
Gedung Merah
Surabaya xxxxx
Si jago merah terlibat berkobar dengan begitu luar biasa yang melahap habis seluruh bangunan yang baru saja selesai dibangun itu.
Dari depan sudah ada beberapa mobil pemadam kebakaran tengah berjejer rapi yang sudah setengah jam yang lalu mencoba terus menghentikan kobaran api yang begitu besar tersebut.
"Kamu lihat, bukankah kita tidak perlu bersusah payah membuat hidangan pembukanya, mereka sendiri yang saling menghancurkan, Cih keluarga yang begitu buruk"
Seru Caca yang sejak tadi mengamati kejadian didepan mata kepalanya saat ini.
"Itu benar.. kita hanya akan menjadi pemanis dikala waktu yang tepat nantinya"
Jawab seseorang laki laki yang berada disamping Caca.
"Waaahhh.. welcome to Presdir AR Grup, hmmm lihat wajahnya begitu panik bukan"
Lanjutnya lagi, saat melihat Arzu datang dan langsung keluar dari dalam mobilnya dengan keadaan panik.
Sepersekian detik kemudian seseorang berbicara melalui sambungan bluetooth yang dipakai oleh laki laki itu.
"Baik.. ikuti meraka aku dengan Zero akan bergerak sekarang juga"
Setelah berkata begitu, laki laki itu menatap kearah Caca yang sejak tadi ikut mendengarkan pembicaraannya.
"Siap untuk bermain?"
"Of course Honey.. bukankah kita tidak boleh menyiayiakan umpan yang ditebar"
Sepersekian detik mereka berdua masuk kedalam mobil dan langsung melesat menuju dimana umpan yang mereka maksud.
Tapi saat baru beberapa meter mobil mereka bergerak tiba tiba handphone Caca berbunyi.
"Hmm.. iya"
"Lakukan pembersihan sekarang juga dan kembali ke Villa utama dengan segera"
Seru seseorang diseberang sana.
"What, apa kamu sudah gila Angel.. aku dengan Cifer sudah bergerak menuju ketempat taget utama saat ini"
Pekik Caca.
"Apa kamu akan melangkahi perintah dari Qee hmmm"
"Ah sial.. baiklah kita akan kembali sekarang juga"
Begitu sambungan telpon terputus Caca menatap laki laki yang berada dibalik kemudi tepat disampinya.
"Lakukan pembersihan.. perintah dari Qee"
"Hah.! kenapa tiba tiba sekali kita hampir mendapatkanya bukan"
__ADS_1
Alih alih menjawab Caca hanya mengangkat kedua bahunya seraya memberi kode keseluruh anggotanya agar segera melakukan pembersihan.
"Kamu juga menarik semua sayap kanan kembali ketempat"
Tanya Cifer.
"Apa aku punya pilihan lain.. dan kamu jangan coba coba untuk bergerak sendiri tarik sekarang juga semua anggota kamu"
Cifer hanya mengulukan senyumnya saat melihat gadis disebelah yang terlihat begitu marah.
"Ish.. dia begitu menggemaskan saat sedang marah seperti ini"
"Cih.. jangan harap aku akan berbunga bunga dengan kata kata itu"
Seru Caca setelahnya membuang pandangan nya keluar jendela dengan rona merah dikedua pipinya.
______________________
Disisi lainnya...
Arzu nampak menggeram dengan rahang mengeras begitu sempurna, mata merah menyalah bak seperti api yang persis tengah berkobar menyelimuti gedung miliknya saat ini.
Kedua tangannya mengepal dengan begitu erat sampai buku buku jari terlihat memutih seketika, seolah dirinya ingin menghatam siapa saja yang saat ini berada dalam jangkauannya.
"Bagaimana bisa semua ini terjadi, apa yang sebenarnya anak buah kamu kerjakan, Hah?"
Dengan gerakkan kasar Arzu menarik kera baju milik Dikhal dan menghantam wajahnya dengan begitu keras.
Oh Shi.t
"Apa tangan Tuan baik baik saja?"
Tanya Dikhal yang merasa cemas dengan kondisi tangan tuannya.
Alih alih menjawab Arzu mencoba mengibaskan sedikit tangannya yang terasa panas seraya mencoba menahan emosinya saat ini.
"Kita kembali ke mansion utama dan kumpulkan semua Death Wolf hari ini juga"
Setelah berkata begitu, Arzu langsung begegas masuk kedalam mobilnya dan melesat pergi begitu saja.
Sementara Dikhal langsung mengerjakan semua perintah sang tuan, dengan api kemarahan yang bersarang didalam tubuhnya, Dikhal mengirim kode sinyal untuk anggotanya.
