BiRahi Cinta Milikku

BiRahi Cinta Milikku
Masalah Pernikahan


__ADS_3

Villa Qee House


Tempat Tersembunyi...


Lily menatap sang mama (Bibinya, ibu kandung Nilam) untuk beberapa waktu, pembicaraan mengenai rencana dirinya yang akan segera menikah dengan laki laki pilihan leluhurnya, membuat kedua perempuan berbeda generasi itu sedang berfikir serius.


Bahkan mamanya hanya terlihat mengetuk ngetuk jemari sambil beberapa kali menyesap minumnya tapi Lily belum juga mendapatkan opini dari perempuan paruh baya itu.


"Kalau begitu persiapkan diri kamu"


Ucap sang mama.


"Tapi Ma.. aku.."


"Kenapa? apa ada masalah lagi, kamu tidak berencana untuk mundur bukan"


Alih alih menjawab Lily hanya diam sambil mengangkat pelan kedua bahunya.


"Hah, .. Mama tahu ini begitu sulit kamu jalani, tapi satu hal yang harus kamu tahu jika kamu tidak menikah dengan King Azlan maka seluruh aset yang kita miliki menjadi hak milik Death Wolf"


"Dan itu berarti peninggalan Papa kamu juga termasuk didalamnya"


Lanjut mamanya.


Mendengar itu Lily hanya mengusap wajahnya kasar seraya memejamkan matanya barang sejenak.


Iya.. dia ingat akan poin utama itu, tapi dulu itu bukan menjadi masalah bagi dirinya kalau harus menikah dengan laki laki berkuasa milik Death Wolf tersebut.


Tapi kini, entah kenapa saat ini hal itu menjadi keraguan untuk dirinya, pertemuan singkat dengan Arzu membuat hatinya mulai tergoyah sedikit banyaknya.


Laki laki itu begitu kena sampai kedalam hati, sikap main mainnya terhadap Arzu yang hanya sekedar penghibur dirinya kala itu tenyata menjadi bantu hantaman sendiri untuk perasaannya saat ini.


Dan sepertinya perasaan itu harus dia tahan begitu susah payah sejak mengetahui bahwa laki laki itu keturunan Ramzeed, yang begitu mustahil untuk dia perjuangakan.


Dia fikir kenapa harus keturunan Ramzeed kenapa bukan orang lain saja, kalau seperti ini bagaimana Lily bisa mengupayahkan Arzu untuk terus berada disampingnya.


Kenapa jadi pelik seperti ini haahh, gara gara perasaan bodoh ini


Kenapa juga harus ada surat wasiat perjodohan konyol itu


"Mama akan menghibungi Cifer untuk menyiapkan segala sesuatunya di Red Castle, dan Mama fikir secepatnya urus pengunduran diri kamu di perusahaan laki laki itu, minimal dua minggu sebelum hari pernikahannya"


Alih alih menjawab ucapan sang mama, Lily hanya menganggukan kepalanya pelan.


Kemudian secara perlahan mamanya mulai beranjak dan melangkahkan kakinya menjauh.


____________________


Disisi lain...


Ruang Kerja Rahasia


"Cih, dasar gak ada akhlak lo.. memang gak ada tempat yang lain apa buat begituan?"


Sugut Nina pada Mira sembari tangannya begerak melucuti benerapa mainannya yang berada dibagian tubuhnya.


"Kayak gak tahu gimana Mira saja, kalau udah ada sinyal bawahannya pengen nyetrum aja biar lancar loadingnya hahaha"


Seru Green.


Nilam dan Caca hanya menggulum senyum nya seraya menggelengkan kepalannya pelan.

__ADS_1


"Ish.. berisik loh"


"Idih dia marah.. giliran kita berisik disuruh diem, tapi saat dia yang berisik disuruh diem malah makin berisik"


Mendengar ucapan Nina seketika membuat semuanya tidak dapat menahan tawanya.


"Tahu lo.. berbaik hatilah dengan telinga kita, yang harus tercemar dengan kelakuan lo"


Ucap Caca.


Mira hanya mencebik seraya membereskan peralatan medisnya kedalam lemari tabung sterilisasi.


Nilam yang melihat beberapa alat medis Mira yang seperti sehabis digunakan tersebut, membuat dirinya mengerutkan keningnya untuk beberapa saat.


"Apa kamu terluka, Mir"


Mendengar ucapan Nilam membuat semua orang menatap kearah Mira.


"Gak.. memang kenapa?"


Jawab cepat Mira, yang masih sibuk dengan kegiatanya tersebut.


"Semua peralatan lo ada bekas darahnya, kalau lo gak terluka terus siapa?"


"Tadi ada laki laki yang butuh pertolongan yaa gue bantuin"


"Siapa?.. anggota Black Baal"


Tanya Caca.


