Bimbing Aku Istriku

Bimbing Aku Istriku
Bukan aku


__ADS_3

Zahra mengikuti langkah kaki Daniel yang menuntun nya ke dalam kamar mereka. Bermacam-macam pikiran tentang Daniel dan mayat itu berterbangan di benak Zahra.


Apakah Daniel pelakunya? Semalam Daniel tidak ada di kamar? Kemana dia? Apakah dia pergi membunuh mayat itu?


"Hubby...."


"Aku tahu."


Kening Zahra berkerut mendengar ucapan Daniel yang terbilang ketus.


"Aku tahu kau berpikir mayat itu pasti ulah ku. Tapi, sayang. Kau harus ingat, aku ingin berubah. Aku ingin berhenti melakukan maksiat itu. Bukan aku pelakunya," papar Daniel menatap lekat mata Zahra yang tampak tak berkedip.


"Lalu kemana hubby semalam?" tanya Zahra pelan.


"Semalam? Maksud mu?" tanya Daniel pura-pura bingung. Ia tak tahu kalau istrinya bangun tengah malam dan menyadari kalau ia tak ada di sana. Semalam ia punya keperluan yang harus ia lakukan.


"Iya, jam 12 malam aku terbangun dan hubby tidak ada di kamar. Kemana hubby semalam?" tanya Zahra dengan nada interogasi.


"Oh, semalam aku tidak bisa tidur. Aku memilih berolahraga di ruang olahraga. Ruangannya ada di dalam kamar ini hanya saja melewati beberapa pintu," kilah Daniel dan berharap Zahra percaya.


Olahraga? Oh, jadi itu alasan mengapa Daniel tidur dengan nafas yang tak beraturan. Apa mungkin karena lelah berolahraga?


"Sweetie," bisik Daniel tepat di telinga Zahra membuat bulu kuduknya merinding.


"Ada apa?" tanya Zahra sedikit memundurkan langkahnya.


Daniel tampak tertawa. "Kau berpikir terlalu keras, sayang. Bukan aku pelakunya, babe."


"Lalu siapa?" tanya Zahra.


"Aku juga tidak tahu. Abi akan menyelidiki kasus ini. Kau tenang saja, semua akan baik-baik saja. Aku pastikan tidak akan ada kejadian seperti ini lagi nantinya."


Daniel mencoba menyakinkan Zahra karena gadis itu terlihat ketakutan.


"Tapi, berjanjilah bahwa kau tidak akan melukai orang-orang, Hubby. Berjanjilah!"


"Janji."


******


Di ruang kerja Malik.


Beberapa pekerja mansion sudah di kumpulkan. Mulai dari pelayan, penjaga, hingga tukang kebun dan juga tukang lainnya.


Semua menunduk takut melihat tatapan Malik yang mengintimidasi mereka. Bukan hanya Malik bahkan pak Lim pun menatap ganas pada mereka.


"Sudah dua kali kejadian pembunuhan di mansion ini. Yang pertama di kamar pelayan dan yang kedua di pohon, semuanya pelayan wanita. Apa kalian mengetahui sesuatu?"


Diam! Mereka semua diam karena memang sangat gugup.


"Katakan yang kalian ketahui. Aku akan memberikan hadiah bagi siapa yang memberikan informasi."

__ADS_1


Masih tidak ada yang membuka suara.


"Apa kalian tuli!! Tuan besar bertanya pada kalian, apa kalian tidak bisa bicara!" bentak pak Lim membuat mereka semakin gemetar ketakutan.


"Kami tidak tahu, Tuan. Kami tidak melihat apa-apa" ucap salah satu penjaga.


"Tu-tuan bisa saja itu perbuatan tuan muda," ucap salah seorang pelayan.


Malik tampak berpikir kalau memang ini perbuatan Daniel pasti anak itu akan mengaku jika di paksa. Tapi, Malik sudah memaksanya untuk mengaku dan putranya itu tetap mengatakan bahwa dia tidak melakukan perbuatan itu.


"Bukan! Aku tahu kalau putra ku memiliki kelainan jiwa. Tapi, putra ku tidak akan berbohong padaku. Aku yakin ada yang sedang bermain-main di sini. Di antara kalian ada pelakunya. Kalau bukan pelaku pembunuhan yah pelaku yang membiarkan pembunuh itu masuk ke mansion!"


