
Warning!!!
Sebelum membaca author ingin mengingatkan. Mari sama-sama kita mendoakan para saudara&I Kita yang kini tengah tertimpa musibah. Kalau kita tidak bisa membantu dengan uang, pakaian dll. Cukup bantu melalui doa setelah shalat kita.
Semoga saudara&I kita di beri ketabahan dan kekuatan serta keselamatan :(
#Pray for Indonesia
**********
Happy reading
Keesokan harinya.
Zahra kini sedang berada dalam kamar di rumah nya, ia sudah selesai shalat subuh dan kini masih terduduk di sajadah sembari termenung.
"Hari ini aku akan menikah. Kalau ini yang terbaik. Ya Allah, kuatkan hamba." Zahra menyeka air matanya dengan mukenah nya. Ia berdiri dan membereskan peralatan shalatnya.
"Tenanglah Zahra, hanya perlu tersenyum dan selalu ingat kepada Allah. Yakinlah sang maha penyayang sedang memberikan jalan yang terbaik."
Tok...Tok...Tok...
Suara pintu di ketuk, Zahra pun pergi untuk membuka pintu kamar.
"Ibu."
"Para perias sudah datang sayang, cepatlah." Terlihat raut wajah sendu dari wajah Saras yang akan menyaksikan anaknya kembali berkorban untuknya.
"Baiklah, ibu juga harus berkemas." Zahra tersenyum pada ibunya menunjukkan bahwa ia baik-baik saja. Tak perlu ada yang di khawatir kan dari dirinya,semua akan berjalan dengan semestinya.
*****
Setelah beberapa jam proses merias dan juga pemakaian gaun, sekarang Zahra sudah benar-benar siap untuk menikah. Wajah nya yang memang cantik alami seperti ibunya, kini semakin cantik dan juga elegan dengan polesan make up tipis.
Zahra menolak untuk memakai make up yang tebal walau para perias itu sudah profesional dan pastinya hasilnya akan sangat bagus. Ia tak ingin tabarruj dengan memakai polesan yang tebal.
"Kau cantik sekali sayang," puji Saras menatap sang putri yang tak lama lagi akan menyandang status sebagai seorang istri.
"Ibu juga cantik," puji Zahra sangat suka melihat ibunya berpakaian tertutup dan juga besar seperti Aisyah.
"Ibu sangat cantik, tetaplah seperti ini." Zahra memeluk sang ibu, ia ingin menangis menumpahkan segala kegundahan hatinya, namun ini adalah hari bahagia jadi ia harus menahannya.
Supir sudah siaga di depan rumah, acara akan di mulai pukul 08.00 pagi dan sekarang sudah pukul 7 lebih.
Zahra dan Saras berjalan menuju mobil, si sana sudah ada mobil dan juga beberapa pengawal yang akan menggiring mereka sampai ke tempat acara.
__ADS_1
Langkah kaki Zahra terhenti ketika melihat empat orang yang menyusahkan ada di halaman rumah.
"Ho...Ho...Ho... Lihat ini! Kalian mau kemana dengan pakaian seperti itu," sinis Lia di baringi tatapan mengejek dari Silvi, ayahnya dan juga neneknya.
"Bukan urusan kalian! Seharusnya kalian ini pergi bekerja atau mencari kegiatan lainnya, bukan malah datang pagi-pagi ke rumah orang. Dasar tidak punya kerjaan!" ketus Saras. Ia tak mau para pengganggu ini mengacaukan hari bahagia putrinya.
"Hei pelacur! Berani sekali nada bicara mu!" teriak Lia tak suka.
"Dilihat dari baju yang kalian pakai, si anak pelacur ternyata akan menikah. Dengan siapa yah?" sinis Silvi tertawa mengejek.
"Jangan-jangan dengan om-om," tawa mereka berempat.
"Jangan dengarkan mereka sayang, anggap saja mereka itu angin atau batu. Ayo kita pergi, " ucap Saras membantu Zahra untuk naik ke dalam mobil.
"Hei kalian! Beraninya...."
Lia ingin maju dan berniat mendorong Saras namun para pengawal yang sedari tadi diam langsung menghadang.
"Jaga jarak anda dengan nona kami atau sekujur tubuh anda akan mati rasa!" tegas pengawal itu membuat nyali Lia menciut.
Mobil pun akhirnya berjalan meninggalkan rumah dan juga keempat orang yang tidak punya pekerjaan lain selain menggangu Saras.