"Bukan, yah kali gue bantuin mereka, gue gak tahu siapa, tapi laki laki itu seperti begitu familiar menurut gue"


Semua orang membeo bersamaan.


"Hmmm.. dari pakaiannya kayak gak asing gitu, tapi gue gak ingat siapa"


"Ck, gak ingat orangnya tapi dia ingat gimana rasanya"


Seru Nina.


"Emang anjaaaiiiii nih anak, lama lama gue suntik lumpuh itu mulut"


Pekik Mira menatap tajam kearah Nina"


Hahahaah


Dan gelak tawa terdengar besahutan ditengah tengah obrolan semua anggota Red One, yang cukup membuat pemanasaan untuk mainannya yang sudah lama tidak mereka gunakan.


___________________


Di Lain Tempat..


Shan menatap tajam kearah Gara sembari kedua tangannya mencekram kuat kera baju laki laki itu.


Bisa dia lihat beberapa luka telah bersemayam dibeberapa bagian tubuhnya, bahkan wajahnya pun saat ini terlihat begitu sulit untuk dikenali.


Disisi sebelah kanannya terlihat papanya Zeus dan mertuanya Yori yang telah terkapar tidak bergerak didalam salah satu ruang jeruji besi, sedangkan dibelakang Gara nampak perempuan yang sejak tadi mengaduh kesakitan dikedua kakinya.


Iya.. itu adalah istrinya Monic, kali ini Shan benar benar begitu marah bahkan sampai sekarang rasa itu kian meledak dalam tubuhnya.


Bagaimana tidak dia fikir hal ini hanya perbuatan mereka bertiga tapi siapa sangkah sang istri yang dinikahinya selama tujuh tahun yang lalu itu ternyata juga ikut terlibat.

__ADS_1


Oh god


Kenapa dia baru menyadari ini semua.!


Bahkan kabar yang dia dengar beberapa saat lalu membuat pukulan telak untuk dirinya, Bahwa kejadian menghilangnya sang kekasih sepuluh tahun yang lalu, disebabkan oleh campur tangan laki laki itu, Gara


Dan lagi lagi Gara harus menerima taring panjang milik Shan yang begitu tajam mengoyak seluruh tubuh laki laki tersebut.


"Kamu memang bereng.sek... laki laki bajing.an"


Bukk


Satu pukulan lagi mendarat diwajah Gara, tapi tidak sedikitpun laki laki itu mengaduh kesakitan, malah sebaliknya Gara terkekeh pelan melihat kemarahan Shan, seolah tengah mengejek.


"Katakan.. katakan dimana dia, dimana Niahku"


Pekik Shan lalu kemudiam mendorongnya kasar hingga Gara terjungkal kebelakang.


"Cih Niahmu.. bagaimana bisa kamu menyebut nama gadis itu begitu mesra, kalau pada akhirnya dia lebih memilih mendes.ahkan namaku diatas ranjangku"


Mendengar kata kata Gara seketika Shan semakin tersulut emosi, dan...


Buukk.. Buukk.. Buukk..


"Kau memang dasar bajing.an"


Shan yang hendak menghantam Gara lagi seketika tertahan karena tangannya dicekal seseorang.


"Cukup Yama.. cukup, kamu bisa membunuhnya"


Ucap Arzu dan menjauhkan Shan dari hadapan Gara yang sudah tidak berdaya.


"Iya, itu benar.. aku memang harus membunuh laki laki bajing.an itu Azlan"


"No, aku tidak mengijinkan kamu menghilangkan nyawanya"


"Apa kamu gila, dia telah merusak gadis yang begitu aku cintai, biarkan aku membunuhnya"


Shan hendak melangkahkan kakinya tapi secepat kilan Arzu mencoba menahannya kembali.


"Aku ijinkan kamu berbuat apapun padanya, tapi tidak dengan membunuhnya hmmm"


"Tapi kenapa, bukankah bajing.an ini lebih baik mati"


Sugut Shan menatap tidak percaya kearah Arzu.


"Hmmm aku tahu, itu sebabnya aku mengijinkankan kamu hanya untuk bermain dengannya, sebab ada orang lain yang lebih pantas untuk membunuhnya nanti"


Setelah berkata begitu Arzu melemparkan pandangannya kearah Dikhal sembari berkata.


"Pastikan laki laki itu masih bernafas hingga satu bulan kedepan aku tidak mau ada sesuatu hal yang diluar fikiran saat menjalang hari pernikahanku"


Haahh


Apaaa


Shan dan Dikhal terkejut secara bersamaan.


Pernikahan?!.


Alih alih perduli dengan keterkejutan mereka, Arzu memilih melesat pergi melangkahkan kakinya keluar dari dalam ruangan tersebut.

__ADS_1


__ADS_2