
"Kamu juga datang, Baby?"
Deg.
"Azlan.."
Lily begitu terkejut melihat Azlan disini, menatap heran sembari memindahi wajah laki laki yang berada didepannya saat ini, walaupun laki laki itu memakai penutup muka yang sama halnya dengan dirinya tapi dia tahu jelas siapa laki laki yang ada didepannya saat ini.
Seorang King Azlan luches dari clan Death Wolf Mafia kelas kakap, yang sangat terkenal dengan kekuasaanya diseluruh dataran Eropa, bahkan tidak ada clan mafia manapun yang sanggup melawanya karena kabarnya meraka memiliki seorang kaki tangan yang begitu kejam dan sadis yang bernama Demon Wolf.
"Kenapa kamu disini?"
Tanyanya pada Arzu, Dia bingung kenapa laki laki ini tiba tiba berada disini, apa ada sesuatu hal yang ingin di lakukan laki laki tersebut.
Dengan senyum smirk, Arzu secara perlahan mendekatkan wajahnya ke wajah Lily dan berbisik lirih dibalik telinganya.
"Karena ada kamu disini, calon istri"
Lily merasa tubuhnya tiba tiba saja meremang seketika saat telinganya dikecup mesra oleh Arzu, laki laki itu memang kabarnya terkenal begitu pandai dalam hal menaklukkan wanita.
Apalagi posisi mereka yang begitu dekat dan intim seperti saat ini membuat jantung Lily bertedak sepuluh kali lebih cepat dari sebelumnya bahkan dirinya tidak bisa bernafas dengan baik.
"Azlan.."
Suara Lily begitu lirih yang hampir seperti sebuah desa.han dibalik telinga Arzu.
Deg.
Suara itu? kenapa seperti tidak asing.. seperti suara..
Masih dipenuhi tanda tanya dan seperti ingin mendengar suara merdu milik calon istrinya tersebut, Arzu kembali melancarkan aksinya, laki laki itu kemudian menggerakan bibirnya turun kebawah menyapuh lembut bagian leher indah tersebut sambil menggesek gesekan hidung mancungnya didalam sana.
Lily yang mendapat perlakuan seperti itu hanya dapat memejamkan mata seraya menggengam erat jubah tebal yang Arzu kenakan.
Dia merasa apa yang dilakukan Arzu membuat tubuhnya tiba tiba menjadi panas dingin, walapun terus mencoba menekan kesadarannya tapi Lily begitu kalah dengan pertahanan Arzu, yang tidak bergerak sama sekali saat dirinya mencoba mendorong laki laki itu.
"Hmmm.. Azlan.."
Mendengar suara indah itu lagi seketika Arzu menghentikan gerakannya, menarik cepat wajahnya agar dapat melihat wajah cantik calon istrinya yang berada dibalik topeng hitam tersebut.
Apakah kamu perempuan itu? suara kamu begitu mirip dengannya
Ah sial.. kenapa harus ada perjanjian konyol yang baru bisa melihat wajahnya disaat telah menikah
Arzu memang tidak tahu banyak tentang calon istrinya ini, mengingat surat wasiat perjodohan yang dibuat oleh leluhur Death Wolf, membuat Arzu tidak dapat banyak berinteraksi dengan calon istrinya ini, sebab sudah jelas dituliskan bahwa pertemuan pertama akan dilakukan saat acara pertunangan dan yang kedua saat pesta pernikahan.
Dia fikir bukankah itu terlihat begitu aneh, bagaimana dia bisa menikahi seorang perempuan yang tidak dia temui sebelumnya bahkan dia tidak di ijinkan untuk mengenalnya secara personal.
__ADS_1
Itu sebabnya sampai hampir delapan tahun setelah acara pertunangan resminya, dia belum memutuskan kapan dia akan menikahi calon istrinya tersebut.
Merasa Arzu menghentikan gerakannya Lily secara perlahan membuka kedua matanya, dan bisa dia lihat ditengah tengah cahaya yang temaram, laki laki itu tengah menatap dirinya begitu dalam dan tajam.
Mata itu? kenapa seperti tidak asing untukku.. seperti milik?!...
"Bukankah aku terlihat begitu beruntung, yang seharusnya dipertemuan kedua ini, kita harusnya sudah dalam status suami istri"
Ah.. iya aku sampai melupakan hal itu.!!
