Bimbing Aku Istriku

Bimbing Aku Istriku
Ancaman Zahra.


__ADS_3

"Hei anak pelacur," panggil Silvi sekali lagi membuat Zahra terdiam membeku. Benar dugaannya bahwa keluarga Silvi pasti akan di undang. Untung ibunya tidak datang ke pesta.


Zahra membalikkan tubuhnya menatap saudara sepupunya yang kini menatapnya dengan tatapan sinis.


"Masih punya nyali juga yah, dasar tidak tahu malu." Silvi langsung mencerca wanita yang masih diam di hadapannya.


Lumayanlah pikir Silvi. Di sekitar mereka sepi, jadi ia bisa bermain kasar sedikit.


"Wah, wah. Mulutnya membisu pemirsa. Jangan-jangan sudah di bungkam oleh suami tua nya," ejek Silvi dengan nada penuh penghinaan.


Zahra ingin menjawab namun ia memilih diam. Ia tak ingin mencoret nama baik suami dan keluarga mertuanya, lebih baik ia pantau saja dulu kelakuan sepupu kurang kerjaannya ini.


Melihat keterdiaman Zahra membuat Silvi naik pitam dan berjalan mendekat ke arah Zahra dengan cepat...


Plak!


Satu tamparan mendarat di wajah Zahra membuat Silvi tersenyum penuh kemenangan. Zahra hanya tersenyum membalas perlakuan sepupunya.


Melihat Zahra yang tersenyum malah semakin memancing emosi Silvi. Gadis itu mengangkat tangannya ingin menampar kembali wanita yang ada di hadapannya. Namun, tangannya langsung di tahan oleh tangan kekar yang berasal dari belakang nya.


Sontak Silvi terkejut begitu juga dengan Zahra yang baru menyadari kehadiran orang lain di sini.


"Hubby."


"Lepaskan!" bentak Silvi memberontak.


PLak!


Dengan kuat Daniel menampar wajah Silvi membuat gadis itu terjatuh ke lantai.


"Hubby!" Zahra mencoba menenangkan Daniel yang tampak sangat marah.


"Diam di belakang ku!" titah Daniel dingin.


"Tapi, Hubby....


"Zahra! Aku bilang diam di belakang ku!" bentak Daniel semakin membuat Zahra takut. Wanita itu terpaksa mundur kebelakang.


Silvi yang melihat laki-laki itu berbicara pada Zahra mulai berpikir keras. Namun, sebelum ia mendapatkan jawaban rambutnya sudah di tarik kasar oleh Daniel.


"Mulut mu sangat kotor!"


Bughhh


Satu bogeman mengenai wajah Silvi membuat gadis itu kembali terjatuh ke lantai. Wajahnya kini sudah bengkak dengan sudut bibir yang robek dan mengeluarkan darah.


"Tangan mu sangat kasar!" tekan Daniel menginjak lengan Silvi yang tadinya menampar wajah Zahra.

__ADS_1


Gadis itu berteriak sakit ketika tangannya di injak dengan kerasnya. Rasanya semua tulang seperti sedang di patahkan.


"Kau berani menampar istriku, maka kau harus mati!" hardik Daniel mengeluarkan sebuah benda kecil saku celananya. Hal itu membuat Silvi maupun Zahra kaget.


"Hubby, jangan!" cegah Zahra.


"Tetap diam di sana!" hardik Daniel.


"Tidak!"


"Jangan sampai aku berbuat kasar padamu!" tegas Daniel menatap tajam pada istrinya.


"Kalau Hubby membunuhnya atau menggunakan pisau itu. Maka, besok silahkan cari aku dimana pun itu. Aku tidak akan lagi berada di sisi mu!" ancam Zahra.


"Kemana pun kau bersembunyi aku akan tetap bisa menemukan mu! Jangan mencoba bertoleransi dengan ku!" tegas Daniel.


"Benarkah? Lalu bagaimana jika aku bersembunyi di kuburan? Apakah Hubby akan membawa ku pulang?"


Deg.


