Bimbing Aku Istriku

Bimbing Aku Istriku
Berita bahagia


__ADS_3

Tiga hari kemudian.


07.00


Hoekk.. Hoekk...


Pagi-pagi sekali terdengar dari kamar mandi suara orang yang sedang muntah. Daniel berjalan menuju kamar mandi karena khawatir mendengar istrinya yang sedari tadi muntah-muntah.


"Honey, kau baik-baik saja?" tanya Daniel khawatir sembari memijit pelan tengkuk Zahra.


"Mual sekali." Zahra menghidupkan keran lalu membasuh mulutnya. Ia berbalik lalu memeluk sang suami.


"Hubby sangat wangi. Nyaman," gumam Zahra sembari menggerak-gerakkan hidungnya di dada Daniel.


"Honey, kau pucat sekali. Kita ke rumah sakit yah," ucap Daniel khawatir.


"Tidak mau. Nanti di suntik, sakit." Zahra menolak di bawa ke rumah sakit.


"Yasudah, ayo berbaring. Aku akan meminta Umi untuk membuatkan sarapan," ucap Daniel menggiring istrinya ke ranjang.


"Kenapa harus Umi? Nanti, Umi capek."


"Tidak. Umi paling pintar membuat makanan untuk orang sakit," jelas Daniel.


Zahra pun tampak mengangguk lalu membaringkan tubuhnya di atas ranjang. Daniel mengecup kening Zahra lalu beranjak pergi keluar kamar. Di luar kamar ia menghubungi dokter wanita untuk memeriksa keadaan Zahra.


Setelah menghubungi dokter, Daniel langsung menuju lantai bawah untuk meminta Umi nya membuatkan sarapan khas orang sakit.


Setelah beberapa menit, akhirnya sarapan sudah siap dan dokter wanita juga sudah datang. Aisyah membawa nampan berisi sarapan untuk Zahra lalu meletakkannya di atas nakas. Begitu juga dengan dokter wanita yang baru saja datang langsung masuk ke dalam kamar.


"Tidur?" tanya Aisyah pada Daniel sembari menatap menantunya yang tampak tertidur.


"Mungkin iya. Dari tadi Zahra muntah-muntah," ucap Daniel.


Aisyah pun meminta agar Bu dokter segera memeriksa Zahra dengan pelan agar tidak menggangu tidurnya. Dokter pun mulai memeriksa dengan alat medis yang lengkap. Dengan perasaan khawatir Daniel menatap wajah pucat istrinya.


Dokter sudah selesai.


"Bagaimana, dok?" tanya Daniel tak sabaran. Tampak dokter menampilkan senyuman manisnya membuat Daniel dan Aisyah kebingungan.

__ADS_1


"Selamat, anda akan menjadi seorang ayah, tuan muda."


Deg


Daniel mencoba mengerjapkan matanya, ia serasa sedang bermimpi. Ia pun kembali menanyakan apa benar yang ia dengar ini dan jawaban dokter tetap sama.


"Selamat sayang," ucap Aisyah bahagia memeluk putranya yang masih tampak tak percaya.


Ia akan menjadi ayah, itu berarti Zahra sedang hamil. Ia akan menjadi ayah, ia yang memiliki kepribadian gila ini akan menjadi ayah. Apa ia bisa? Apa ia akan sanggup? Memang waktu itu ia sering menyinggung tentang mempunyai anak, tapi itu hanya sekedar candaan semata. Ia tak tahu jika hamil akan secepat itu.


*****


10.00


Zahra kini sedang duduk di balkon bersama Daniel. Gadis itu meletakkan kepalanya di pangkuan sang suami. Sedangkan Daniel membelai rambut, wajah istrinya sembari menatap ke depan. Ia tak pergi kerja karena ingin menemani istrinya. Walau hari ini ada rapat penting, ia tak peduli dan mengundurkan rapat membuat rekan-rekan kerjanya kesal. Namun, mereka hanya bisa diam.


Daniel sudah memberitahu Zahra bahwa istrinya itu sedang hamil. Respon bahagia dari istrinya membuat ia juga bahagia, ia sangat bahagia jika istrinya juga bahagia. Ia akan berusaha menjadi ayah yang baik.


"Sayang." Zahra membelai manja dada bidang suaminya.


"Apa?" tanya Daniel sembari menaikkan kedua alis nya.


"Makan apa, sayang?"


"Makan bakso," pinta Zahra sembari mencubit pelan lengan Daniel.


"Apa itu bakso? Jangan aneh-aneh," ketus Daniel.


"Bakso itu makanan, Hubby. Bentuknya bulat seperti pimpong," papar Zahra.


"Dimana kita bisa mendapatkan bakso?" tanya Daniel. Memang benar laki-laki itu tidak tahu apa itu bakso, karena pola makannya yang selalu teratur dan juga harus lewat standar gizi terlebih dahulu.


"Di toko baju, biasanya ada bakso di sana," jawab Zahra kesal. Masa bakso saja tidak tahu, pikirnya.


"Hmmm, tukang merajuk," goda Daniel menoel hidung istrinya.


"Ayo beli bakso," rengek Zahra. Daniel teringat perkataan dokter bahwa orang hamil itu akan mengalami ngidam. Minta yang aneh-aneh dan akan melakukan hal aneh-aneh juga.


"Biar pelayan di sini saja yang membuatkan nya. Kalau beli di luar nanti tidak higienis," bujuk Daniel mengelus perut.

__ADS_1


"Tidak mau!" tolak Zahra cemberut.


"Yasudah, demi Istri tercinta dan calon buah hati apapun itu akan aku lakukan," ucap Daniel membuat Zahra tersenyum penuh bahagia.


"Yasudah ayo." Dengan semangat Zahra pergi mengganti pakaiannya sedangkan Daniel tampak gemas melihat tingkah istrinya. Ia pun mengekori istrinya ke ruang ganti.


Belum siap menjadi ayah atau apapun itu bukan berarti kita harus menolak takdir. Semua yang di berikan untuk kita adalah sebuah jalan yang terbaik yang bahkan tak bisa kita bayangkan.


"Maka nikmat Tuhan mu yang manakah yang kamu dusta kan?"


_


_


_


_


_


_


Ada yang rindu author?🙂


Maaf yah telat up an up nya juga cuma sedikit ☺️


Maklumlah author sedang di beri ujian yang berat, jadi author nulis semampunya aja. 💪


Nah, udah dekat konflik nih.. Siap-siap kan perasaan kalian yah.. Tenang konflik nya gak bersangkutan dengan penghianatan maupun pelakor.


Sampai jumpa lagi☺️


Terimakasih


Jangan lupa like komen vote dan juga hadiah nya..


Typo bertebaran dimana-mana harap bijak dalam berkomentar yah


tbc.

__ADS_1


__ADS_2