Dan sepersekian detik kemudian dia menyeret langkahnya menuju sebuah motor yang sudah disiapkan sebelumnya dan langsung mengendarai nya menuju kesesuatu tempat.
___________________________
Beberapa waktu sebelumnya...
Sebelum Kebakaran Gedung Merah
Markas Besar
King Azlan Luches
__ADS_1
"Silakan Tuan menunggu disini, King Azlan akan turun sebentar lagi"
Ucap salah satu penjanga pada Zeus yang saat ini tengah memenuhi undangan sang keponakan.
"Hmmm baiklah"
Begitu penjaga itu pergi, telihat Zeus bedecak kesal saat dirinya melihat apa yang keponakannya miliki saat ini.
Di negara orang saja dia mempunyai tempat tinggal khusus seperti ini, apa kabar yang di London.
Tak khayal laki laki itu begitu membuat kakak laki lakinya begitu iri dan selalu ingin lebih darinya.
"Maaf telah membuat Paman terlalu lama menunggu"
Mendengar ucapan seseorang yang begitu Zeus kenali seketika dia mengalihkan pandangannya, menatap keatas dimana sang keponakan berdiri persis dipigiran pagar balkon yang tengah menatap dirinya.
"Ah bukan masalah, Paman juga baru sampai"
Secara perlahan Azlan berjalan menuruni anak tangga dengan aura penguasa yang memancar dalam tubuhnya.
Begitu Azlan sampai dibawah, dia langsung menghempas kan tubuhnya diatas kursi sofa dan mengisyarat kan agar sang paman juga duduk mengikutinya saat ini.
Beberapa saat kemudian terlihat seorang perempuan muncul dengan membawa nampan berisikan sebuah minuman, dengan gerakan perlahan dan manis perempuan itu mulai menuangkan nya tepat dihadapan kedua laki laki yang tengah beradu pandang tersebut.
"Aku begitu tidak percaya kalau saja bukan Dikhal yang mengatakan bahwa Paman berada di Indonesia, mungkin Paman tidak akan berkunjung ditempat ku seperti saat ini"
Azlan meraih rokok dan pemantiknya secara bersamaan kemudian dengan cepat dia mulai menyalakan rokok tersebut, lalu menghisapnya dengan gerakan perlahan.
"Bukankah terlihat aneh saat Paman tiba tiba berkunjung ke Indonesia kalau tidak ada sesuatu hal yang penting"
Lanjutnya lagi.
"Ah itu.. Paman hanya ingin menemui Shan dan Monic, ada satu hal yang harus disampaikan, hmmm hanya masalah keluarga"
Zeus mencoba mengatur pernafasnya yang tiba tiba terasa seperti dicekik seseorang, dia begitu gugup dengan pertanyaan menohok dari keponakan nya.
"Hmm aku baru ingat.. Shan juga berada di Indonesia saat ini, sedikit aneh memang saat seorang seperti Shan yang tahu tahu bergerak sendiri mengurusi proyek kali ini"
"Masalah itu, Paman memang agak kurang faham mungkin karena mega proyek jadi Shan fikir harus dirinya sendiri yang bekerja secara langsung"
"Aku harap kalian tidak melakukan sesuatu yang diluar akal pemikiran ku, Paman tahu bukan bagaimana keponakan Paman yang satu ini"
Ucap Azlan dengan penuh penekanan disetiap kalimatnya.
"Paman tidak sebodoh itu Arzu, kamu harus percaya bahwa Paman memang hanya ingin menemui Shan dan istrinya"
Alih alih menjawab Arzu hanya menaikan ujung bibirnya seraya menganggukan kepalanya pelan.
Iya.. Arzu adalah King Azlan, pemimpin dari Death Wolf, yang dulu markas besarnya terletak di ujung utara kota London, tapi karena ada sesuatu hal yang membuat dirinya harus memindahkan markas besarnya di Indonesia.
Tidak banyak orang yang mengetahui tempat barunya saat ini, tapi begitu jelas semua orang yang berada didunia bawah tahu bagaimana berkuasanya dari seorang King Azlan dalam berkuasa.
__ADS_1
Bahkan dirinya harus rela berperang dengan saudara sendiri karena sebagai seorang King Azlan, karena darah yang mengalir dalam tubuh antara dirinya dengan sang kakak selama ini dari Clan yang berbeda.
Dan itu membuat pukulan hebat untuk Arzu, karena dia tidak dapat memilih antara kaumnya ataupun saudara sendiri.