
Setelah berbicara dari hati kehati Lily mengajak Niah untuk bertemu dengan malaikat kecil mereka.
Adiknya berkata kalau putranya Albi mendesak ingin bertemu dengan dirinya, karena memang sejak tadi pagi Ia belum bertemu dan menyapa putranya itu.
Begitu dia masuk kedalam ruangan yang begitu khas kamar anak laki laki yang mulai beranjak dewasa, dirinya hanya bisa menggelengkan kepalanya pelan.
Cih.. kebiasaan.!
Bisa dilihat putranya tengah bermain game dengan begitu serius tanpa terusik sedikitpun bahkan anak laki laki itu sama sekali tidak menyadari kehadiran dirinya saat ini.
"Lari Ed.. lari go..
"hmmm ya.. ya.. oohh astaga.. why are you so stupid Ed.. oh god"
Pekik Albi seraya tangannya terus bergerak menekan nekan tombol mouse yang ada didepanya.
"Lula sayang no.. jangan lari kesitu baby.. go.. go.. aaiisshh.. wait wait tunggu aku baby"
Lily yang sejak tadi memperhatikan apa yang sedang dilakukan putranya seketika terbelalak matanya saat mendengar ucapan sang putra.
Apa itu.. bagaimana.. ish bisa-bisanya dia bicara seperti itu
Hah.! tidak bisa dibiarkan
Berbedah dengan Niah, dia hanya bisa menahan tawanya saat melihat sang kakak nampak shock dengan ucapan putarnya.
Dia fikir kakaknya memang belum tahu betul mengenai keseharian putranya, hampir setiap hari Albi sepeti itu saat sedang bermain bahkan bisa jadi lebih parah dari itu.
Tapi tiba tiba dirinya merasa bingung menatap kakaknya yang berjalan kesisi meja lalu kemudian menjongkok kan tubuhnya disana.
Mau apa sih.?
Tapi sesaat kemudian dia menarik ujung bibirnya saat baru paham apa yang sebenarnya yang ingin dilakukan oleh sang kakak.
Teeggkk
Begitu semua peralatan gamenya mati seketika Albi menjadi panik dan mendengus kesal.
Bisa dilihat Albi menggerakkan kepalanya kekanan dan kekiri seperti memeriksa apa terjadi sesuatu dengan peralatan gamenya sambil mulutnya terus mengerutu marah marah.
"Yaa.. apa ini kenapa mati tiba tiba ish.. haaaaa.. what the hi...iill..."
Begitu Albi memutar kursinya seketika dia terkejut melihat mommy nya yang tengah melotot kearah arah dirinya.
Apalagi saat melihat perempuan yang berada disebelah sang mommy yang menjulurkan lidah sambil tangannya menyentuh leher seketika dirinya menelan salivanya.
Astaga, apa Mommy mendengar perkataan spam aku tadi
Waaaa bisa gawat ini kalau beneran tahu 🙀
"Mommy.. hehehee.. kapan mommy datang, hmmm mommy.. "
__ADS_1
Ucapannya terhenti sesaat melihat perempuan yang disebelah mommy nya mendapat sambungan telpon dan buruh buruh perempuan itu keluar dari kamarnya yang membuat Albi semakin dilanda rasa takut.
"Kamu mempunyai cukup banyak waktu senggang rupanya .."
Mendengar nada bicara sang mommy secara refleks Albi menundukkan kepalanya, dia tahu kalau saat ini dirinya harus mendengarkan semua yang dikatakan perempuan didepannya ini tanpa ada bantahan sedikitpun.
Perna suatu ketika dirinya enggan mendengarkan semua ucapan sang mommy dia fikir mommy nya pasti seperti mama mama diluaran sana yang hanya keras dan tegas saja dimulut.
Tapi siapa sangka dirinya malah menuai hal buruk dari apa yang dia lakukan, ternyata mommy nya semakin marah begitu luar biasa hingga berakhir dirinya dihukum disalah satu ruangan mengerikkan yang membuat dia enggan lagi melakukan kesalahan.
"Saking senggangnya sampai kamu begitu menikmati permainannya bahkan Mommy begitu terkejut saat mendengar ucapan kamu tadi"
Lily berjalan kesisi pinggiran tempat tidur, menjatuhkan pelan tubuhnya disana sambil menatap anak laki laki yang berada didepannya.
"Kalau begitu mommy fikir sebaiknya akan mempercepat masa pelatihan kamu"
"Mom..
Pekik Albi tertahan, merasa sedikit terkejut dengan ucapan mommy nya tapi setelah itu dirinya merutuki kelakuanya sendiri karena tidak bisa menjaga ucapan.
Bisa Albi lihat sang mommy menaikkan ujung bibirnya seraya menggelengkan kepalanya pelan.
