
Beberapa hari kemudian. Daniel dan Zahra pergi berlibur ke pantai. Zahra sangat ingin melihat pantai dan merasakan hembusan angin laut. Awalnya Daniel menolak karena memang laki-laki itu pemalas kalau sudah berhubungan dengan lingkungan luar. Baginya lebih baik ia mengasuh anaknya daripada keluar rumah.
Masih di dalam mobil. Zahra duduk di kursi belakang begitu juga dengan Daniel. Daniel lebih memilih menggunakan supir jika ada anak dan istrinya. Agar ia lebih leluasa bermain dengan putrinya.
Sedangkan Malik dan Aisyah serta Saras naik di lain mobil pula.
"Ke pantai kita, sayang." Daniel mengambil alih Zia kecil lalu mencium serta memeluk erat putrinya.
"Jangan seperti itu, Hubby. Nanti Zia tidak bisa bernafas," larang Zahra. Daniel pun langsung tersenyum dan mengangguk.
"Anak Abi... Sayang.. I love you," oceh Daniel tak jelas. Zahra hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah suaminya yang sangat gemas pada putri mereka.
Beberapa menit kemudian, akhirnya mobil pun sampai di kawasan pantai yang indah. Zahra turun dengan antusias begitu juga dengan Daniel. Terlihat Zia kecil pun tertawa walau tak bersuara.
"Ah, senangnya anak Abi. Jalan-jalan kita yah, nak."
Daniel mencium gemas putrinya lalu mengikuti kemana Zahra pergi. Begitu juga dengan Malik dan lainnya yang ikut kemana Zahra pergi.
Mereka berhenti di bawah pohon lalu menggelar tikar yang sudah di bawa. Berbagai makanan di keluarkan, tak lupa pula kayu bakar untuk membakar ikan dan ayam serta yang lainnya.
Zia sudah berpindah di tangan Saras. Nenek dan cucu itu tampak asyik bermain bersama sedangkan yang lainnya sibuk menyiapkan makanan.
Di saat asyik menggendongnya Zia, tiba-tiba Saras merasa sakit perut. Ia pun menitipkan Zia kecil pada Zahra.
"Ibu mau ke kamar mandi dulu," ucap Saras.
"Memangnya ibu tahu dimana kamar mandi? tanya Zahra.
"Tidak tahu," jawab Saras tampak kebingungan.
"Yasudah, biar Zahra temani."
"Hubby, boleh gendong Zia sebentar?"
__ADS_1
Daniel menoleh. "Tangan ku kotor, berikan dia pada Umi." Daniel menunjukkan tangannya yang kotor.
"Umi juga tidak bisa sayang, tangan Umi pedas. Berikan saja pada Abi," ucap Aisyah memperlihatkan cabe yang sedang ia pegang.
Malik yang mendengar itu pun tampak gugup, seumur hidupnya ia tak pernah sama sekali menggendong bayi.
"Abi, Zahra minta tolong."
Tak ada pilihan lain, jika ia menolak ia terlihat begitu sangat kejam. Ia pun mengulurkan tangannya lalu membawa Zia kecil dalam gendongan nya.
Zahra dan Saras pun pergi mencari kamar mandi meninggalkan Malik dengan kekakuannya dalam menggendong bayi.
"Abi jangan tegang," ledek Daniel sembari menghidupkan api.
"Siapa juga yang tegang?" elak Malik mencoba merilekskan tubuh dan wajahnya.
Di gendongan Malik, tampak Zia tertawa sembari sesekali bergerak membuat Malik kesusahan.
"Putri mu meliuk-liuk, Daniel." Ingin rasanya Malik meletakkan Zia kecil ke pasir agar ia tak perlu berhati-hati jika tubuh bayi kecil itu kesakitan karena nya.
"Mungkin semasa istri mu hamil kau memberinya makan ular, makanya dia meliuk-liuk," ledek Malik membuat Daniel hanya bisa menghela nafas panjang saja.
"Terserah, Abi."
Selang beberapa jam, semuanya pergi ke tempat yang mereka inginkan. Mereka semua sudah makan dan mengobrol, kini giliran menikmati berjalan di pinggir pantai.
Daniel menggendong putrinya lalu berjalan di samping istrinya.
"Suka?" tanya Daniel pada Zahra.
"Iya, suka sekali."
"Nanti malam jangan lupa berterima kasih yah," goda Daniel membuat Zahra mengerucutkan bibirnya.
__ADS_1
"Iya pak bos."
Mendengar jawaban Zahra Daniel sontak tertawa. Kerasnya suara tawa Daniel membuat Zia kecil terkejut dan akhirnya menangis.
Zahra langsung mengambil alih putrinya yang cengeng itu lalu mencoba mendiamkan Zia kecil.
"Huh, gara-gara Hubby Zia menangis. Tidak ada jatah nanti malam," ucap Zahra cemberut lalu meninggalkan Daniel yang terdiam dengan seribu penyesalan.
****
Malam sudah tiba tepatnya jam 20.00.
Karena hujan dan juga badai yang kencang, Daniel pun terpaksa shalat isya di rumah bersama istrinya. Ini adalah momen yang sangat indah baginya, bisa menjadi imam dengan diri yang masih bergelimang dosa.
Ba'da isya.
Daniel dan Zahra berniat mengaji sebentar, kini kedua insan itu saling berhadapan. Zahra memulai bacaannya sedangkan Daniel menyimak bacaan istrinya.
Dimana Zia?
Bayi kecil itu kini tengah bersama neneknya, jadi Daniel dan Zahra bisa menghabiskan waktu berduaan.
Setelah selesai mengaji, Zahra menutup kitab suci Al-Qur'an lalu menyalim suaminya.
"Terimakasih karena sudah menerima ku menjadi istrimu, menerima kekurangan serta identitas ku. Terimakasih, Hubby. "
Daniel tersenyum lalu mengecup kening Zahra. Tangan nya mengelus kepala istrinya.
"Terimakasih juga karena sudah mencintai ku, terimakasih karena sudah mau menerima ku dengan segala kekurangan serta masa lalu ku yang kelam. Terimakasih karena sudah bersedia membimbing ku, terimakasih karena sudah mau menjadi ibu dari anak ku. Terimakasih, honey."
"Aku mencintaimu Hubby."
"Hubby juga mencintaimu, honey."
__ADS_1
°_°
END.