
Keesokan harinya tepatnya jam 11 pagi, sebuah pesawat berhasil mendarat dengan aman dan mulus. Para penumpang pun mulai turun dengan arahan dari keamanan.
Para pengunjung yang mungkin saja menunggu saudara mereka pun langsung mengibarkan spanduk penyambutan untuk keluarga mereka.
Seorang gadis dengan style hijab modern berjalan dengan anggunnya sembari membuka kaca mata hitam nya. Ia memandangi beberapa orang yang tampak memegang kertas bertuliskan namanya.
"Mommy!! Daddy!!" teriaknya berlari kedalam pelukan kedua orang dewasa yang memegang kertas bertuliskan namanya.
"Ruby. Mommy merindukan mu." Memeluk gadis yang sering di panggil Ruby.
"Ruby juga merindukan kalian, Mom, Dad."
Kini giliran berpindah pada Daddy nya.
"Mengapa tidak mengucapkan salam, sayang?" tanya Daddy Ruby yang bernama Mario Setiawan. Sedangkan Mommy nya bernama Mega Safrina Setiawan.
"Ck, Ruby lupa. Assalamu'alaikum, Mommy, Daddy."
"Wa'alaikumusalam."
"Yasudah, ayo kita ke mobil. Mommy sudah tidak sabar untuk sampai ke rumah. Pasti orang-orang di sana juga akan senang."
"Termaksud kak Daniel?" tanya Ruby antusias.
"Daniel? Apa maksud mu?" tanya Mario tampak tidak suka dengan nama yang baru saja di sebutkan putrinya.
"Oh ayolah, Dad. Aku sudah bersekolah di luar negeri selama empat tahun dan kalian tahu kan aku menyukai kak Daniel sejak SMA." Ruby memasang wajah cemberut nya.
"Itukan dulu, kalau sekarang mungkin kau bisa mencari penggantinya." Mario benar-benar tidak suka dengan Daniel karena pria muda itu sudah menolak bahkan membatalkan kerjasama antara perusahaannya dan perusahaan Malik.
Tidak perlu heran mengapa Daniel bisa begitu berkuasa menolak dan membatalkan kerjasama karena Malik sudah memberikan akses perusahaan sepenuhnya pada Daniel..
"Ck, tidak mau! Daddy ini ada dendam pribadi yah dengan kak Daniel. Aku tidak mau yang lain, aku maunya cuma kak Daniel!" tegas Ruby.
"Sudah, sudah. Baru datang sudah ribut. Kita pulang saja dulu, nanti masalah Daniel akan kita bicarakan."
"Tapi Mom, Mom janjikan akan merestui Ruby dengan kak Daniel." Ruby merengek.
"Iya."
Ruby pun tersenyum puas lalu mengikuti Mommy dan Daddy untuk pulang kerumah.
*****
__ADS_1
Mansion Raymond.
Zahra sedang dilanda kesusahan hati. Ternyata ibunya memang benar-benar sakit setelah ia memaksa ibunya untuk mengaku kalau dirinya sakit.
Zahra mencoba meminta izin pada Daniel namun hasilnya nihil. Seperti yang sudah dikatakan kemaren, Daniel tidak akan mengijinkan Zahra keluar dari mansion ini sampai Zahra bersedia menikah.
Ya Allah bagaimana ini?
Zahra yang sedang memasak pun akhirnya tidak fokus. Terbesit sebuah ide di kepalanya.
Kalau makanan ku tidak enak lagi di lidahnya, pastinya dia tidak menginginkan ku lagi. Maafkan aku tuan muda, tapi kau yang memaksaku untuk melakukan ini.
Semuanya demi ibu.
Zahra mengulek cabai rawit tanpa tomat. Bahkan Zahra menambahkan lada yang begitu banyak di dalam sambal itu.
Harap-harap Daniel tidak akan menyukainya.
Setelah selesai memasak. Zahra membawa semua makanan itu ke dalam kamar Daniel. Di dalam kamar, Daniel tampak sedang berkutat dengan laptopnya.
Daniel terlihat tampan dengan menggunakan kaca mata radiasi nya yang berbentuk bulat.
Zahra masuk setelah memberi salam lalu meletakkan makanan yang ia masak tadi.
"Silahkan, tuan."
Mengapa aku tidak memberikan sianida tadi.
"Mana mungkin saya berani tuan."
"Oh benarkah? Baiklah." Daniel pun mulai mengambil satu persatu lauk dan sayur serta sambal kedalam piringnya. Perlahan-lahan ia menyendoki nasi kedalam mulutnya membuat raut wajah Zahra penuh dengan rasa penasaran seperti apa rasa masakan yang di bumbui rasa kesal.
Tidak ada respon dari Daniel. Ia hanya makan dengan lahap walau sambalnya pedas dan sayurnya sedikit asin.
Daniel meminum air pertanda ia sudah selesai.
"Wleee.... Kau tidak bisa mengerjai ku," ledek Daniel menjulurkan sedikit lidahnya. Ia tahu Zahra memasak makanannya dengan kesal dan pastinya akan mempengaruhi cita rasanya.
Apa-apaan itu?
Zahra menggerutu kesal melihat ekspresi Daniel yang begitu menikmati kekesalan nya.
"Tuan saya ingin bertemu dengan ibu saya." Zahra berusaha meminta izin kembali.
__ADS_1
"Menikahlah dengan ku."
"Tuan, apa anda tidak punya hati nurani. Bagaimana jika anda berada di posisi saya. Anda juga punya ibu kan? Lalu bagaimana kalau ibu anda sakit dan anda tidak bisa melihatnya?" Zahra mencoba menahan air matanya mengatakan semua unek-unek nya.
"Kau pernah mendengar kalau aku pernah membunuh seorang ibu?"
Deg
Jantung Zahra tiba-tiba saja berhenti berdetak.
"Kalau membunuh saja aku tega apalagi hal seperti ini. Sebelum kau....."
"Baiklah. Baiklah saya bersedia. Saya akan menikah dengan anda." Keputusan terakhir Zahra. Sangat mustahil meminta belas kasih pada seorang pembunuh.
"Baiklah, kau boleh pergi."
Zahra tersenyum senang. "Terimakasih tuan."
"Tapi sebelum itu tanda tangan ini." Daniel memberikan sebuah surat pada Zahra.
"Apa ini?"
"Itu surat perjanjian kalau kau akan menepati janjimu menikah dengan ku."
"Tidak perlu tuan. Saya tidak pernah mengingkari janji saya." Zahra tidak mau menandatanganinya.
"Baiklah, aku pegang janjimu. Setelah ibu mu sembuh kita akan segera menikah."
"Ba-baik."
_
_
_
_
_
_
_
__ADS_1
Typo bertebaran dimana-mana harap bijak dalam berkomentar yah
Tbc.