
Apartemen xxxxxx
Surabaya
Seorang gadis terlihat masih nyaman dalam mengarungi buaian mimpinya, walaupun beberapa kali nampak menggeliat tapi gadis itu tetap semakin tenggelam dalam tidurnya.
Saat cahaya mentari mulai masuk melalui sela sela gorden jendela nya, membuat gadis yang masih nyaman dalam posisinya seketika mengerjapkan bola matanya.
Biasan cahaya membuat dirinya benar benar merasa terusik, sepersekian detik gadis itu mulai bangkit seraya meregang kan otot tangan dan lehernya.
Membiarkan tubuhnya diterpah oleh hangatnya cahaya sang surya, seolah olah dirinya sudah terlalu lama merindukan suasana saat seperti ini.
"Pagi Nona, semuanya sudah saya siapkan seperti bisa"
Suara Anna yang pertama menyapa pagi indahnya, yang beberapa saat lalu telah menyiapkan semua keperluan paginya
"Hmmm baiklah, apa kamu membawakan pesananan ku An..?"
Jawab Safira sembari melangkah kan kakinya menuju kamar mandi.
"Semua sudah berada dibawah Nona"
"Itu bagus"
Gadis itu langsung menutup pintu kamar mandinya dan membiarkan dirinya untuk membersikan tubuhnya.
Sesaat kemudian dirinya sudah terlihat turun kebawah dengan setelan kerjanya, pandangan pagi yang selalu sama, mendapati asisten pribadinya tengah menyiapkan sarapan pagi untuk dirinya.
Safira hanya mengulumkan senyuman nya seraya mendekati meja makan.
"Hmmm aku begitu lama tidak memakan makanan seperti ini"
Kata Safira sembari menghempas kan tubuhnya dikursi meja makan.
"Apa kamu membelinya di tepat biasa hmmm?"
Lanjutnya lagi, saat melihat menu makanan pesanan nya sudah disiapkan dihadapan dirinya.
"Iya Nona"
Dan Safira mulai menyuapkan makanannya kedalam mulut dengan lahapnya, dia fikir berapa lama dirinya tidak makan makanan seperti ini dan Ia sangat merindukannya.
Walaupun di Jakarta dirinya tidak susah mendapatkan nya, tapi yang namanya Khas dari kota nya sendiri, pastilah berbeda rasanya.
Sesaat setelah mendapatkan sarapan paginya, Safira dengan di temani Anna yang langsung melesat pergi menuju kantor.
Hari ini dirinya akan mulai bergerak mencari satu hal yang menjadi teka teki untuk dirinya.
Walau terkesan lebih awal tapi dia fikir memang lebih cepat akan lebih baik pula.
Apalagi tadi malam sang kakak mengabarkan kalau saat ini dia sudah mendapatkan apa yang tengah dia cari.
"Kakak sudah mendapatkan tikus tikusnya tinggal menunggu induknya keluar saja setelah itu baru kita akan menangkap nya bersama"
Ujar Arzu dengan nada penuh penekanan.
"Waktu kita kurang dari satu minggu baby, bergeraklah secepatnya"
Lanjutnya lagi.
Dan kini saatnya dia yang akan memulai bergerak juga, mencari tikus besar yang sudah berani membuat lubang di dalam perusahaannya.
"An.. panggil dia ke ruangan ku sekarang juga"
Ucap Safira yang saat ini tengah berada didalam ruang kerjanya.
Begitu mendengar perintah Nonanya dirinya langsung meraih gagang telpon yang berada di meja kerjanya dan mulai menghubungi seseorang disana.
__ADS_1
Cukup lama mereka menunggu tiba tiba pintu ruangan terdengar diketuk dan muncul lah seseorang yang sudah dinanti oleh Safira sejak tadi.
"Duduklah"
Perempuan itu langsung mendudukkan dirinya tepat didepan Safira, terlihat sedikit gelisah membuat Safira menarik sekilas ujung bibirnya.
"Kamu tahukan suatu penghianatan tidak akan perna mendapat kata maaf di perusahaan ini, dan sudah di pastikan dia tidak akan bisa berkarir lagi setelahnya"
Ucap Safira sedikit memajukan tubuhnya sambil bertumpuh pada kedua tangannya.
"Aku fikir karena kamu wanita yang smart, kamu pasti sangat paham apa yang saya katakan"
Lanjutnya lagi.
Alih alih menjawab, perempuan itu dengan santai menyandarkan punggungnya, mengangkat kaki kanannya ke punggung atas kaki kirinya seraya menatap Safira begitu dalam.
"Hmmm cukup paham dengan apa yang tengah Nona katakan"
Jawab perempuan itu cepat sembari melipat kedua tangannya.
Melihat sikap perempuan yang ada di depannya membuat Safira menggelengkan kepalanya.
Bahkan hingga membuat Anna terlihat mengepalkan kedua tangannya dengan sorot mata yang tajam mendengar nada bicara perempuan itu.
