Bimbing Aku Istriku

Bimbing Aku Istriku
Ibadah bersama


__ADS_3

03.00


Malam terus berlanjut, orang-orang masih nyenyak dalam tidur mereka namun ada juga yang kini tengah bersujud pada sang Maha Pencipta berdoa dan juga berzikir.


Di kamar pengantin, perlahan mata Daniel terbuka. Ia mengucek-ngucek matanya dan sesekali menguap. Ia melihat jam ponselnya yang ada di atas nakas. Segera ia bangun dari baringnya.


Di tatap nya seseorang yang ada di sampingnya. Tidur dengan menyamping menghadap ke arahnya. Daniel mendekat ingin melihat secara dekat wajah yang tertidur pulas itu. Mulut yang sedikit terbuka dan juga liuran. Zahra si gadis liuran ketika sedang tidur. Daniel tersenyum lalu mengelus kepala Zahra dan beranjak pergi ke kamar mandi.


Di kamar mandi ia menyalakan air lalu membersihkan dirinya. Ini sudah jadi kebiasaannya ketika tengah malam. Setelah membersihkan diri ia mengambil air wudhu lalu keluar dari kamar mandi.


Ia berjalan mendekati ranjang menatap istrinya yang masih tertidur.


"Hei, panda bangun." Daniel menoel pipi Zahra namun gadis itu hanya menggeliat.


"Bangunlah, panda." Daniel mulai mengguncang tubuh Zahra dan alhasil gadis itu membuka matanya.


Zahra menggeliat sembari mengucek matanya tak lupa pula ia menyeka air liur nya membuat Daniel tertawa.


Zahra menoleh ke arah laki-laki yang kini menatapnya sembari tertawa kecil.


Dia hanya pakai handuk dan rambutnya basah. Apa dia ingin melakukan malam pertama sekarang?


"A-ada apa?" tanya Zahra.


"Pergi cuci wajah mu, setelah itu ambil air wudhu. Kita shalat tahajud, " ucap Daniel berjalan menuju ruang ganti. Daniel sekali lagi melirik Zahra yang masih diam termenung.


"Cepatlah, panda."


Zahra tersentak dan langsung pergi ke kamar mandi. Daniel menatap rambut sang istri yang terurai panjang. Badannya seketika geli melihat rambut panjang Zahra.


Setelah beberapa menit di kamar mandi, Zahra pun keluar. Ia melirik suaminya yang kini sedang membentangkan dua sajadah.


"Sudah selesai, ayo kemari." Zahra mengangguk lalu mendekat. Di sana Daniel terlihat membawa mukenah berwarna putih.


"Kemarilah, biar aku yang memakaikan nya." Daniel membantu memakaikan mukenah dengan benar. Jantung Zahra berdebar kencang. Begini kah rasanya punya suami dan kita saling melakukan ibadah bersama.


"Sudah. Ayo kita shalat."


Zahra mengangguk lalu mengambil posisi sebagai makmum. "Allahu Akbar."


Kedua insan itu pun melaksanakan shalat tahajud dengan khusyuk sebanyak 4 raka'at.


***


Setelah selesai shalat, terlihat Daniel membawa kitab suci Al-Qur'an lalu duduk menghadap Zahra.


"Mengantuk?" tanya Daniel lembut. Zahra menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


"Kalau begitu kita baca Al-Qur'an sebentar, karena aku adalah suami mu maka aku akan mengajarkan mu mengaji walau kau mungkin lebih pintar dari ku." Zahra kembali mengangguk, ada rasa hangat yang menyelimuti hatinya ketika di perlakukan lembut seperti itu.


"Aku duluan yah, setelah itu baru panda ku. Kalau panda ku salah baca, maka hidung nya akan di tarik." Zahra tertawa kecil mendengar perkataan Daniel. Tapi, ia yakin ia pasti akan lancar ketika membaca ayat suci Al-Quran. Ia sangat percaya itu.


Beberapa menit kemudian, hidung Zahra sudah memerah karena terus di tarik. Ia tidak menyangka ternyata karena grogi berdekatan dan selalu di perhatikan Daniel, ia malah gugup dan terkadang salah membaca.


"Shadaqallahul 'adzim."


Selesai sudah. Zahra menggosok hidungnya yang perih. "Besok-besok jangan salah lagi yah." Daniel meletakkan kitab suci Al-Qur'an di tempat nya dan juga membereskan alat shalatnya.


