
Beberapa jam kemudian. Pak Lim dan yang para penjaga tak kunjung menemukan keberadaan Daniel. Perasaan pak Lim mulai kacau. Ia ingin memberitahukan Malik, tapi dugaannya pasti Malik tidak akan peduli.
Sebaiknya ia menghubungi Nyonya besar saja, itu lebih menjamin daripada meminta bantuan dari tuan besar, pikir pak Lim.
Pak Lim pun mengeluarkan ponselnya lalu mencoba menghubungi Aisyah. Beberapa kali tidak diangkat membuat pak Lim hampir menyerah. Namun, ia tetap mencoba hingga akhirnya panggilannya terjawab.
"Assalamu'alaikum, nyonya."
"Wa'alaikumusalam, ada apa, pak?" tanya Aisyah di seberang telepon.
"Mohon maaf, nyonya. Saya membawa berita buruk, tuan muda hilang," ucap pak Lim membuat Aisyah di seberang sana langsung syok.
"Bagaimana bisa, pak?" teriak Aisyah di iringi tangis.
"Bagaimana bisa mansion yang memilki ratusan penjaga itu lalai dan membiarkan putra ku hilang! Bagaimana bisa! Apa yang sudah kalian lakukan! Dimana Tuan besar?" tangis Aisyah.
"Maafkan saya, nyonya. Saya lalai. Saya harap anda segera pulang agar tuan besar mau mencari tuan muda," pinta pak Lim.
"Jadi, suami ku sudah tahu dan dia hanya diam saja?" tanya Aisyah tak habis pikir.
"Iya, nyonya."
"Aku akan pulang sekarang!"
Tut
Tut
Panggilan terputus, pak Lim menghela nafas panjang. Urusan rumah tangga tuan besar nya sangatlah rumit. Semoga saja bocah malang itu baik-baik saja.
Beberapa jam kemudian.
Aisyah sudah tiba di mansion, dengan langkah kaki yang cepat wanita itu masuk ke mansion. Suasana hatinya sangat buruk, ia langsung menuju ruang kerja suaminya.
"Assalamu'alaikum." Aisyah langsung masuk tanpa mengetuk. Di sana tampak Malik tengah fokus membaca. Laki-laki itu langsung menoleh ke arah Aisyah sembari menampilkannya senyuman manisnya.
"Wa'alaikumusalam, Umi sudah pulang?"
"Hm, dimana putra ku?" tanya Aisyah datar.
"Abi tidak tahu," jawab Malik kembali fokus membaca.
"Tidak tahu? Ayah macam apa sebenarnya kau ini? Jika kau tidak menginginkannya, katakan! Kami akan pergi dari sini, agar beban hidup mu hilang!" tegas Aisyah sudah tak memperhatikan sopan santun lagi.
Malik hanya diam, ia memilih membaca daripada merespon ucapan Aisyah, sampai deringan ponselnya berbunyi membuat ia mengalihkan perhatian nya.
Dari nomor baru. Malik langsung menerima panggilan itu. Aisyah pun mendekat, bisa saja itu adalah anak buah suaminya yang sedang mencari putranya.
"Halo."
"Bersama Tuan Malik?" tanya si penelpon.
"Iya."
__ADS_1
"Putra anda ada bersama kami, beri kami yang senilai 3 M, maka kami akan membebaskannya. Kami tunggu sampai jam 7 sore nanti. Jika telat, maka putra anda akan mati!" ancam si penelepon dan langsung memutuskan panggilan.
Aisyah yang mendengar ancaman itu sontak langsung gemetaran.
"Abi, cepat kirim uangnya."
"Untuk apa?" tanya Malik cuek.
"Untuk apa? Untuk anak kita."
"Aku tidak peduli."
"Astaghfirullah, Ya Allah." Aisyah sungguh tidak menyangka bahwa suaminya begitu membenci anaknya.
"Kalau Abi tidak mengirimkan nya sekarang, kita cerai!"
Brakkkkk!
"Iya!" teriak Malik kesal lalu membawa ponselnya dan mengurus pengiriman. Kalau sudah mendengar kata cerai laki-laki itu langsung lemah.
Aisyah sedikit lega karena suaminya mau mengirimkan uang yang di minta laki-laki misterius itu.
"Semoga kau baik-baik saja, sayang. Buah hati, Umi."
******
Di sisi lain.
Setelah memutuskan panggilan, laki-laki itu berjalan mendekati bocah 5 tahun yang kini duduk di sudut ruangan. Bocah itu tampak pucat karena memang mereka tidak memberinya air dan juga makanan.
Laki-laki itu menatap anak buah nya. Yang di tatap pun mengangguk mengerti.
Beberapa menit kemudian, anak buah yang tadi pergi sudah datang kembali dengan membawa sepiring nasi putih dan juga air.
"Makanlah. Hanya ini yang kami punya, " kata pria itu tersenyum menyeringai.
Daniel kecil yang polos pun langsung memakan nasi putih dan juga air putih dengan pelan.
"Kau tampan sekali," puji pria itu. "Bagaimana, jika setelah ini kita melihat pemandangan? Mau?" tawar nya.
