
Begitu Lily masuk kedalam ruang Arzu, bisa dia lihat laki laki itu tengah fokus menatap layar ponsel miliknya diatas kursi sofa, sementara Dikhal duduk tepat didepannya dengan beberapa berkas dihadapannya.
Seolah tidak perduli dengan kedatangan dirinya, mereka berdua asik sibuk sendiri dengan apa yang mereka lakukan.
Lily yang semenjak tadi tengah berusaha meredam emosinya atas kejadian beberapa saat yang lalu, seketika meluap luap kembali saat dirinya tidak dihiraukan sama sekali.
Bahkan saat tadi dirinya masuk dan menyapa keduanya, mereka hanya melirik sekilas dan bersikap acuh kembali.
Kalau bukan pemilik perusahaan udah gue hantam itu kepalanya
Cih.!
Baiklah.. aku juga masa bodoh
Tapi beberapa saat kemudian terlihat Dikhal mulai beranjak dari duduknya yang seperti ingin bergegas untuk pergi.
"Tuan.. saya permisi sebentar"
Ucap Dikhal.
"Hmmm"
Dan benar saja laki laki itu pamit untuk pergi, tapi sebelumnya
Ish.. dasar serigala, hmmm lihat saja gimana reaksi kamu nanti saat berhadapan dengan serigala betina ku.. Ck
Batin Lily saat sebelum Dikhal keluar ruangan, laki laki itu sempat menatap dirinya dengan padangan begitu sulit sembari tersenyum mengejek.
"Duduklah.."
Seru Arzu tanpa mengalihkan pandangannya dari layar ponsel miliknya.
Secara perlahan Lily berjalan mendekat, duduk tepat didepan Arzu dengan ribuan perasaan cemas yang tidak menentuh.
"Kamu sudah sarapan pagi ini?"
Eh.!
Apa aku tidak salah dengar
"Su..sudah Pak"
Mendengar jawaban perempuan didepannya membuat Arzu mendengus kesal.
Dengan gerakan kasar dirinya melempar ponsel keatas meja lalu kemudian melipat kedua tangannya, entah kenapa dia merasa benar benar begitu kesal hari ini.
Cih.. sudah bagus kemaren panggil nama kenapa sekarang jadi Pak
"Sepertinya kamu tidak menyukai pekerjaan yang saya berikan, walaupun dengan tidak tahu malunya kamu meminta digaji yang begitu besar hmmm"
Seketika Lily membelalakan matanya dengan mulut ternganga, dia fikir laki laki berkuasa ini ternyata mempunyai mulut pedas juga rupanya.
Maksudnya apa coba berbicara seperti itu bukankah dia yang memberi penawaran pekerjaan, terus dimana letak kesalahannya, bahkan dia sempat menolak tapi laki laki itu terus saja mendesak.
"Bukankah tugas yang Bapak berikan sudah saya selesaikan, Pak Dikhal juga bilang seperti itu jadi saya pikir.. "
"Kamu fikir apa hmmm.. "
Potong Arzu sembari menatap Lily.
__ADS_1
"Saya fikir sudah bisa kembali kepada pekerjaan saya sebelumnya Pak"
Memang apalagi coba, kan kemarin perjanjiannya juga seperti itu
Dengan ragu Lily menatap mata coklat laki laki didepannya itu yang juga tengah menatapnya saat ini.
Untuk beberapa saat mereka saling diam dengan saling memandang, sejatinya mereka sama sama memiliki banyak pertanyaan satu sama lain.
Terutama Arzu, yang entah kenapa dia begitu sulit mencari tahu siapa sebenarnya perempuan itu, yang sejak pertama kali sudah menggangu fikirannya.
Siapa kamu sebenarnya Lily?!.. disaat kamu sudah bisa membuat hatiku bergetar tapi kenapa kamu begitu banyak memiliki rahasia
Sepersekian detik kemudian tiba tiba Dikhal menyeruak masuk kembali kedalam ruangan Arzu dengan raut wajah begitu panik dan cemas.
"Tuan..
"Ada apa?"
"Terjadi kebakaran di Gedung Merah Tuan.."
Alih alih menjawab ucapan Dikhal, Arzu seketika beranjak dari duduknya dan melesat pergi begitu saja dengan langkah terburuh buruh bersama Dikhal yang mengikutinya dari belakang.
Sementara Lily hanya diam mematung mendengar kabar buruk itu, tetapi sesaat kemudian dia beranjak keluar ruangan juga sembari tangannya menghubungi seseorang.
"Hallo Qee.."
