
Ditempat Lain...
Hampstead, London Utara
10.30 PM
Malam hari
Seorang laki laki matang berusia 38 tahun terlihat tengah dilanda api kemarahan begitu berapi api, beberapa buku buku dan hiasan atik didepannya tergeletak dibawah hancur seketika menjadi sasaran emosi laki laki itu.
Seakan tidak perduli dengan keadaan disekelilingnya dia pelampiaskan dengan penuh kegilaan yang luar biasa.
Disisi belakangnya nampak dua orang laki laki tengah duduk dengan rahang yang mengeras seperti tidak mau kalah emosi dengan dirinya.
Walau sedikit lebih tenang dan bisa menguasai diri tapi yakinlah kedua laki laki itu jauh lebih meluap luap akan kabar yang beberapa saat yang lalu mereka terima.
"Kamu yakin laki laki itu tidak mencurigai kita Zeus, kita terlalu meremehkan kemampuannya saat ini"
Ucapnya pada laki laki bernama Zeus dengan pandangan lurus menatap laki laki yang terlihat kacau tengah berdiri didepannya.
"Aku fikir laki laki bodoh itu belum tahu, kita melakukannya dengan begitu sempurna akan sangat sulit untuk mereka ketahui"
"Tapi kita sudah tidak dapat bergerak lagi saat ini, semuanya telah berada dalam genggaman nya"
Seru laki laki itu sambil tangannya meraih gelas berisi minuman berakohol dan secara perlahan dia menghabiskan nya dengan sekali teguk.
Rasa khawatir dan cemas jelas menguar dalam dirinya saat ini.
Mengingat baru kali ini rencananya diketahui sang korban utama bahkan semua orang suruhan yang bergerak di belakang dirinya telah diringkus dalam kendali AR Grup yang kemungkinan besar akan menjadi bomerang untuknnya.
"Bukan masalah kita masih punya perempuan itu Yori, apa kamu melupakannya?"
"Tapi..
Belum sempat laki laki bernama Yori meneruskan ucapannya terdengar gelas kaca yang dilempar begitu keras hingga hancur tak berbentuk.
Membuat kedua laki laki itu terpekik terkejut dengan apa yang tengah dilakukan laki laki yang berdiri didepan mereka.
"Hah.. kalian benar benar bodoh... persiapkan penerbangannya, aku mau kita sampai ke indonesia dalam tepat waktu"
Yaaa...
Hah... !!
Pekik kedua laki laki itu bersamaan mendengar ucapan laki laki didepannya.
"Apa kamu sudah gila Gara... Itu sama halnya kita menyerahkan diri pada mereka"
Pekik Yori dia fikir bukankah sama saja dengan bunuh diri kalau sampai harus pergi kesana.
Apalagi saat ini mereka sudah mulai bergerak mencari seseorang yang lebih besar yang tidak lain adalah dirinya dan kedua rekannya ini.
Bukankah seharusnya kita pergi bersembunyi sambil memikirkan rencana selanjutnya.
__ADS_1
Bukan harus mendatangi medan perang yang saat ini semua perajuritnya dalam keadaan tewas semua.
"Uncle fikir sejauh ini Arzu akan diam saja begitu.. aku yakin saat ini tikus milik laki laki itu sudah bergerak dalam perjalanan menuju kemari, kita sudah jauh sampai disini lebih baik kita lanjutkan rencananya bukan"
Mendengar ucapan Gara kedua laki laki paru baya itu seketika terdiam untuk beberapa saat kemudian mereka terlihat menganggukan kepalanya pertanda setuju.
"Baiklah aku akan persiapkan perjalanannya dalam waktu kurang dari tiga jam"
Ucap Zeus seraya beranjak dari duduknya kemudian menatap kearah Yori.
"Pastikan kamu sudah menghubungi perempuan itu untuk rencana kita selanjutnya"
Sepersekian detik laki laki itu melesat pergi meninggal kan kedua laki laki yang masih terdiam dalam fikirannya.
Hening untuk beberapa saat.
"Apa kamu yakin dengan semua ini Gara.. uncle fikir Arzu akan murka setelah mengetahui segalanya dan hubungan kamu, Arzu dan daddy kamu pasti akan semakin memburuk"
Alih alih menjab pertanyaan dari Yori, Gara lebih memilih menuangkan minumannya kedalam gelas setelahnya menyesap sampai habis.
Dia fikir memang sudah sejak lama hubungan dirinya dan Arzu kurang baik karna kejadian di masa lalu.
Dia masih ingat saat hari itu dimana dia mendengar pertengkaran hebat antara kedua orang tuanya yang berakibat kolapsnya sang ibu sampai tidak dapat tertolong seketika membuat api kebencian dalam dirinya untuk sang daddy mendarah daging.
Bahkan puncaknya ketika dua hari setelah ibunya meninggal daddy nya memutuskan menikah lagi dengan seorang perempuan yang saat ini selalu dipanggil ibu oleh Arzu.
