Malik yang melihat anaknya begitu khawatir merasa tersindir. Sewaktu Aisyah melahirkan yang ia khawatirkan hanya istrinya saja, selain itu ia tak peduli. Mau anaknya hidup atau mati ia sangat tidak peduli.
Sungguh ayah yang sangat gagal dan mengerikan. Semoga Daniel akan menjadi ayah yang baik untuk anak-anak nya kelak.
"Umi, apa sesakit itu?" tanya Daniel sekali lagi pada Aisyah. Sungguh di dalam hatinya ia sangat-sangat takut jika terjadi sesuatu yang buruk.
"Hm, jangan khawatir sayang. Yakinlah bahwa istrimu kuat. Kau juga harus kuat, yah."
"Iya, umi."
Saras yang melihat menantunya khawatir tersenyum bahagia, akhirnya ada juga orang-orang baik yang mau menerima mereka. Semoga saja putrinya akan tetap bahagia bersama keluarga kecil mereka nanti.
Beberapa menit terasa sesak bagi Daniel, lamanya proses persalinan membuat ia tak henti-hentinya berjalan kesana-kemari.
Sampailah pintu ruangan terbuka, Daniel dan lainnya langsung menghampiri Bu dokter.
"Bagaimana keadaan istri saya?" tanya Daniel sembari mencoba mengintip ke ruangan.
"Tenangkan diri anda, tuan. Semua baik-baik saja, sekarang istri dan buah hati anda sedang di bersihkan." Penjelasan Bu dokter membuat Daniel sedikit menghela nafas lega. Namun, kekhawatiran nya belum hilang sebelum bertemu langsung dengan istrinya.
__ADS_1
"Cucu kami berjenis kelamin apa?" tanya Aisyah dengan mata berbinar.
"Perempuan, nyonya."
"Alhamdulillah," ucap mereka serentak.
Beberapa menit kemudian. Akhirnya Daniel bertemu dengan Zahra. Istrinya kini tengah beristirahat, sembari menunggu istrinya bangun. Ia memandangi buah hatinya yang mungil yang kini berada di gendongan Umi-nya.
Daniel masih mengingat momen ketika ia mengadzani putri nya. Sangat mengharukan. Ia yang seorang laki-laki bejat, kini mempunyai putri yang cantik yang harus ia lindungi dan di didik dengan benar.
"Mau coba gendong?" tawar Aisyah.
"Tidak, umi." Daniel langsung menolak. Melihat tubuh mungil putrinya membuat ia takut jika nanti ia tak sengaja menekan terlalu keras ataupun salah gendong.
"Kenapa? Kau harus membiasakan diri. Jika nanti Zahra kelelahan kau bisa membantunya menjaga si mungil ini," papar Aisyah.
"Tidak, umi. Nanti saja."
"Yasudah."
Ia bahkan sudah punya putra, tapi ia tidak pernah tahu bagaimana rasanya menggendong bayi.
Ingin rasanya ia menggendong bayi yang ada di gendongan Aisyah, tapi ia tidak berani.
"Abi, mau gendong?" tawar Aisyah tersenyum geli melihat suaminya yang tampak fokus pada bayi di gendongan nya.
"Tidak, Umi. Nanti saja."
"Hm, kalian berdua jawabannya sama. Dasar anak dan ayah sama saja."
****
__ADS_1
Beberapa jam kemudian, Zahra sudah bangun dan kini tengah mengobrol ringan dengan ibunya. Ia sudah melihat putrinya tadi. Air matanya mengalir karena terharu. Ternyata ia sudah menjadi seorang ibu. Ia harus menjadi ibu yang baik dan juga bisa mendidik putrinya dengan baik.
Kini bayi kecilnya sudah tertidur pulas. Hanya ada ia dan juga Saras beserta bayi kecilnya. Aisyah pergi bersama Malik untuk membersihkan diri dan juga membawa apa yang di butuhkan Zahra. Sedangkan Daniel pergi membeli makanan yang diinginkan Zahra sekarang.
"Selamat yah sayang. Sekarang kau sudah menjadi ibu. Putri ibu kini sudah dewasa." Dengan mata berkaca-kaca Saras membelai rambut Zahra dengan hangat.
"Ini semua karena ibu."
Saras mengecup kening Zahra "itu karena putri ibu sangatlah hebat."
"Ibu," lirih Zahra terharu. "Zahra mencintai ibu," ucap Zahra.
"Ibu juga mencintai putri cantik ibu."
_
_
_
_
_
_
_
slow up
jangan lupa like komen dan juga vote.
__ADS_1
Typo bertebaran dimana-mana harap bijak dalam berkomentar yah
tbc.