Jawab perempuan diseberang sana saat beberapa kali dia mencoba menelpon.
"kamu dimana?"
Tanya Lily yang saat ini sudah berada didepan lobby perusahaan.
Dan begitu kaca mobil terbuka bisa Lily lihat Mira dan Nilam sudah bersiap dalam posisinya.
"Kita tidak punya banyak waktu.. go.."
Mendengar ucapan Nilam, Lily masuk kedalam mobil begitu saja dan secepat kilat mereka bertiga keluar dari gedung perusahaan menuju kesesuatu tempat.
"Apa yang kamu dapatkan Angel"
Tanya Lily saat ditengah tengah dalam perjalanan mereka.
"Ini begitu sulit, tapi ini juga akan membuat kamu tidak percaya dan begitu marah"
Secara perlahan Nilam mengulurkan satu benda dari tangannya, membuat Lily mengerutkan keningnya sembari tangannya menerima benda tersebut dan langsung melihatnya.
Ini.. ini.. bagaimana bisa? Gara dan Arzu.. mereka bersaudara.. jadi selama ini..
Oh shi.t
Seketika Lily menggelengkan kepalanya, seolah dirinya tidak percaya bahwa selama ini dirinya bekerja dengan perusahaan yang telah menghancurkan keluarganya.
Bahkan dengan bodohnya dia dan yang lainnya selama ini membantu perusahaan ini disaat dalam masalah, bahkan gilanya dirinya sempat melakukan hal bodoh dan memalukan bersama Arzu waktu itu.
Hah.!
"Kita sudah terlalu jauh membuat hidup mereka baik baik saja selama ini Qee.. dan itu membuat ku menyesal dan begitu marah pada diriku sendiri karena terlalu bodoh saat terlambat untuk mengetahuinya"
Rutuk Nilam yang begitu kesal saat mengetahui kenyataannya selama ini.
__ADS_1
Berharap sang kakak berlindung dari seseorang dimasa lalu dengan bekerja di perusahaan terbesar di Indonesia walaupun hanya di anak cabangnya, tapi ternyata membuat dirinya begitu marah saat tahu siapa pemilik perusahaan tersebut.
"Apa Zero sudah mengetahuinya?"
"Kamu bisa menebaknya sendiri Qee"
Jawab Mira cepat, membuat Lily menghela kasar nafasnya.
"Bahkan ini begitu sedikit diluar pemikiran kita.. Zero bergerak bersama Cifer saat ini"
"Apa"
Lily begitu terkejut mendengar satu nama itu keluar dari mulut perempuan yang duduk didepannya saat ini
"Tapi bagaimana..."
Ah Sial.!
Aku lupa kalau hari ini Cifer akan datang menjemput Albi, dia pasti akan ikut bergerak walau tanpa persetujuan dariku
"Lalu bagaimana dengan gadis itu, bukankah dia bersama Zero selama ini?"
"Aku fikir kita begitu tahu siapa Cifer bukan, dia tidak akan melepaskan siapapun keturunan dari Black Baal barang sedikitpun"
Oh god.!
Lily mencoba memejamkan kedua matanya barang sejenak dengan satu tangan memijat kedua pelipisnya.
Tunggu sebentar..
Kenapa mereka sampai terlibat dalam perang dingin seperti ini bukankah mereka..?
Disaat fikiran tengah mencoba merangkai semua pristiwa yang terjadi saat ini, tiba tiba dirinya teringat dengan seseorang yang juga ikut bermain dibelakang mereka saat ini.
Dia merasa apa jangan jangan laki laki itu?.
Apa mungkin itu dia, apa dia masih begitu mencintai Niahku?!.
"Delta stop.. putar balik mobilnya, kita akan kembali ke villa sekarang juga, tarik Zero dan semua anggota kembali ketempat"
Apa
Hah
Pekik mereka berdua bersamaan, bagaimana bisa disaat keadaan seperti ini Qee nya menyuruh kembali ke villa.
"Apa kamu bercanda, kita hampir sampai Qee"
Seru Mira seolah tidak terima apa yang diperintahkan sang Alpha.
"Apa aku terlihat sedang bercanda hmmm"
"Tapi Kak..
"Apa kamu juga berencana mendebatkan masalah ini dengan Kakak kamu sendiri Angel?"
Alih alih menjawab Nilam hanya mengeram seraya menghubungi seseorang yang berada diseberang sana.
Begitupun dengan Mira, yang langsung memutar kemudinya membawa mereka bertiga kembali ke villa utama.
__ADS_1