Lily hanya menganggukan kepalanya.
"Apa ada sesuatu hal yang saat ini kamu kerjakan, kenapa berada disini"
Masalah benar atau tidak dengan asumsinya itu, Arzu mencoba bersikap tenang terlebih dahulu nanti disaat ada waktu dia akan mencari tahu secepatnya.
Alih alih menjawab, Lily mencoba bertanya balik kepada Arzu.
"Kamu yang kenapa berada disini, apa kamu punya masalah juga dengan Black Baal"
"Hmmmm.. hanya sedikit ada sangkutan dengan pemimpin mereka"
Mendengar ucapan Arzu seketika membuat Lily melemparkan pandangannya kesembarang arah dan terdiam untuk beberapa saat, setelahnya dia menatap wajah laki laki didepan kembali.
"Apa kamu akan menghabisi mereka, Azlan?"
"Hmmm masih belum tahu, tergantung bagaimana sikap mereka nanti, kenapa?"
Secara perlahan tangan Arzu menyusup dibalik tengkung leher Lily dengan ibu jari yang mengusap lembut di telinganya.
"Katakan ada apa, hmmm?"
Seolah ragu ingin mengatakannya, tapi Lily juga tidak mau kalau Gara begitu mudah mendapatkan pelajaran atas dosanya dimasa lalu.
Hah.!
Ditarik nafasnya dalam dalam lalu dihembuskan secara perlahan lahan pula.
"Boleh aku meminta satu hal?"
Hanya dijawab anggukan oleh Arzu.
"Apapun yang kamu lakukan terhadap Gara, biarkan hanya aku yang membuat dia berhenti bernafas"
"Bukan masalah"
Lily mengembangkan senyumnya saat mendengar jawaban Arzu.
__ADS_1
"Hmmm terimah kasih"
"Aku fikir kamu tahu bagaimana cara berterima kasih dengan benar, Baby"
Seru Arzu seraya ibu jarinya berpindah mengusap lembut bibir Lily dengan menarik tipis ujung bibirnya.
Seolah tahu apa yang diminta oleh Arzu seketika Lily mengalungkan kedua tangannya ke leher laki laki itu, dan sepersekian detik kemudian bibirnya sudah tenggelam dengan sempurna dalam kenikmatan madu milik seorang King Azlan seorang penguasa dari Death Wolf sekaligus tunangan nya itu.
Setelah puas saling bertautan begitu panas dan dalam keduanya saling pandang dengan nafas yang menderuh deruh.
Saling mengusap bibir pasangan masing masing, masih merasa gugup dan canggung sebab ini pertama kalinya bagi kedua pasangan itu melakukan hal lebih dari yang tertulis dalam surat wasiat perjodohan.
"Dia begitu manis.. tapi sayang aku lupa mengatakan kalau bukan itu yang aku maksud"
"Apa?!"
"Persiapkan diri kamu dalam satu bulan kedepan, aku akan meminta penghormatan untuk menerima mahkotamu saat malam pengantin kita sebagai imbalannya"
Setelah berkata begitu, Arzu langsung melesat pergi menjauh dari sana.
Aku tidak percaya ternyata benar itu kamu, bibir itu rasanya sama seperti saat pertama kali kita bersentuhan
Disisi lain Lily hanya diam, layaknya orang bodoh Ia menatap punggung kokoh itu mulai menjauhinya, tapi sepersekian detik kemudian matanya terbelalak saat sadar apa yang dikatakan calon suaminya tersebut.
Persiapan.. penghormatan mahkota.. malam pengantin..
Yang benar saja? dan apa itu tadi..
Dalam satu bulan, gila.. apa dia baik baik saja iiisshh
"Red One, lakukan pembersihan sekarang juga dan kembali ke Qee House dengan segera"
Ucanya pada seseorang dibalik earphonenya lalu kemudian melangkahkan kakinya keluar dari dalam markas Black Baal yang sudah hancur tersebut.
__________________
Epilog.
"Apa lukanya baik baik saja"
Tanya Mira sambil melepaskan jarum infus ditangan Dikhal.
"Hmmm"
Hanya bisa berdehem sembari mengatur nafasnya.
Mira yang melihat itu hanya mengulumkan senyum sembari menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
Aku bahkan tidak perna menemukan laki laki sehebat kamu
Hmmm... kecuali dari ayahnya Megan