"Kalau Hubby tetap akan membunuhnya ataupun melukainya, aku akan memastikan besok aku tidak akan hidup lagi! Aku pastikan itu!" tekan Zahra pergi meninggalkan Daniel yang masih berpikir keras.


Dengan kesal ia melepaskan rambut Silvi hingga kepala gadis itu membentur keras di lantai. Daniel langsung berlari mengejar istrinya meninggalkan Silvi yang menangis kesakitan.


Zahra berjalan cepat menuju kamar lalu menutup pintu dan pergi ke kamar mandi. Acara belum di mulai, tapi semua sudah berantakan. Hatinya terasa sakit ketika Daniel membentak nya.


Di luar kamar mandi Daniel mencoba membujuk istrinya untuk keluar.


"Sayang, keluarlah. Aku minta maaf," ucap Daniel menyesal karena terlalu terbawa emosi.


"Sayang."


Terlintas di benak Daniel tentang apa yang di katakan istrinya tadi. Pergi untuk selama-lamanya. Pikiran negatif mulai menghantui Daniel. Bayangan-bayangan Zahra akan bunuh diri melintas di benaknya.


Dengan kuat ia mendobrak pintu kamar mandi, butuh beberapa kali pendobrakan dan akhirnya pintu terbuka.


"Honey." Daniel langsung memeluk istrinya yang tampak berdiri menatapnya.


"Maaf," lirih Daniel menatap lekat mata sembab istrinya.


"Maaf untuk apa?" tanya Zahra dingin.


"Karena sudah membentak mu. Maaf, karena sudah kasar. Maaf, karena aku terbawa emosi."


Zahra menghela nafas berat mendengar isakan suaminya. Sesakit apapun hatinya ketika melihat suaminya menangis membuat ia tak tega.


"Sudahlah, Hubby. Hari ini adalah hari bahagia. Sebentar lagi acara akan di mulai," ucap Zahra masih terbilang cuek.

__ADS_1


"Tidak mau! Tidak usah pergi! Untuk apa hari bahagia itu jika kau masih marah padaku?" tangis Daniel.


Laki-laki ini tadinya sangat menakutkan, tapi lihatlah sekarang. Dia sangat cengeng. Batin Zahra.


"Yasudah, kita ganti baju saja dulu. Masalah maaf, aku tidak marah pada hubby. Jadi, jangan sedih," bujuk Zahra.


"Tidak marah tapi cuek," bantah Daniel masih belum mau melepaskan pelukannya.


"Hubby, Tolong mengertilah! Tolong beri aku waktu sedikit saja untuk bernafas. Aku tidak bisa bernafas hubby."


Mendengar keluhan Zahra, Daniel langsung melepaskan pelukannya dan menyeka air matanya. Zahra terkekeh geli melihat suaminya seperti anak balita yang tidak di beri uang jajan.


"Ayo kita ganti pakaian. Pakaian ini sudah kusut dan juga bau keringat. Setelah itu ayo kita ke ruang pesta," ucap Zahra lembut membelai pipi suaminya.


"Honey tidak marah lagi?" tanya Daniel sembari menyentuh bagian wajah yang terkena tamparan tadi.


"Tidak." Daniel tersenyum manis lalu mengecup bibir Zahra.


"Terimakasih."


"Apapun untuk suamiku."


_


_


_


_


_


_


Nah, kekmana guys.. Kita kasih lebih ganas lagi si bang Daniel nanti pas konflik?


Jangan lupa komen๐Ÿ˜…


Si Zahra karakter nya memang gitu yah guys, bukan lemah hanya saja lebih ke mengalah.. Kayak author ๐Ÿ˜…๐Ÿ˜…


Jangan di bully.. Dede gak kuat๐Ÿคฃ๐Ÿคฃ๐Ÿคฃ


Author double up.. bilang apa ke Dede author?๐Ÿ˜…๐Ÿ˜…๐Ÿ˜…


typo bertebaran dimana-mana harap bijak dalam berkomentar yah


tbc.

__ADS_1


__ADS_2