Dan pada akhirnya saat diusia 8 tahun kala itu dia sudah berikrar sumpah didepan makam sang ibu, menghancurkan siapa saja yang telah merusak kebahagian dirinya.
Dengan mengasing kan diri dari keluarga baru daddy nya, memilih ikut tinggal dengan kakak kandung ibunya yang selalu dipanggil uncle zeus.
"Hah..! menantu tampan ku.. hmmm iya dia selalu menjadi mata dan kaki untuk Arzu karna ada seorang gadis kecil yang begitu dia cintai.. Cih menyusahkan.!"
Mendengar ucapan uncle Yogi membuat Gara menaring ujung bibirnya.
Rumitnya masalah keluarga karna tahta dan uang yang berdampak buruknya ikatan tali kekeluargaan menjadi buruk dan keruh.
Dari patner kerja menjadi besan (Zeus dan Yogi), melawan anak yang berstatus menantu karna menjadi perisai dari musuhnya (Shan), melibatkan gadis kesayangannya demi rumah tangga karna ada gadis lain (Monic dan Safira).
Hah.!
Begitu membingungkan masalah ini.
"Baiklah kita persiapkan perangnya kali ini, pastikan kamu bisa memancing laki laki tua itu agar keluar dari singgasananya dan gadis rubah itu.. pastikan kamu menyingkirkan nya dia sudah terlalu lama menyiksa hati gadis kecilku"
Ucapnya pada Gara.
"Hmmm sesuai perjanjian awal bukan"
Jawab Gara seraya tersenyum kecut dengan fikiran yang masih dipenuhi tanda tanya.
____________________
Kembali Ke Indonesia...
__ADS_1
Begitu keluar dari apartemen milik Arzu secepat kilat Lily mengendarai kuda besinya, melesat begitu cepat melewati beberapa kendaraan didepannya.
Beruntung dia selalu lebih suka menggunakan sepeda motor dibandingkan mobil, karna dia merasa lebih cepat sampai dan juga bisa menembus jalanan sempit dikala macet seperti sekarang ini.
Saat dirinya fokus memperhatikan jalan yang sedikit lenggang, tangan kirinya mulai meraih liontin kalung berwarna merah nampak manis bersemayam dileher indahnya, menekan sedikit setelahnya dia mulai lebih cepat melesat mengendarai motornya.
Dan beberapa saat kemudian Lily sudah tiba di sebuah rumah sederhana, yang sudah begitu tidak asing lagi.
Terlihat seorang perempuan berdiri dipingiran balkon lantai atas yang sejak tadi memperhatikan kedatanganya.
Begitu dia mulai masuk kedalam rumah dia sudah disambut beberapa wanita cantik yang tengah duduk anggun diatas kursi sofa.
"Cih.. dua kali tanda redcode berbunyi tapi dia begitu terlambat saat datang"
Mendengar gerutuan salah satu perempuan didepannya membuat Lily hanya terkekeh geli.
"So.. apa yang membuat pertemuan kita begitu penting sampai kamu mengharuskan aku pergi secepat kilat dari Jakarta ke Surabaya hmmm"
Tanya perempuan yang perlahan menuruni anak tangga dan langsung duduk didepannya.
Dia adalah Caca yang mendapat panggilan Zero, perempuan yang tadi menyambut kedatangannya dibalkon atas.
"Hmmm laki laki sampah itu kembali lagi"
Ucap Lily dengan padang yang tidak lepas dari wanita disamping kiri depannya.
Hah.!
Apa.?
Pekik semua bersamaan.
"Kamu yakin.. memang mau apalagi dia kesini?"
Tanya ragu Nina yang mendapat panggilan Neo tersebut.
Alih alih menjawab Lily hanya menaikan ujung bibirnya seraya menatap perempuan yang duduk di sampingnya.
"Apa sampah itu yang tengah kalian berdua cari beberapa hari ini?"
Seolah tahu tatapan dari sahabatnya sang Delta perempuan cantik bernama Mira, menebak sosok besar yang selama ini yang mereka cari.
"Ucapannya selalu tepat pada sasarannya"
Oh god.!
Terlihat Caca menghela kasar nafasnya, tiba tiba saja dia kesulitan untuk berfikir kali ini.
Ingatannya kembali saat kejadian di masalalu yang begitu membekas dan memberikan rasa sakit luar biasa untuk seseorang yang sudah dianggapnya saudara, bahkan orang itu sangat menderita dengan waktu yang begitu lama.
Dia dan semua yang berada disinipun bergantian membantu dengan cara apapun untuk menyembukan lukanya walaupun begitu sulit untuk mengembalikan psikisnya yang begitu hancur pada saat itu.
__ADS_1
Diliriknya perempuan yang sejak tadi diam dan menundukan pandangannya, seperti tengah mencerna kabar yang membuat jantung semua orang berdetak tak beraturan.
Apa dia baik baik saja.?