
Malam sudah berganti menjadi subuh tepatnya jam 5. Daniel memilih shalat di rumah karena takut Zahra akan terbangun, ia sudah selesai shalat dan kini tengah duduk di samping Zahra menatap wajah istrinya yang terlihat damai dalam tidurnya.
"Hmmmm." Zahra tampak menggeliat sembari menggerakkan tangannya mengucek matanya. Daniel langsung siaga membawa air minum di atas nakas.
"Sayang, kau sudah bangun." Daniel membantu istrinya untuk duduk. Zahra terlihat lemas seperti orang tak bernyawa.
"Minumlah," ucap Daniel sembari membantu Zahra untuk minum. Zahra meneguk air dari gelas hingga habis. Gadis itu menatap Daniel dengan mata sayu.
"Mau ke kamar mandi?"
Zahra mengangguk, dengan sigap Daniel berdiri lalu menggendong istrinya ke kamar mandi.
"Mau mandi atau cuci muka saja?" tanya Daniel.
"Mandi." Daniel menurunkan Zahra dan langsung mengisi air di bathub. Sepertinya berendam air hangat akan sangat bagus untuk menghilangkan depresi.
Beberapa menit kemudian air sudah penuh, Daniel menatap istrinya yang tampak termenung. Ia mengelus kepala Zahra lalu mengecup kening istrinya itu.
"Mau di bantu mandi?" tanya Daniel dan Zahra hanya mengangguk. Daniel membantu Zahra untuk membuka kancing baju tidurnya, tiba-tiba saja tangan Zahra langsung menghentikan gerakan tangan Daniel.
"Biar aku saja yang membuka pakaian ku," ucap Zahra. Daniel mengangguk lalu memilih berdiam diri di sudut kamar mandi. Ia tak berniat untuk meninggalkan istrinya sendirian di kamar mandi. Ia takut istrinya akan mengalami hal buruk nantinya.
Daniel mencoba menahan sesuatu yang bergejolak di tubuhnya ketika melihat Zahra berendam dengan hanya menggunakan tentop. Ia membalikkan tubuhnya dan menatap dinding, ini lebih baik daripada menatap sesuatu yang mulus di sana.
Setelah beberapa menit, akhirnya Zahra selesai juga mandinya dan kini sudah berpakaian. Ia duduk di atas ranjang sembari memeluk guling bulu-bulu berwarna putih.
"Mau sarapan?" tanya Daniel dan lagi-lagi Zahra hanya mengangguk. Daniel menghubungi pak Lim untuk membawakan sarapan ke kamar, kemudian ia kembali duduk di samping Zahra memeluk gadis itu.
"Kita akan pergi berlibur," ucap Daniel membuat Zahra mendongakkan kepalanya menatap sang suami.
"Kemana?" tanya Zahra.
Daniel tersenyum, "ke suatu tempat yang pastinya sangat indah dan juga sangat menyenangkan."
"Kapan kita pergi?" tanya Zahra.
"Nanti setelah shalat zhuhur kita akan pergi ke sana. Tapi, aku tidak membawa mu ke luar negeri. Cuaca sedang tidak bagus untuk naik pesawat," ucap Daniel menoel hidung Zahra.
"Kalau cuaca tidak bagus lalu apa yang bagus dari tempat wisata itu?" tanya Zahra menatap mata tajam Daniel yang memikat.
"Rahasia," ucap Daniel mengecup bibir Zahra sekilas membuat wajah gadis itu bersemu merah. Karena malu Zahra memilih membenamkan wajahnya di dada bidang Daniel.
"Kau sedang malu, bunny?" goda Daniel terkekeh geli.
__ADS_1
"Jangan mencium ku tiba-tiba, aku malu," bisik Zahra.
Daniel di buat gemas dengan sikap istrinya, ia pun tak henti-hentinya tersenyum karena gemas melihat tingkah istrinya.
*****
14.00
Zahra dan Daniel sudah ada di mobil menuju tempat yang di katakan Daniel tadi pagi. Mereka akan berlibur di villa yang ada di puncak. Menurut dokter Setya lebih baik Daniel membawa istrinya ke tempat alam yang terbuka agar istrinya bisa melepaskan semua bebannya.
