
Saat Lily mendengar suara tembakan beruntun, dia mencoba melihat apa yang sedang terjadi.
Begitu dirinya menemukan celah lubang di dinding yang tidak terlalu besar itu, seketika dia bisa melihat dengan jelas bagaiman saat ini Arzu yang nampak mulai tersudut dan membuat dia tidak dapat begerak.
Membuat dia gelagapan hingga memutuskan harus melakukan sesuatu.
Baigamana ini? hmmm apa yang bisa aku lakukan?
Apa aku bisa kewat dari sini, ah baiklah
Dia mencoba menyeimbang kan tubuhnya untuk sejenak, sambil menahan nafasnya untuk beberapa saat, begerak dengan hati hati memasukan tubuhnya kelubang kecil tersebut.
Walaupun nampak begitu kesulitan tapi Lily terus mencobanya.
Oh shi.t!
Kenapa ini sempit sekali, aaagghh
Begitu tubuhnya sudah bisa keluar dengan gerakan cepat Lily menarik kasar kakinya sembari memperhatikan keadaan kalau kalau ada yang mengetahui keberadaan nya saat ini.
Lily berjalan dengan berlahan menghampiri pilar yang bisa membuat tubuhnya bersembunyi, dengan seringai licik dibibir Lily tanganya membidik target yang sedang ingin menerkan mangsanya.
Well.. kalian akan aku kirim kesurga milik Lucifer saat ini juga
Dan..
Doorrr
Doorrr
Doorrr
Peluru itu menembus tepat dikepala anggota Black Baal membuat semuanya langsung terkapar bersimba dengan darah.
Arzu yang melihat kejadian didepannya nampak memfokuskan diri pada siluet seseorang dibalik pilar, seakan tersamarkan tapi dia bisa mengenali siapa sosok dibalik topeng tersebut.
Ahh, kamu juga datang rupanya, hmmm ini akan semakin menarik
Dengan menarik sudut bibirnya Arzu begegas melesat pergi dari ruangan tersebut karena ingin melakukan sesuatu.
_________________
Disisi Lain..
Kembali Ke Mira dan Dikhal
Mira mencoba melompat kesisi jendela, menghantam tepat bagian kepala laki laki didepan nya itu, dari arah samping satu laki laki mencoba mengeluarkan bom rakitnya dan melempar kearah Mira.
Dan seketika Mira menarik kasar laki laki dihadapan nya saat ini, melempar tubuh keatas menyambut bom rakit yang hendak mengantam dirinya itu, menendang nya kembali arah laki laki tadi.
Booooommmm
BLaaaaarrrrrrrr
Begitu kakinya mendarat, dengan gerakan cepat Mira mencekik dan memutar kepala laki laki itu hingga.
Kleeteekkk
Braaaakkkk
Laki laki itu terkapar begitu saja.
Cih, jangan lupa sampaikan salamku kepada malaikat penjaga neraka
Mira berjalan kembali kearah Dikhal, bisa Mira lihat laki laki itu tengah bersandar sambil memegangi perut bagian sisi kirinya.
Dengan raut wajah pucat karena begitu banyak darah yang keluar dari perutnya, secepat kilat Mira melepaskan tas ransel dibalik punggungnya.
"Apa begitu sakit Love"
Tanya Mira yang sudah duduk dihadapan Dikhal dengan tangannya terus bergerak mengeluarkan sesuatu dari dalam sana.
Mendengar seseorang tengah bicara, seketika Dikhal membuka matanya.
Ah perempuan ini, dia kembali lagi kesini rupanya aku fikir dia tidak kembali
Eh.!
Dikhal terkejut saat Mira membuka bajunya, dia fikir apa yang dilakukan perempuan ini, kenapa begitu berani sekali dia.
__ADS_1
Dengan cepat Dikhal mencekal tangan Mira sembari menatapnya begitu tajam.
"Kenapa, aku hanya ingin mengobatinya"
"Tidak perlu"
Dikhal menggelengkan kepalanya.
"Diamlah, aku tidak bisa melihat kamu terluka seperti ini"
Mira meraih tangan Dikhal, menusukan sesuatu disana dan begitu selang infus terpasang dia menatap Dikhal untuk sesaat.
"Aku melupakan anastesinya, bisakah kamu menahannya aku akan mengeluarkan nya dengan cepat"
Dikhal yang sejak tadi memperhatikan apa yang tengah Mira lakukan, hanya menarik ujung alisnya sembari menganggukan kepalanya pelan.
Terlihat Mira menggulumkan senyumnya, kemudian dengan hati hati tangannya bergerak diatas perut Dikhal.
Sesenang itu saat aku mengijinkan dia mengobati luka ku, eeessssstthhhh
Dikhal terlihat meringis saat Mira berhasil mengeluarkan pelurunya, dan dengan cepat Mira menjahit luka tersebut.
Lagi lagi Dikhal berdesis saat jemari Mira melakukan sesuatu diatas perutnya.
Beberapa saat kemudian Mira nampak membereskan peralatan medisnya masuk kedalam tas setelah membalut luka Dikhal.
"Siapa kamu sebenarnya, kenapa kamu ada disini?"
Tanya Dikhal penasaran.
"Cih, bisakah kamu berterima kasih terlebih dahulu?"
Nampak Dikhal mengulumkan senyumanya, saat melihat bibir perempuan itu mengerucut begitu kesal, walau bagian mata tertutup dengan topeng tapi dia masih bisa melihat dengan jelas bagaimana wajah perempuan itu.
"Baiklah, terima kasih"
"Aku fikir orang dewasa tahu bagaimana cara berterima kasih yang benar"
Apa?!.
