
Beberapa Hari kemudian.
Zahra sudah diperbolehkan untuk pulang. Dengan di dampingi suami dan juga mertua serta ibunya, Zahra pun pulang ke mansion. Kandungan nya pun baik-baik saja, hal itu membuat semua orang menjadi lega.
Kini wanita hamil muda itu tengah berada di kamar, duduk di atas ranjang sembari mengkotak-katik ponsel suaminya. Daniel baru saja selesai mandi dan kini berjalan menuju ruang ganti. Di perjalanan menuju ruang ganti, ia melirik istrinya yang sedang mengkotak-katik ponselnya. Ia tersenyum geli melihat ekspresi istrinya. Sebegitu cemburunya istrinya sehingga harus rutin memeriksa ponselnya.
Beberapa menit kemudian.
Daniel sudah selesai mengganti pakaiannya. Ia berjalan menuju ranjang, mendekati istrinya.
"Menemukan sesuatu?" tanya Daniel tersenyum meledek.
"Tidak," jawab Zahra tersenyum senang. Daniel terkekeh kecil lalu menarik istrinya agar berdiri.
"Ayo kita jalan-jalan," ajak Daniel sembari memeluk tubuh kecil istrinya. Mengelus perut yang sudah sedikit membuncit.
"Kemana?" tanya Zahra. Ia menutup matanya karena merasa sangat nyaman ketika tangan Daniel mengelus perutnya.
"Ke taman? Mall? Pantai? Luar negeri? Luar kota? Kemana saja boleh, asalkan honey senang."
Zahra tampak berpikir keras, ia malas pergi keluar rumah. Tapi, suaminya tampak bersemangat untuk pergi keluar. Sebagai istri yang baik ia akan bahagia jika suaminya bahagia.
"Ke pantai saja," saran Zahra.
"Ini masih pagi."
"Ke mall?"
"Terlalu banyak orang," jawab Daniel.
"Ke taman?"
"Malas. Kita di kamar saja yah," tolak Daniel merebahkan tubuhnya di atas ranjang.
"Tadi katanya jalan-jalan, sekarang malas. Hubby ini bagaimana sih?" oceh Zahra sembari memberengut kesal. Wanita itu pun ikut membaringkan tubuhnya sembari menyamping menatap sang suami yang terlentang dengan menutup matanya.
"Hubby," rengek Zahra menoel-noel pipi Daniel.
"Hm?"
"Bosan," rengek Zahra memeluk tubuh tegap suaminya.
"Hm."
"Hubby!"
"Apa sayang?" tanya Daniel membuka matanya lalu menghadapkan tubuhnya ke arah Zahra. Dengan lembut hati jemari Daniel membelai rambut Zahra.
"Bosan."
"So?"
"Ck, so?" ulang Zahra memberengut kesal.
Daniel tertawa lepas melihat ekspresi wajah istrinya yang sangat menggemaskan baginya. "Yasudah, daripada bosan-bosan. Yuk jalan-jalan," saran Daniel tersenyum manis.
__ADS_1
"Telat!" ketus Zahra membelakangi Daniel. Ia sudah tidak berselera untuk keluar lagi.
Daniel kembali tertawa lalu memeluk istrinya dari belakang sembari tangannya terus mengelus perut istrinya.
"Jadi, honey mau nya apa?"
"Hm."
"Honey?"
"Hm." Daniel kembali tertawa mendengar jawaban cuek istrinya.
"Baby," bisik Daniel dengan nada sensual.
"Ck, jangan mesum."
"Siapa yang mesum? Pikiran mu itu yang mesum, honey." Daniel mulai tersenyum nakal. Tangannya yang tadi mengelus perut Zahra kini sudah merajalela.
"Ck, aku sedang marah."
"Iya, sayang."
"Jangan pegang-pegang!" ketus Zahra.
"Iya, sayang." Jawabannya iya, namun tangannya tidak. Daniel terus memainkan jari jemarinya di tubuh istri tersayangnya.
"Hubby," rengek Zahra.
"Iya sayang."
"Jangan," tolak Zahra.
"Iya sayang."
"Mau kemana, darling?" tanya Daniel bangkit dari baring nya lalu berjalan mendekati Zahra yang sudah ada di depan pintu kamar.
"Pergi ke tempat yang tidak ada hubby di sana," jawab Zahra ketus.
"Ya ampun. Teganya dirimu, jangan tinggalkan aku." Daniel langsung melangkah cepat mengejar istrinya yang berjalan menuju halaman belakang.
Sesampainya di halaman belakang, Zahra duduk di sebuah ayunan. Semilir angin yang sejuk membuat ibu hamil itu merasa nyaman.
"Honey." Daniel datang sembari berbisik di telinga Zahra.
"Hm?"
"Nanti malam boleh yah," pinta Daniel.
"Boleh apanya?" tanya Zahra bingung.
"Hm, menjenguk anak kita."
Jawaban Daniel sontak membuat Zahra semakin bingung.
"Anak kita yang mana?" tanya Zahra.
__ADS_1
"Ck, memang nya kita punya anak berapa?"
"Belum ada," jawab Zahra spontan.
"Lalu yang ini?" tunjuk Daniel ke arah perut Zahra.
"Anak kita," jawab Zahra polos.
"Jadi?" kode Daniel.
"Jadi, apanya?" tanya Zahra semakin bingung.
"Bolehkan kalau nanti malam aku menjenguk anak kita?"
"Menjenguk? Bagaimana caranya? Dia kan masih di dalam perut, atau Hubby Ingin masuk ke dalam perut juga?" tanya Zahra membuat Daniel menepuk jidatnya sekaligus tertawa.
"Kalau di jelaskan sekarang pasti honey tidak akan mengerti. Jadi, nanti malam saja yah. Atau honey mau sekarang?"
"Apanya yang nanti malam dan apanya yang sekarang?" tanya Zahra semakin frustasi karena penasaran.
"Nanti malam yah," pinta Daniel memasang wajah imut.
"Apanya yang nanti malam?"
"Menjenguk anak kita."
Zahra tampak diam sembari berpikir keras. Anaknya masih di alam perut, tapi suaminya ingin menjenguk anak yang ada di dalam perut nya. Maksudnya apa?
"Bagaimana honey?"
"Yah, hanya menjenguk. Tidak lebih kan?"
"Iya, hanya menjenguk," jawab Daniel tersenyum cerah.
"Baiklah. Nanti malam yah."
"Hihihi, siap ibu komandan."
_
_
_
_
_
_
MAAF YAH KALAU AUTHOR TIDAK RUTIN UP. author sedang dalam kondisi tidak sehat. Mata author sakit, mohon di mengerti.
Kalau ada yang nanya. Mengapa dikit kali? mengapa lama kali up nya? Mengapa di potong-potong ceritanya? Crazy up Napa?
Author cuma bisa jawab. Author kalau tidak ada masalah atau sehat pasti akan rutin up seperti dulu-dulu nya. Tapi, author sedang dalam kondisi tidak memungkinkan untuk menulis. Jadi mohon di maklumi.
__ADS_1
Typo bertebaran dimana-mana harap bijak dalam berkomentar yah
tbc.