Mereka saling menatap satu sama lain. Bulu kuduk mereka berdiri mendengar perkataan Malik. Bisa saja mereka sedang berteman dengan pelaku itu. Bisa-bisa mereka lah target selanjutkan.


"Bersembunyi lah dan berlarilah. Tapi asal kalian tahu, aku akan memotong seluruh organ tubuh kalian bila kalian tertangkap. Jangan pernah bermain-main dengan ku disini! Kalian tahu siapa aku kan! Sebaiknya sembunyikan diri kalian dengan benar!" tekan Malik menatap tajam pada para pekerjanya.


"Jangan harap kalian bisa keluar dari Mansion ini!" lanjutnya semakin membuat para pekerja ketakutan.


"Pak Lim! Buat peraturan baru untuk para pelayan am pekerja lainnya. Ketatkan keamanan, jangan ada pekerja yang keluar dari mansion sebelum melewati pemeriksaan!" titah Malik.


"Baik tuan."


"Kalian sudah boleh pergi."


Para pekerja itu pun langsung berbondong-bondong keluar dari ruang kerja Malik. Sudah terjebak di sarang harimau sekarang mereka harus menerima peraturan baru lagi yang pastinya akan mengekang mereka.


Semua sudah keluar hanya tinggal pak Lim dan Malik saja.


"Baik tuan."


"Pak Lim, kau sudah bekerja cukup lama di sini. Aku tak ingin mendengarkan sesuatu yang berhubungan dengan penghianatan....."


"Maafkan saya, Tuan besar. Saya berani bersumpah kalau saya tidak pernah ada niatan untuk berhianat. Saya bersumpah, Tuan."


Malik menatap laki-laki paruh baya itu. Wajah sendu dan juga keriput membuat ia menghela nafas panjang.


"Aku percaya padamu."


"Terimakasih Tuan."


*****


Setelah kejadian itu semua kembali menjadi normal seperti biasanya, walau mereka harus selalu waspada karena pelakunya masih belum terdeteksi. Sungguh ahli bukan?


Begitu juga dengan Zahra. Gadis itu lebih waspada dan lebih sering berada di kamar. Terkadang juga ia pergi jalan-jalan bersama Daniel kalau suaminya itu ada waktu luang.


Seperti hari ini, ia akan pergi jalan-jalan sore bersama Daniel. Ia kini sedang berpakaian dan Daniel sudah menunggu di halaman.


Setelah berpakaian ia pun langsung berjalan keluar menuju halaman tempat suaminya menunggu.


"Hai Zahra," sapa Rianthy ketika Zahra ada di perjalanan menuju halaman.

__ADS_1


"Hai, sudah lama tidak bertemu." Zahra memeluk gadis yang sudah ia anggap sahabat itu.


"Kau mau kemana?" tanya Rianthy.


"Pergi bersama suamiku."


"Oh hati-hati yah."


"Iya, aku pergi dulu. Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumusalam warohmatullahi wabarakatuh."


Zahra pun melanjutkan jalanya menuju halaman mansion. Di sana Daniel tampak sedang berbincang dengan pak Lim di dekat mobil. Saat Zahra datang pembicaraan itu langsung berhenti.


"Sudah siap?" tanya Daniel.


"Sudah."


"Ayo masuk."


Zahra mengangguk dan berterimakasih ketika pak Lim membukakan pintu mobil untuknya.


"Kami pergi, pak. Assalamu'alaikum," ucap Zahra pada pak Lim.


"Wa'alaikumusalam warohmatullahi wabarakatuh, hati-hati Tuan dan Nona."


Mobil pun melaju keluar dari mansion.


Di sebuah ruangan seseorang tengah tersenyum sembari menatap sebuah pisau dengan bekas darah yang sudah mengering. Matanya mengkilap dalam kegelapan.


"Ini baru permulaan. Akan ku buat gadis itu gila karena ketakutan!"


_


_


_


_


_


_


_


Typo bertebaran dimana-mana harap bijak dalam berkomentar yah


jangan lupa like komen dan juga vote yah biar author makin semangat untuk up nya


tbc

__ADS_1


__ADS_2