Belum sempat Dikhal mengucapkan sesuatu, tahu tahu Mira menenggelamkan bibirnya begitu saja kearah bibir Dikhal.
Oh shi.t
Mira begerak terus menyes.ap dan melum.at bibir laki laki itu, walau merasa begitu kaku tapi Mira yakin sedikit memberi pancingan, laki laki itu akan menyambut dengan suka rela nantinya.
Secara pelahan Mira mulai bergerak turun menyapu leher Dikhal, memberi beberapa sesapan tanda cinta disana membuat Dikhal merasa sensasi begitu luar biasa didalam tubuhnya.
Dalam hati Dikhal mengumpat kesal, karena perempuan ini begitu pandai membangkitkan hasratnya dan seketika membangunkan sesuatu yang tertidur begitu lama.
Oh damn it
Akhirnya Dikhal menyerah begitu saja, melupakan rasa sakit akibat terkena tembakan tadi, Secara perlahan Dikhal membalas pangutan yang sejak tadi terus bergerak menggoda dirinya
Dengan naluri tangan nakalnya, mencoba bergerak masuk dibalik baju perempuan itu hingga membuat Mira mende.sah dan mengg.erang hebat saat tangan kokoh itu memil.in pucuk buah dada ranumnya.
"Aakhh..."
"Kamu menyukainya Love"
Bisik Dikhal dibalik telinga Mira sambil melum.at lembut telinganya.
"Hmmm.. ooh Love.."
Dikhal menarik ujung bibirnya, dengan terus bergerak menggoda dan membuat basah.
Samar samar seseorang berbicara dibalik telinganya, bahkan terus mencoba memanggil namanya, dia fikir kenapa harus ada penganggu disaat seperti ini.
Tapi saat dia mengenali suara seseorang yang tengah memangilnya tersebut, mau tidak mau dia harus menjawabnya.
Delta..
"Hmmm..."
Gumam Mira dengan nada suara tertahan, begitu Dikhal mengulum pucuk niple nya.
Kamu dimana? are you oke..?
"Okee hmm.. move..ing attack hah.."
__ADS_1
Lagi lagi Mira mencoba menekan kesadarannya saat buah ranumnya dihis.ap kuat hingga menimbulkan warna kemerahan disana.
Ternyata serigala ini begitu liar dan buas, hmmm bagaimana aku tidak menggilai kamu oohhh... eeeessssttthhh
Oh shi.t
_________________
Kembali Ke Lily..
Begitu melihat mangsanya tergeletak diatas tanah Lily langsung mengedarkan pandangannya mencari sosok laki laki yang sudah Ia tolong
Tapi saat bola matanya menyisir tempat itu, dia tidak mendapatkan Arzu berada disana, dia fikir apa laki laki itu sudah keluar dan menyelamatkan diri.
Ah baguslah, dia tidak harus ambil pusing dengan laki laki itu, tujuannya saat ini mencari dan menghabisi Gara, laki laki sampah yang sudah membuat dia dendam setengah mati akan perbuatanya.
"Cek posisi.."
Intruksinya pada anggota Red One.
"Zero clear, arah sembilan"
Ucap Nina.
"Angel clear, arah ekor musuh"
Ucap Nilam.
"Neo clear, arah mata elang"
Untuk sesaat tiba tiba menjadi hening karena seakan menunggu seseorang yang belum memberi informasi.
"Delta.."
Tanya Lily yang masih mendengarkan jawaban Mira yang entah dimana keberadaan nya.
"Delta where're you?"
Mencoba menajamkan telinganya saat samar samar terdengar suara diseberang sana.
"Delta.."
"Hmmm..."
Gumam Mira dengan nada suara tertahan.
"Kamu dimana? are you oke..?"
"Okee hmm.. move..ing attack hah.."
Mendengar jawaban Mira nampak semua orang terdiam dan sama sama mengerutkan keningnya.
Begitupun dengan Lily merasa kenapa suara Mira seperti itu, biasanya dia selalu tegas tapi kenapa tiba tiba jadi aneh begini, terlihat seperti?!
"Yaaa bit.che.. bisa bisa di saat seperti ini kamu.. oh shi.t"
Lily hanya sanggup menggelengkan kepala sambil memijit kedua pelipisnya dia fikir bisa bisanya dalam keadaan sengit seperti ini Mira malah begitu asik bercinta.
Oh god
Dan bisa Lily dengar semua para perempuan mengumpat satu sama lain, bahkan Nina begitu kesal hingga berteriak memaki Mira.
Seolah enggan perduli lagi dengan hal tersebut, Lily kemudian bergerak mengejar dimana keberadaan Gara.
Dia berlari melesat begitu cepat saat mendapat informasi dari Green dimana keberadaan laki laki tersebut.
Begitu dia mencapai titik lokasi, dia nampak tercengang hingga mematung ditempat.
Pasalnya saat ini dia melihat laki laki itu terkapar dibawah tanah dengan wajah berlumuran darah. didepannya terlihat Yama tengah mengarahkan pistol tepat membidik kearah Gara.
Apa dia akan membunuhnya? bukankah itu terlihat memudahkan takdir kehidupannya didunia, tanpa merasakan rasa sakitnya kehancuran
Dengan kedua tangan yang mengepal hingga buku buku jarinya terlihat, Lily menyeret langkah begitu tegas ingin menghentikan aksi Yama.
Tapi sepersekian detik tiba tiba tangannya ditarik seseorang, dimemutar hingga membentur ke dinding hingga membuat dirinya tersentak begitu sakit.
"Kamu juga datang, Baby?"
Deg.
__ADS_1