"Hmmm itu bagus, tapi bisakah kamu terlihat sedikit lebih sopan aku fikir kamu begitu berani"
"Benarkah.. itu berarti Nona harus membiasakan diri dengan hal seperti ini"
Lagi lagi mendengar mulut perempuan itu bicara membuat Anna tidak bisa menahan amarahnya lagi, kepala dan telinga Anna seoleh olah mengeluarkan asap yang siap membakar siapa saja saat ini.
Buruh buruh dia beranjak dari duduknya berjalan mendekati perempuan itu dengan gerakkan cepat dia memutar kursinya dan mencengkram lengan tangannya.
Sontak membuat perempuan itu terpekik terkejut dengan sikap asisten nonanya sampai membuat perempuan itu bangun dari duduknya.
Aaaaaawwhhh
Dia kasar sekali rupanya
"Kamu mulai kurang ajar rupanya, apa kamu sangat kesulitan belaku sopan kepada orang lain, hah!"
Seru Anna dengan menekan kalimat demi kalimat menatap geram kearah perempuan itu.
"Ish.. apa seperti ini seorang asisten pribadi dari Nona pemilik perusahaan"
Jawab perempuan itu, seraya menaikkan ujung alisnya.
Dia fikir mudah sekali membuat gadis yang satu ini menunjukkan kedua taringnya.
"Kau....
Ucapan Anna terhenti saat pundaknya di tepuk oleh Safira.
"Cukup.. tidak perlu sampai seperti ini"
Senyum kemenangan tampak jelas dibalik bibir perempuan itu, dia fikir Nonanya memang seorang gadis luar biasa yang penuh dengan kesabaran.
Membuat Anna mendengus sebal ke arah perempuan itu, dan mulai kembali duduk di meja kerjanya.
Safira hanya menatap heran kearah mereka berdua dan dengan santainya dia mulai berjalan menuju kursi sofa yang terletak disisi sebelah kanan meja kerjanya.
"Cih.. dia pemarah sekali"
Gerutu perempuan itu menepuk pelan kedua lengan bajunya sembaru mengikuti Safira duduk dikursi sofa tepat dihadapan nya.
"Bagaimana..?"
Tanya Safira sesaat setelah keadaan mulai terasa tenang.
"Aku sudah mengantongi beberapa nama, tapi belum bisa memastikannya saat ini"
__ADS_1
Jawab Perempuan itu.
Terlihat Safira mengerutkan keningnya seraya menatap tajam pada perempuan yang tengah duduk didepannya.
Dia merasa ada sesuatu yang tengah terjadi dengan perempuan di depannya saat ini.
Tidak biasanya dia begitu terlambat mengerjakan tugas dari dirinya, Ia fikir apa perempuan itu menemui kesulitan.
Atau jangan jangan memang ada seseorang yang membuat dia merasa sulit.
Ah.! ini membuat ku merasa sangat pusing
Batin Safira.
"Kenapa?"
Tanya Safira.
"Aku mengalami sedikit kesulitan untuk mengerjakan nya karena seseorang yang biasa berada disamping ku sedang berada dikantor pusat saat ini"
Hah.?
Ucapan perempuan itu seketika membuat Safira dan Anna semakin bingung, mereka berdua menatap kearah perempuan itu untuk meminta penjelasan darinya.
Bahkan Anna sampai bangkit dari duduknya dan mulai ikut bergabung bersama.
"Pusat.. maksud kamu kantor pusat diJakarta"
Tanya Anna sesaat setelah dia duduk disofa.
"Hmmm dia ikut menjadi perwakilan dari divisi nya, biasanya dia yang selalu menjadi bayangan ku selama menjalan kan tugas dari kamu Fira.."
Jawab perepuan itu.
"Kenapa tidak meminta bantuan yang lain, memangnya dia sehebat itukah ?"
Tanya Anna yang begitu penasaran dengan seseorang yang tengah menjadi bahan pembicaraan mereka saat ini.
"Dia belum perna mengecewakan sampai saat ini, untuk itu kamu bisa melihatnya sendiri nanti"
"Baiklah.. suruh orang mu untuk kembali dan secepatnya lanjutkan pencariannya"
Ujar Safira yang begitu penasaran.
Tapi seketika dirinya menaikkan ujung alisnya merasa heran melihat perempuan itu menggeleng kan cepat kepalanya.
Dia fikir apa ada masalah lagi.
"Apa lagi?"
"Kita kalah cepat Safira, kita tidak bisa meminta bantuan dia saat ini"
"Yaa.. maksud kamu apa, aku sudah tidak punya banyak waktu Caca, Arzu meminta ku menyeselai kan secepatnya sebelum pembangunan ini di laksanakan"
Seru Safira yang mulai merasa geram melihat temannya satu ini.
Bahkan dia begitu santai menyikapi masalah ini, benar benar begitu menyebalkan.
"Aku fikir dia sudah mulai bergerak sendiri masuk didalam permainan intiny Fira"
Jawab perempuan yang dipanggil Caca.
"Maksudnya..?"
Tanya bingung Safira dan Anna bersamaan.
"Dia sudah berada disamping Arzu saat ini"
Yaaaaa.!
__ADS_1
Apa.?