"Mau." Daniel kecil mengangguk.
"Good boy."
Beberapa menit kemudian. Daniel sudah selesai makan. Pria itu pun membawa Daniel kecil masuk ke sebuah ruangan. Ruangan minimalis berwarna putih. Di dalam ruangan itu terdapat 3 anak kecil. 1 perempuan dan 2 laki-laki. Mereka tampak kurus dan juga lemah.
"Kau mengenal mereka?" tanya pria itu. Daniel langsung menggelengkan kepalanya.
"Mereka adalah anak yang tidak di harapkan. Kami menculik mereka dan meminta tebusan pada keluarga mereka yang kaya. Namun, keluarga mereka tidak mau menebus dan alhasil mereka berakhir di sini. Begitu juga dengan mu, jika keluarga mu tidak menebus mu maka kau akan di kurung di sini!"
Daniel yang belum mengerti pun hanya mengangguk-angguk. Pria itu tampak tersenyum menyeringai.
"Kau itu tampan sekali, karena itu aku akan mentolerir untuk mu. Kau akan ku besarkan menjadi laki-laki haus darah dan menjadi seorang gigolo."
__ADS_1
"Untuk itu, kita akan mulai pelajaran nya di hari ini juga," lanjutnya sembari menggerakkan tangannya ke arah anak buahnya.
3 orang pria bertubuh besar datang. Pria itu menarik Daniel ke dalam pelukannya.
"Perhatikan itu!" katanya menunjuk pada ketiga anak yang terlantar itu.
"Laksanakan! Perlihatkan pada anak ini bagaimana caranya membunuh dengan sangat sadis dan juga tanpa celah."
Setelah mendapatkan perintah itu ketiga pria bertubuh besar itu langsung memulai aksi mereka. Teriakan dari anak kecil yang polos dan juga lemah itu menggema di ruangan berwarna putih. Darah sudah mewarnai dinding putih.
Daniel kecil yang melihat itu langsung gemetaran, air matanya mengalir deras. Kepalanya sakit. Ia berusaha tidak melihat namun, pria yang memeluknya terus memaksa. Alhasil ia melihat semuanya, bagaimana cara mereka menghabisi anak-anak malang itu.
"Huwaaaa, jangan. Jangan," tangis Daniel menggelegar di ruangan putih itu
"Kau harus melihatnya, boy!" tekan pria itu mencengkeram kuat wajah Daniel hingga meninggalkan memar.
"Tidak mau," tangis Daniel dengan wajah yang pucat.
"Harus!" teriak pria itu sembari memukul tubuh Daniel hingga bocah itu tak sadarkan diri. Hidungnya berdarah dan juga wajah nya yang sudah sangat pucat.
"Bos. Uang sudah di transfer oleh keluarga Raymond," ucap salah satu anak buah pria itu.
"Bagus. Pulangkan dia," ucap pria itu sembari tersenyum smirk menatap ruangan yang tadinya berwarna putih kini berubah menjadi merah.
******
Beberapa tahun kemudian.
Daniel sudah berusia 12 tahun. Laki-laki itu tumbuh dengan sehat dan juga tampan. Setelah kejadian penculikan itu, Malik mulai merubah sikapnya ke putranya. Meski tidak terlalu baik, namun Malik terus memperhatikan semua kegiatan putranya.
Jika putranya melakukan kesalahan atau hal yang tidak di sukai nya. Maka ia akan menghukum Daniel dengan cara mengurungnya di dalam ruangan berwarna putih. Malik baru tahu anaknya sangat takut dengan ruangan berwarna putih, oleh karena itu ia menggunakan kelemahan putranya untuk menghukum Daniel.
Sama seperti dulu, tidak ada rasa iba dalam hatinya mendengar Daniel yang berteriak dari dalam ruangan. Ia malah merasa puas, baginya hukuman itu adalah hal yang terbaik agar anaknya tidak melakukan kesalahan lagi.
Daniel yang sangat tampan bahkan mengalahkan Abi-nya pun sering di lirik oleh pelayan. Jika, Daniel keluar bersama Uminya, maka orang-orang akan menatapnya dengan tatapan memuji.
Daniel tumbuh dengan kepribadian yang tenang, mudah tersenyum namun memiliki tatapan mata yang tajam.
Hingga ketika itu, Malik melihat Daniel melakukan sesuatu yang paling ia takuti. Darahnya mendidih ketika melihat tangan Daniel yang di lumuri darah dengan tampilan wajah polos serta senyuman manis.
Anaknya membunuh salah satu pelayan mansion!
Itu sangat mengejutkan. Ia pikir didikannya selama ini akan membuat Daniel takut melakukan kesalahan. Namun, semuanya salah. Ia malah menciptakan karakter monster dalam diri putranya sendiri.
Sangat di sesali.
Flashback off.
*******
Untuk eps selanjutnya sudah masuk ke cerita awal yah😊 maaf telat up, dan terimakasih sudah menunggu
Typo bertebaran dimana-mana harap bijak dalam berkomentar yah
__ADS_1
tbc.