Pada saat Daniel dan Zahra pergi berlibur, maka Malik dan Setya beserta teman Daniel yang lainnya memulai penyelidikan tentang kasus pembunuhan secara diam-diam tanpa melibatkan satu orang pun di dalam mansion termasuk pak Lim.
Semua sudah berkumpul di ruang kerja Malik dan kini sedang menyusun strategi.
"Tidak ada yang tahu tentang kepergian Daniel dan istrinya. Itu berarti pelaku itu pastinya berpikir bahwa istri Daniel masih ada di mansion. Kita harus membuat sebuah jebakan untuk menangkapnya," ujar dokter Setya. Yah memang Daniel dan Zahra pergi secara sembunyi-sembunyi agar penduduk mansion tidak melihat mereka pergi dan dalang itu akan tetap melakukan kejahatannya.
"Bagaimana caranya?" tanya Dion sembari memakan buah yang ada di tangannya.
"Dengan cara penyamaran," tambah dokter Setya.
"Penyamaran? Maksudnya, kita harus membuat seseorang menjadi seperti Zahra?" tanya Malik.
"Iya."
Dokter Setya tampak tersenyum membuat ketiga pria itu menatap bingung ke arahnya.
Sepertinya kali ini ide dokter muda itu sedikit berbahaya.
****
Di sisi lain. Daniel dan Zahra sudah sampai ke puncak, suasana asri dan juga alami membuat Zahra merasakan ketenangan.
"Kau suka, bunny?" tanya Daniel. Mereka sekarang ada di depan villa, barang-barang yang mereka bawa sudah di angkut penjaga villa ke dalam.
"Suka. Disini sangat sejuk, nyaman sekali." Daniel tersenyum lega karena istrinya suka tempat ini. Mungkin mereka akan di sini satu Minggu.
Di saat Zahra sedang menikmati hembusan angin, tiba-tiba saja rintikan hujan menyentuh kulit-kulitnya. Daniel yang menyadari akan hujan deras pun menarik tangan Zahra namun gadis itu tak mau berjejak.
"Hujan, sayang."
"Biarkan saja," ucap Zahra tersenyum.
"Jangan main hujan nanti sakit." Daniel berusaha membujuk istrinya untuk masuk tapi istrinya malah semakin tidak mau berjejak.
__ADS_1
"Tuan muda, hujan! Anda akan basah nantinya!" teriak penjaga villa. Daniel mengangguk menggerakkan tangan agar penjaga villa itu kembali masuk.
"Bunny, hujan. Ayo kita masuk," ajak Daniel.
"Tidak mau! Sudah lama aku tidak mandi hujan, ayo kita main hujan." Ingin Daniel menolak tapi hujan sudah terlanjur turun dengan derasnya. Ia pun hanya ikut kemana istrinya berjalan.
Ia tersenyum geli melihat istrinya yang bermain hujan, untungnya postur tubuh istrinya itu kecil jadi masih cocok main hujan.
"Bunny, ayo masuk. Sudah cukup main hujan nya, nanti kau sakit." Daniel masih berusaha membujuk Zahra untuk segera masuk. Hujan semakin deras namun gadis itu masih asyik mandi hujan.
Karena Daniel di abaikan, ia pun mendekat dan memeluk istrinya. Zahra tampak terkejut ketiak Daniel memeluknya dari belakang.
"Ayo masuk," bujuk Daniel.
"Sebentar lagi," rengek Zahra.
"Nanti kau sakit," ucap Daniel membalikkan tubuh Zahra menatap mata gadis nya.
"Kan ada hubby," ucap Zahra terkekeh.
"Kau sangat keras kepala." Daniel mencubit kedua pipi Zahra dengan gemas lalu menghujani pipi istrinya itu dengan kecupan manis.
Tawa mereka terdengar sampai ke villa membuat para penjaga villa menjadi iri dan juga terbawa perasaan.
_
_
_
_
_
_
Typo bertebaran dimana-mana harap bijak dalam berkomentar yah
jangan lupa like komen dan juga vote. Kan gratis yah like nya🥺 biar author makin semangat up nya.. kan belakangan ini author up nya selalu 2 eps, jadi kasih semangat lah😌
Di tunggu dukungannya
tbc
__ADS_1