"Ibu, kira-kira dengan siapa anak pelacur itu akan menikah?" tanya Silvi tak terima. Dari bahan pakaian yang di pakai Zahra terlihat calon suaminya adalah orang kaya.
"Palingan juga dengan laki-laki beristri, mereka kan jalang." Lia tersenyum sinis.
Keempat orang itu akhirnya pergi meninggalkan rumah Saras dengan sebuah rencana yang akan di susun dengan matang. Sebuah rencana pembalasan.
*****
Gedung hotel Raymond Family.
Zahra kini berada di ruang tunggu bersama Saras dan juga Aisyah. Tidak banyak tamu yang di undang karena Daniel tidak suka kalau terlalu banyak orang yang akan menjilatinya ataupun Abi-nya nanti. Jadi, hanya kerabat dan juga teman-teman dekat yang di undang.
Acara akad akan segera di mulai. Karena paman Zahra tidak mungkin menjadi wali karena pertikaian antara keluarga, akhirnya Zahra akan menikah dengan wali hakim.
Lantunan ayat suci terdengar dari luar ruangan, suara yang merdu mampu membuat hati yang mendengarkan nya menjadi tentram. Tampak Aisyah menyeka air matanya mendengar suara Daniel yang kini tengah melantunkan ayat suci Al-Qur'an khususnya surah Ar-Rahman.
Ya Allah, jika ini adalah yang terbaik maka kuatkan hamba. Tabahkanlah hati hamba, lindungi hamba.
Ijab qobul pun di mulai, dengan lantang Daniel mengulang ucapan bapak penghulu. Jantung Zahra berdebar kencang, tangannya seketika semakin dingin.
"Bagaimana para saksi? Sah?"
"Sah."
__ADS_1
Lolos sudah, air mata Zahra lolos begitu saja. Ia memeluk sang ibu yang juga ikut terisak.
"Jangan menangis sayang, ibu ada di sini."
Aisyah yang menyaksikan itu mengerti bahwa ini adalah sebuah keputusan yang berat. Tapi, ia yakin Daniel tidak akan berbuat jahat pada Zahra. Ia harap kehadiran wanita itu akan membawa perubahan pada putranya.
Saat nya memasangkan cincin. Zahra berjalan di dampingi Aisyah dan juga Saras keluar ruangan menuju ruangan tempat acara.
Zahra hanya menundukkan kepalanya ketika berpasang-pasang mata menatap ke arah nya. Begitu juga Daniel yang menatap gadis yang sudah menjadi istrinya itu, matanya tak berkedip karena kecantikan istrinya yang begitu alami.
Zahra sudah sampai tepat di depan Daniel, proses memasang cincin pernikahan pun berjalan dengan lancar. Tangan Zahra gemetar hebat ketika tangan Daniel menyentuh jari-jari nya.
Kini giliran Daniel ingin mengecup kening Zahra dan Zahra mengecup punggung tangan Daniel. Daniel bisa merasakan nya, tubuh Zahra gemetar hebat. Entah karena takut, atau mungkin karena faktor Zahra yang tak pernah bersentuhan langsung dengan lawan jenis.
Suara tepukan tangan terdengar, sekarang mereka resmi menjadi suami istri dengan pernikahan dadakan. Zahra menghela nafas berat, ia memandangi ibunya yang tersenyum ke arah nya. Semoga selepas ini semua akan baik-baik saja. Dia dan ibunya akan bahagia.
Tapi dua kalimat terus saja menghantui pikiran Zahra membuat ia keringat dingin. Sebuah ritual yang pasti akan di lakukan oleh para pengantin baru.
Apa itu?
Tentu saja malam pertama.
_
_
_
_
_
Aduh, gimana nih. Bang Dion sudah di tikung guys. Neneng nya sudah menikah 😂
Adakah yang mau menggantikan posisi nenengnya di hati bang Dion 😂
Bentar lagi kita akan masuk part-part bucin lovers dan juga teka teki labirin.
Bersiaplah para reader, pikiran kalian akan di uji🤣🤣
jangan kayak dulu yah,nuduh bang Daren, bang Gamian, dan juga author. Kali ini harus tepat🥰
Jangan lupa like komen dan juga vote yah sayang-sayang ku🤣
Typo bertebaran dimana-mana harap bijak dalam berkomentar yah
__ADS_1
tbc.