Oh Ya Tuhan.. terkutuklah engkau mulut
"Kamu masih ingat apa yang perna mommy ucapakan?"
Albi hanya menganggukkan kepalanya.
"Kamu juga tahu seperti apa mommy kamu bukan?"
"Good.. setelah ini kembalilah ke villa besar dan segera persiapakan diri kamu begitu uncle Cifer datang"
Mendengar ucapan mommy nya seketika membuat Albi berkaca kaca, dia fikir haruskah dia pergi secepat ini, Ia masih ingin bersama sang mommy.
Lily yang melihat perubahan raut wajah putranya seketika menghela pelan nafasnya, secara perlahan dia mulai berjalan mendekati sang putra, menepuk pelan bahunya dan sepersekian detik kemudian memeluk Albi begitu erat.
"Ingat poin pertama.. jadilah kuat dari yang terkuat hmmm.. kamu laki laki, harus bisa"
Alih alih menjawab Albi hanya bisa menganggukan kepalanya sambil menahan air matanya yang ingin keluar.
Merasakan sang putra hanya diam dengan tubuh yang sedikit bergetar membuat Lily menepuk pelan punggung putranya tersebut sembari berkata.
"Untuk hari ini mommy izinkan kamu untuk menangis Son.. "
Dan benar saja didetik berikutnya Albi sudah menumpahkan seluruh air matanya dalam dekapannya.
Maafkan Mommy son.....
______________________
Markas Besar
King Azlan Luches
__ADS_1
Tempat Tersembunyi.....
Derap langkah kaki seseorang terdengar menggema disepanjang lorong gelap yang minim cahaya tersebut.
Terlihat beberapa pilar menjulang tinggi dengan kain merah menyalah mendominasi menggantung disela sela pilar tinggi itu menambah khas elegan walaupun tempatnya sedikit membuat orang takut.
Begitu tiba dipintu besar dengan beberapa ukiran berbentuk kepala singa itu nampak dua orang penjaga berbadan tinggi dan kekar itu tengah berdiri seraya menundukkan kepalanya.
Secara perlahan salah satu penjaga itu membukakan pintu untuk dirinya dan segera saja dirinya masuk begitu saja kedalam dengan gaya kharismatiknya.
Sesampainya didalam laki laki itu menatap beberapa orang tengah menyambutnya tapi alih alih perduli laki laki itu berjalan melewati semuanya menuju kursi besar yang berada ujung tengah ruangan itu.
"Dimana mereka?"
Tanya laki laki itu tanpa mengalihkan pandangannya yang masih menatap lurus kedepan.
Entah laki laki itu bertanya pada siapa, tapi yang jelas beberapa orang yang berada diruangan itu tahu siapa yang pantas menjawab ucapan laki laki berkuasa tersebut.
"Sudah berada ditempat yang seharusnya Azlan"
Jawab laki laki yang tengah duduk disamping kanannya.
"Hmmm Lalu bagaimana dengan kedua laki laki tua itu"
"Hanya uncle Zeus yang akan datang.. hmmm kemungkinan satu jam lagi dia akan tiba ditempat biasanya"
Terlihat laki laki yang dipanggil Azlan menganggukkan kepalanya pelan.
"Dan masalah perempuan itu, apa kamu sudah mengetahui siapa dia?"
Tanya Azlan.
"Begitu sulit untuk kita mencari data aslinya, aku fikir dia memang sengaja menyembunyi kan identitasnm aslinya karena bisa jadi dia didalam dunia yang sama seperti kita"
Mendengar jawaban dari laki laki disampingnya itu Azlan hanya menghela kasar nafasnya.
Pertemuan pertama dengan perempuan itu memberi kesan berbeda untuk dirinya tapi saat itu Ia masih ragu untuk menilai lebih pada perempuan itu.
Tapi mengingat kejadian disaat pagi hari itu yang hampir membuat dirinya lepas kendali, secara refleks tubuhnya menegang dan membeku seketika.
Pasalnya dia melihat bekas luka yang tersamarkan dengan tato indah, tepat diatas dada kirinya membuat otaknya memikirkan sesuatu.
Bekas luka tembak.!
Iya dia begitu familiar dengan itu bahkan dibeberapa bagian tubuhnya pun juga ada bekas tersebut, tapi untuk gadis biasa seperti perempuan itu mendapat bekas tembak itu rasanya tidak mungkin, kecuali perempuan itu benar benar masuk kedalam dunia bawah.
Apalagi saat perempuan itu dengan mudahnya memecahkan masalah rumit yang dirinya alami, membuat dia semakin yakin perempuan itu begitu istimewah.
"Panggil Yama kemari besok.. katakan pada dia sudah cukup bermain pentak umpetnya"
Perintahnya pada laki laki yang berada didampingnya.
"Baik Azlan.."
__ADS_1
Jawab tegas laki laki tersebut.