Bimbing Aku Istriku

Bimbing Aku Istriku
Maafkan aku


__ADS_3

Satu Minggu Kemudian.


Sudah satu Minggu berlalu setelah hari pernikahan, semua terlihat baik-baik saja. Tak ada kejadian aneh maupun luar biasa. Daniel dan Zahra hanya diam di kamar lebih tepatnya hanya Zahra yang betah di kamar. Tak ada rencana bulan madu karena memang Malik belum bisa melepaskan Daniel keluar dari pengawasannya.


Seperti hari ini Zahra kembali sendiri di dalam kamar menatap pemandangan dari balkon kamar. Hari-hari nya terlewatkan begitu saja tanpa ada yang berubah sama sekali.


Mungkin menurut pemikiran orang lain Zahra dan Daniel adalah pasangan yang sangat bahagia dan serasi. Tapi, sebenarnya ada sebuah rasa pahit yang harus di telan Zahra mentah-mentah.


Apa itu?


Dia belum pernah di sentuh oleh suaminya.


Sakit bukan? Zahra akui ia memang takut untuk urusan malam pertama, tapi kalau sampai satu Minggu tidak di sentuh juga apakah itu hal wajar? Apa ada yang salah dari nya?


Yah, yah. Sadarlah Zahra kau hanya di minta menikah tanpa tujuan. Tak ada yang tahu tujuan sebenarnya tuan mu menikahi mu. Jadi, jangan berharap.


Tapi membayangkan hal itu membuat nafsu makan Zahra berkurang. Daniel seperti menjauhinya, sangat jauh hingga sulit untuk di jangkau.


*****


Daniel POV


Hari ke hari sudah ku lewati setelah pernikahan bersama gadis itu. Semua terasa baik-baik saja bagiku hanya sedikit rasa tak nyaman di hati karena sesuatu.


Aku tidak tahu apakah yang kulakukan ini benar atau tidak, tapi aku hanya berusaha untuk mengendalikan hasrat ku. Mungkin baginya aku terlihat seperti seorang monster tapi aku tidak peduli.


Di sini aku sekarang di sebuah dermaga menatap luasnya lautan yang tenang.


Drrrrttt


Drrrrttt


"Halo."

__ADS_1


"Assalamu'alaikum, Daniel." Ternyata Abi ku yang menelepon.


"Wa'alaikumusalam warohmatullahi wabarakatuh."


"Kau dimana?" tanya Abi. Aku mendengus kesal, Abi pasti tahu aku dimana tapi dia masih saja bertanya.


"Di tempat biasa."


"Cepat pulang, istrimu pingsan."


Seketika juga aku memutuskan panggilan dan langsung berlari ke mobil. Apa yang terjadi? Bukankah dia baik-baik saja pagi ini. Yah aku melihatnya sedikit kurang nafsu makan.


"Ini semua salahku."


Iya ini semua salahku, aku menjauhinya karena sesuatu yang memang tak bisa aku ceritakan. Aku bukan tidak ingin menyentuhnya selayaknya suami dan istri. Aku hanya tak bisa. Bayangan-bayangan masa lalu terus saja terbayang ketika aku berusaha menyentuhnya. Aku tidak bisa.


Pernah malam itu aku ingin menyentuh nya.


Malam itu aku memang berniat ingin menyentuhnya. Aku tersenyum geli melihat ekspresi nya yang begitu menggemaskan. Ingin aku menggigit habis pipinya itu.


Aku menyela ucapannya. "Iya, kita akan melakukan nya, bunny. Kau bersedia kan?" tanya ku memastikan. Aku tak ingin ia terpaksa melayani ku.


Dia tampak berpikir lalu mengangguk kecil. Sungguh menggemaskan. Saat itu pun aku ingin memulai pemanasan.


Kalian tahukan apa artinya pemanasan.


Aku mulai dari memeluknya, mengecup keningnya, pipinya, hingga bibir mungilnya itu. Lama kelamaan turun ke leher putih nya. Sungguh membuat ku panas.


Ingin memulai nya tapi tiba-tiba saja ingatan masa lalu terlintas di benak ku. Jeritan dan juga tangisan itu menghantui ku.


Suara itu.


"Jangan! Jangan lakukan itu!" teriak Hana dengan suara serak bahkan hampir hilang

__ADS_1


"Kak Aria, tolong! Jangan lakukan itu!"


"Ampuni kami!"


"Jangan lakukan itu!!"


"Akhhhhh!!!" Aku berteriak membuat Istriku menjadi takut. Aku menatapnya tajam, dia pasti ketakutan. Aku ingin membunuhnya sekarang agar teriakan-teriakan itu hilang. Aku ingin membunuh istriku sekarang!


Tidak! Tidak boleh! Dia adalah istriku. Aku berlari meninggalkan Zahra yang terdiam di atas ranjang.


Kemana aku berlari?


Aku berlari ke sebuah ruangan yang tak ingin aku datangi. Tapi, malam ini aku mendatanginya sendiri tanpa ada yang memaksa.


Aku masuk ke dalam ruangan berwarna putih itu. Ruangan kosong yang sangat menyiksa pikiran dan juga jiwa ku. Aku berteriak sekuat-kuatnya. Biarlah rasa sakit itu menyerang jiwa ku hingga aku gila daripada harus membunuh istriku.


Aku tak ingin membunuh lagi.


_


_


_


_


_


_


_


Typo bertebaran dimana-mana harap bijak dalam berkomentar yah

__ADS_1


Tbc


__ADS_2