
Sudah seminggu ini Lily tidak mendapati Arzu masuk ke kantornya, jujur ada sedikit rasa cemas dalam hati kecilnya kalau kalau terjadi sesuatu dengan laki laki itu.
Terakhir dirinya bertemu dengan Arzu disaat kejadian penyerangan malam itu setelahnya laki laki itu tidak muncul kembali hingga saat ini.
Bahkan dia telah mengerahkan semua anak buahnya untuk mencari laki laki itu, tapi hasilnya tetap sama nihil, Arzu lenyap bak ditelan bumi.
Secara pelahan Lily menarik nafas dan menghembuskan nya, dilihatnya sebuah amplop berwana putih mendominasi yang berisikan surat pengunduran diri.
Niat hati hari ini Lily ingin pamit dengan bosnya itu, tapi ternyata lagi lagi sang bos tidak masuk bekerja.
"Kenapa lo, akhir akhir ini jadi gak semangat kerja begitu?"
Tanya salah satu teman divisinya.
Iya.. Lily sudah kembali lagi ketempat divisinya dulu, sebab tidak ada kabar lagi dari Arzu hingga Bu Ika kepala divisinya merekrut Ia kembali.
"Sebenarnya gue mau resign Dit"
Mendengar kata resign keluar dari mulut temannya, membuat sang empu menatapnya dengan tanda tanya.
"What.!!! lo serius.. kenapa? perasaan selama ini lo baik baik saja gak ada masalah, kenapa tiba tiba mau resign?"
Pekik Adit tidak percaya.
"Kepo iih.."
"Cih, sudah bagus aku perhatian ini, malah dibilang kepo, sak karep mu ae lah (terserah kamu saja lah)"
"Yeee marah.. nanti cakepnya hilang loh"
"Mboh yak (masa bodoh)"
Seketika tawa Lily begitu pecah melihat temannya merajuk seperti itu, tapi sesaat kemuadian dia terdiam mematung saat seorang laki laki gagah berjalan tepat dihadapannya membuat Lily mengerjabkan matanya beberapa kali.
Apa itu Arzu?!...
Apa benar itu dia, tapi kenapa...
Beberapa saat kemuadian terdengar telpon dimeja kerjanya berbunyi, dengan segera Lily mengangkatnya.
"Iya hallo, dengan Lily disini ada yang bisa saya bantu"
Kata Lily kemudian.
"Cepat pergi keruangan saya segera"
Ucap seorang diseberang sana lalu kemudian ditutup begitu saja.
__ADS_1
Cih, dasar.!
Memang gak bisa sedikit lebih lembut lagi apa bicaranya
Sepanjang perjalanan keruangan Arzu, Lily tidak berhenti mengumpat laki laki itu bahkan sumpah serapa terus keluar dari balik bibirnya.
Dan begitu dirinya masuk keruangan laki laki itu, bisa dia lihat Arzu tengah berdiri menghadap dinding kaca yang menyuguhkan pemandangan seluruh kota Surabaya.
"Permisi Pak"
"Saya mau kamu ikut saya ke Gedung Merah sekarang juga"
"Baik pak"
Jawab Lily tanpa fikir panjang.
"Dan setelah dari sana persiapkan barang barang kamu karena nanti sore kita akan pergi ke Jakarta"
"Hmmm iya pak"
Jawabnya lagi sambil menganggukan kepalanya.
Tapi sesaat kemudian di terbelalak matanya hingga menatap tajam kearah bosnya tersebut.
Yaaa.. bagaimana tadi..
Maksudnya aku harus ikut dia ke Jakarta begitu?!
Belum sempat Lily melanjutkan ucapannya, Arzu sudah membalikan tubuhnya dan berjalan kearahnya sambil berkata.
"Kita berangkat sekarang"
Setelah berkata begitu Arzu langsung melangkahkan kakinya keluar ruangan, dan mau tidak mau Lily ikut bergerak mengikuti Arzu dari belakang.
________________________
Gedung Merah
Pukul 10.30
Surabaya
Sejenak Arzu menghela nafasnya pelan, bola matanya memindahi bangunan yang hampir 90% selesai itu, kini menjadi hancur tidak berbentuk.
Kerugian jelas dirasakan oleh Arzu, mengingat apa yang tengah dikerjakan saat ini sudah menjadi rencana besar besaran sejak awal baginya.
Lalu sekang ini dia harus berbuat apa.?!
__ADS_1
Tadinya memang dia memiliki waktu yang cukup lama untuk menyeselaikan proyek Gedung Merah ini, tapi siapa sangkah ternyata saat ini dia hanya memiliki waktu kurang dari tiga minggu.
Sesaat dia melirik kearah wanita disebelahnya, sudut bibirnya terangkat sedikit, dalam hati berkata bahwa setiap musibah pasti ada hikmah dibaliknya.
Iya.. itu jelas benar, dan kini dia benar benar merasakannya.!
Satu hal PR nya kali ini, dia harus menyeselaikan semua ini dengan begitu cepat sebelum acara itu digelar nantinya.
"Come, kita masuk kedalam"
Arzh langsung meraih jari jemari tangan Lily membiarkan keduaanya saling bertahutan, dan segera Arzu membawahnya berjalan lurus kedepan.
Alih alih menolak Lily terlihat mengulumkan senyumnya, sembari menganggukan kepalanya pelan.
Sesampainya didalam nampak beberapa para perkerja sudah mulai memperbaiki beberapa bagian yang rusak, beruntung hanya sebagian yang terlihat hancur dan sebagian yang lainnya masih bisa direnov kembali.
Seseorang tiba tiba menyeruak menghampirinya, dengan begitu tergesa gesa dan begitu sampai dihadapannya laki laki itu tampak membungkukan tubuh kearah Arzu.
"Tuan"
"Bagaimana?"
"Semua sudah beres seperti apa yang Tuan inginkan"
Jawab laki laki tersebut.
"Hmmm itu bagus, pergilah.. tidak perlu mengantarku"
"Baik Tuan"
Setelahnya Arzu kembali membawa Lily untuk melanjutkan langkahnya dengan masih tetap mengandeng tangan perempuan tersebut.
Seolah menunjukan pada semua orang bahwa perempuan disampingnya kini adalah wanitanya.
"Apa kamu sudah lelah?"
Barisan kata tersebut menyadarkan Lily dari pikiran bodohnya sejak tadi, dia fikir kenapa dia sampai sesenang ini sih, gila.
Lily menggelengkan kepalanya sambil berkata.
"Belum"
"Hmmm setelah ini kita kembali kedepan, disana ada ruangan khusus nanti kamu bisa beristirahat disana sebentar sambil menikmati makan siang"
Arzu berucap lembut dengan gerakan tangan yang terulur menyelipkan beberapa anak rambut yang menutupi wajahnya.
"Hmmm iya"
__ADS_1
Seolah bingung untuk berucap apa, Lily hanya menurut semua kata laki laki itu.
Bahkan dia tidak habis fikir kenapa tiba tiba tubuhnya seolah ada tombol pengendali hingga dia tidak mampu menolak sedikitpun ucapan Arzu.