
02.00
Daniel masih duduk di samping Zahra menemani istrinya yang terlelap damai setelah di beri obat penenang. Ini sangat kacau, bagaimana bisa Zahra menjadi depresi hanya dengan sekali kejutan dari mahluk yang di katakan nya tadi.
Daniel masih ingat ketika istrinya mengamuk ingin pulang, dia bilang di mansion ini ada hantu dan hantu itu akan membunuhnya. Bahkan dokter Setya sampai kewalahan ketika ingin memberikan obat penenang.
Drrrrttt
Drrrrttt
Suara ponsel bergetar, Daniel mengambil ponselnya lalu mengangkat panggilan dari dokter Setya.
"Assalamu'alaikum, Daniel."
"Wa'alaikumusalam."
"Apa kau sudah tidur?" tanya dokter Setya.
"Belum."
"Datanglah ke ruang kerja Abi mu. Kita akan membicarakan sesuatu di sana," kata dokter Setya.
"Tapi bagaimana dengan Zahra? Bagaimana kalau mahluk yang di katakan Zahra muncul dan melukainya?" tanya Daniel dengan nada khawatir.
"Kamar mu itu adalah tempat teraman dari seluruh ruangan di mansion ini. Jadi, tidak akan ada penjahat yang akan masuk ke kamar mu. Kau bisa menghidupkan fungsi cctv rahasia di kamar mu dan mengawasi istrimu dari ponselmu."
Daniel tampak berpikir, di pandangnya lagi wajah damai istrinya yang tertidur. "Baiklah, aku akan ke sana."
Daniel memutuskan panggilan lalu mengecup kening dan juga pipi Zahra. "Aku akan membasmi mahluk yang kau katakan itu, bunny. Tidurlah dengan nyenyak kau pasti akan sembuh."
Daniel berjalan keluar dari kamar. Ia mengunci pintu kamar dan mengaktifkan fungsi dari kamera cctv rahasia di kamarnya. Ia berjalan ke ruang kerja Abi nya dengan selalu memperhatikan layar ponselnya yang menampilkan keadaan di dalam kamar.
"Assalamu'alaikum," ucap Daniel memberi salam lalu masuk ke ruang kerja dan mengunci pintu.
"Wa'alaikumusalam warohmatullahi wabarakatuh."
Hanya ada mereka bertiga di sana, "kau sudah makan?" tanya Malik pada Daniel.
"Sudah makan roti tadi." Daniel duduk di sofa tepat di samping dokter Setya yang sedang meminum kopi.
__ADS_1
"Baiklah, kita mulai saja diskusi nya. Pokok pembahasannya adalah penghianat!"
Daniel mengangguk begitu juga dengan dokter Setya.
"Pertama kejadiannya di kamar pelayan dan cctv kita berhasil di retas dan yang kedua di pohon halaman belakang dan juga cctv kita di retas lalu sekarang di dapur, kali ini cctv nya tidak di retas hanya saja kita tidak bisa melihat apa-apa karena lampunya padam. Bukankah itu aneh?"
"Hmmm, itu memang aneh. Sebelumnya tidak pernah terjadi hal sedemikian di mansion ini. Kalaupun Daniel yang melakukan nya tentu kita akan tahu itu. Menurutku ada sesuatu yang membuat dalang itu gencar melakukan aksi bejat ini," ujar dokter Setya.
"Iya, sepertinya dalang itu mengincar sesuatu. Tapi, apa itu?" tanya Malik.
"Zahra! Dia mengincar istriku," ucap Daniel membuat kedua pria itu menoleh ke arahnya.
"Dia mengincar istrimu? Tapi, apa yang di incarnya? Apa dia menginginkan uang?"
"Bukan, Bi. Sepertinya dia mengincar hal yang melebihi uang itu sendiri."
"Melebihi uang? Apa itu?" tanya dokter Setya.
"Nyawa! Dia menginginkan nyawa istriku. Tapi, dia tak akan membunuh istriku dengan cepat, dia akan membunuh istriku secara perlahan-lahan."
Deg
"Apa kau yakin, Daniel?" tanya Malik.
"Ini berbahaya, Daniel. Istrimu harus kita pindahkan ke suatu tempat agar bisa menyegarkan kembali pikiran nya. Kalau tidak istrimu akan menjadi gila permanen," ujar dokter Setya.
"Iya kita harus memindahkan nya. Abi akan siapkan rumah untuk kalian berdua nanti dan tentunya dibawah pengawasan."
"Hmmm."
"Pelakunya pastilah orang yang ada di mansion dan sudah bekerja lama di sini. Doa memiliki kemampuan yang sangat hebat karena bisa meretas kamera pengawas."
"Apa itu pak Lim?" tanya dokter Setya.
Malik menatap dokter muda itu, pikiran nya juga sedikit meragukan pak Lim. Tapi, laki-laki itu sudah ikut bersamanya sebelum ia menikah. Bahkan bagi Malik, pak Lim sudah seperti ayah sendiri. Pak Lim selalu mengajaknya shalat ketika ia sedang malas an selalu menasehatinya kalau ia sedang di jalur kemaksiatan.
"Bisa jadi. Walau pun pak Lim sudah lama berkerja bersama Abi, bisa jadi pak Lim juga pelakunya. Yang jelas pelakunya ada di mansion dan selalu mengawasi kita dari jauh. Atau bisa jadi pelaku itu bekerja sama dengan seseorang dari luar sana, seseorang yang tidak menyukai kita lebih tepatnya tidak menyukai Daniel! Itulah sebabnya dia mengincar Zahra agar bisa membuat Daniel tertekan." Malik mengangguk mendengar ucapan Daniel.
"Hmmm, sepertinya kalian harus mencari koki baru. Aku takut nanti pelaku itu akan menaruh racun di makanan kalian," saran dokter Setya.
__ADS_1
"Benar, aku sudah mencari koki baru dan juga beberapa pekerja baru. Besok mereka akan langsung bekerja."
"Baiklah tetap awasi sekitaran kalian, jangan lupa untuk selalu berdoa kepada Sang Maha Tahu agar semua di mudahkan."
"Hmmm, Daniel ke kamar dulu yah." Daniel berdiri dan terus melihat layar ponselnya. Sepertinya Zahra menggeliat, ia langsung berjalan menuju kamar. Di perjalanan menuju kamar langkah kakinya berhenti, matanya sedikit mengintip di sudut ruang.
Menatap tajam ke arah sudut ruang yang gelap itu, lalu tersenyum dan melanjutkan langkahnya masuk ke dalam kamar.
Daniel berjalan ke ranjang menatap istrinya yang masih tertidur. Ternyata hanya bergerak biasa saja, ia pikir Zahra sudah bangun.
Ia pun membaringkan tubuhnya di samping istrinya, memeluk dan juga membelai kepala sang istri.
"Aku akan menjaga mu. Kau adalah istriku, maka kau juga adalah hidupku. Cepatlah sembuh."
_
_
_
_
_
_
_
Kekmana yah readers..🤣🤣
ngakak aku..
Jangan asal nuduh yah, nanti salah orang baru tahu🤣
Ingat fitnah itu lebih kejam dari mencuri sendal jepit tetangga.
Kasihan kan pak Lim jadi nomor 1 daftar tersangka 🤣🤣
Jangan lupa like komen dan juga vote yah. Itu sangat berarti untuk author 🥰
__ADS_1
typo bertebaran dimana-mana harap bijak dalam berkomentar yah
tbc