"Tidurlah kalau masih mengantuk," ucap Daniel sembari melipat sajadah.


"Kalau tidak mengantuk?" tanya Zahra.


"Maka kita akan bercerita ataupun memasak."


"Bagaimana kalau memasak?" tawar Zahra.


"Baiklah, berhubung juga orang-orang masih tidur jadi kita bisa bebas memasak." Daniel sudah selesai membereskan alat shalat lalu menatap Zahra dengan lekat lalu beralih pada rambut Zahra. Ia mendekat membuat Zahra menjadi serba salah. Antara melangkah mundur ataupun diam saja.


Daniel menyentuh rambut istrinya dengan lembut.


"Apa aku boleh meminta sesuatu?" tanya Daniel masih fokus menatap rambut panjang Zahra.


"A-apa itu?"


"Baiklah," jawab Zahra mengangguk.


"Terimakasih, panda."


"Aku ingin mengambil jilbab dulu," ucap Zahra pergi ke ruang ganti untuk mengganti dasternya dengan yang lebih panjang. Lalu ia memakai jilbab dan juga kaus kaki. Mana tahu nanti ada orang yang masuk dapur.


Sudah selesai.


Zahra keluar dari ruang ganti melihat Daniel yang duduk di ujung ranjang sembari menatap lurus.


"Anda ingin makan apa?" tanya Zahra membuat Daniel menoleh ke arahnya.


"Aku akan ikut ke dapur." Daniel berdiri lalu memegang tangan Zahra yang tampak dingin. Ia menggenggam tangan istrinya lalu berjalan menuju dapur.


"Seharusnya anda di kamar saja, biar saya saja yang memasak."


Daniel hanya diam tak merespon ucapan Zahra membuat gadis itu cemberut.


Di dapur Daniel langsung mengunci pintu agar istrinya leluasa memasak. Zahra yang melihat Daniel mengunci pintu menjadi gemetar.


Apa dia sedang marah? Apa aku akan di lenyapkan di sini?

__ADS_1


"Aku mengunci pintu agar tidak ada orang yang masuk. Kau bisa memasak dengan leluasa." Daniel berjalan mendekat ke arah Zahra.


"Apa yang ingin kau masak, bunny?" tanya Daniel menatap bahan-bahan yang sudah Zahra keluarkan dari dalam freezer.


"Hmmm, anda ingin makan apa? Hmmmppp..."


Suara Zahra tercekat karena sebuah tangan kekar melingkar di perutnya lalu sebuah kepala bersandar di pundaknya.


"Kau bahkan tidak memanggilku dengan panggilan sayang, aku ini suami mu. Apa kau tidak menyayangiku," lirih Daniel membuat jantung Zahra serasa ingin melompat ke luar tubuh.


"A-apa yang anda inginkan untuk nama panggilan?" tanya Zahra gugup.


"Aku kan minta kau untuk memikirkan nya. Aku minta inisiatif mu, bukan karena paksaan ku."


Tapi sekarang kau sedang memaksa, suamiku.


"Ba-bagaimana kalau honey, Hubby, dear, bee, atau my king, atau yeobo, atau sweetheart atau apalagi?" Daniel terkekeh geli mendengar saran-saran panggilan yang akan di berikan istrinya. Itu sangat menghibur sekali di pagi buta seperti ini.


"Apa saja yang penting lidah mu tidak terpeleset kalau mengucapkan panggilan itu."


"Hahahahaha, geli. Baiklah, honey, my sweetheart. Kau ingin makan apa?" tanya Zahra sembari tertawa geli ketika tangan nakal Daniel menggelitik perutnya.


"Makan dirimu saja boleh?" goda Daniel membuat Zahra tersentak.


"Jangan makan aku," pinta Zahra takut.


"Hihihi aku akan tetap memakan mu, panda ku."


_


_


_


_


_


_


Uluh² itu teh cepat banget sweet² nya😂


Ini bukan bucin yah, ini cuma usaha agar merasa nyaman satu sama lain.. Kalau masalah bucin itu pasti butuh waktu..🥰


Jangan lupa like komen dan juga vote. Dukungan kalian begitu berarti untuk author 🥺


Typo bertebaran dimana-mana harap bijak dalam berkomentar yah.

__ADS_1


tbc


__ADS_2