
Udara lembab mulai terasa dikala sang mentari nampak lelah melihat bumi, perlahan namun pasti dia mulai menutup mata dan berakhir dalam pekatnya kegelapan.
Disisi perempatan jalan nampak sebuah bangunan besar yang didalamnya banyak menyimpan berbagai macam barangan yang selalu di perlukan setiap orang dalam keperluan hidupnya.
Terlihat seorang perempuan cantik dengan raut wajah bingungnya, tengah menatap rak besar yang berada di hadapannya dengan sesekali tangannya mengetuk ngetuk ujung dagunya.
Bingung.!
Tidak jauh di belakangnya satu perempuan tengah mendorong sebuah troli belanja yang sudah nampak penuh dengan berbagai macam barang.
"Udah belum.. gue udah laper nih?"
Suara rengek Mira yang kesal karna mulai merasa lapar.
Bagaimana tidak kesal, hampir dua jam lebih mereka berada di supermarket untuk membeli keperluan pribadi mereka.
Tapi temannya yang satu ini belum juga ada tanda tanda menyelesaikan acara belanjanya, entah apa lagi yang mau dibelinya.
"Hmmm iya sebentar"
Lagi lagi Mira merasa geram dia fikir belanjaan sebanyak ini apa masih kurang.
Bahkan dirinya tinggal disini kurang dari satu minggu tapi belanjaan mereka bisa untuk satu bulan.
Yang benar saja
Batin Mira sembari menggeleng kan kepalanya pelan.
"Mir.. menurut loe yang ini apa yang ini"
Tanya Lily sambil menunjukkan barang yang tengah berada di tangan kiri dan kanannya.
Mira yang melihat itu hanya menjawab dengan jari telunjuknya mengarah ke sebelah kanan.
"Ish masa yang ini.. gue fikir yang ini lebih bagus"
Jawab Lily seraya meletakkan barang yang di pilih ke troli belanja lalu berlalu begitu saja sambil masih melihat lihat barang yang lain.
Benar benar nih anak minta di pecahin kepalanya
Gumam lirih Mira.
Di lain tempat terlihat seorang perempuan tengah berada di place daging, dengan sedikit membungkuk kan tubuhnya di dekat etalase pendingin dia mulai memilih.
Tapi karena dirinya jarang sekali belanja membuat dia sedikit kesulitan untuk memilih mana daging yang bagus dan masih segar.
Dengan cara asal perempuan itu mengambil salah satu dagingnya, tapi tiba tiba dengan gerakan cepat tangan seseorang menghentikannya.
Seketika perempuan itu melihat kesamping kanannya dan bisa di lihat wajah cantik milik Lily terseyum kearahnya.
"Aku rasa itu pilihan yang begitu buruk"
Ucap Lily.
Ah.!
"Ya.. maksudnya ?"
Alih alih menjawab, Lily sibuk mengambil daging yang terlihat masih segar dan langsung memberikan nya pada perempuan itu.
"Ini terlihat lebih baik dari pada yang tadi"
Ucap Lily lagi sembari tersenyum.
Perempuan itu terlihat masih tertegun dengan apa yang barusan terjadi, tapi sesaat kemudian dia baru mengerti dan membalas dengan senyuman juga.
"Hmm terima kasih...."
"Lii... nama aku Lily tapi biasa dipanggil Lii"
Kata Lily seraya tangannya bersalaman dengan perempuan di depannya.
"Ah.. aku Monic, senang bisa berkenalan dengan kamu"
Mendengar ucapan Monic, Lily hanya menggulum senyum nya, tapi saat dirinya melihat menampilan perempuan didepannya membuat Lily mengerutkan keninnya.
Jas tebal khas musim dingin, celana hitam panjang dan juga sepatu boots.
Lily fikir bukankah ini terlihat begitu berlebihan, hanya untuk belanja dia harus memakai baju seperti itu.
Seketika Lily menaikkan ujung bibirnya seraya menatap wajah perempuan itu kembali.
"Baru datang ke Indonesia?"
__ADS_1
"Apa begitu terlihat sekali"
Jawab Monic seraya memindahi penampilannya.
"Hmmm aku fikir iya"
Ucap Lily.
"Baru beberapa hari yang lalu, tapi sebentar lagi juga mau pindah, hmmm ke Surabaya"
"Oh iya.. kebetulan sekali, aku juga dari Surabaya hanya saja ada pekerjaan yang harus di kerjakan disini"
"Hmmm benarkah ?"
Tanya Monic.
"Iya.. mungkin minggu depan baru akan kembali ke Surabaya ?"
Tapi seketika mereka sama sama diam.!
Kenapa juga bisa seakrab ini, baru juga bertemu, tapi kenapa seperti dua orang yang saling mengenal.
Aneh gak sih..?
Sesaat kemudian dua perempuan itu mulai saling menatap dan sepersekian detik mereka tertawa bersama.
Tapi tiba tiba terdengar suara seseorang dari arah belakang yang seketika membuat kedua perempuan itu terkejut.
"Yaaaa..
"Dasar janda gak tahu diri, udah mulai ngelunjak lo yaa"
Maki Mira saat beberapa lama mencari temannya yang menghilang meninggalkan dirinya.
"Ah sorry.. sorry.. sorry Mir gue lupa"
Jawab Lily sambil menangkupkan kedua tangannya di dada.
"Parah sih lo.. gue udah kelaparan dari tadi nunggunin lo gk selesai selesai belanjanya, dan sekarang malah enak enakkan ketawa ketiwi"
Kata Mira dengan nafas yang menderuh deruh.
"Kalau gak ingat teman udah gue gampar lo ya"
"Iya.. iya.. maaf, udah jangan marah marah kita pulang sekarang oke"
Rayun Lily sembari menarik troli yang ada didepan Mira dan menatap Monic setelahnya.
"Kami duluan iya, semoga kita bisa ketemu lagi di Surabaya"
Pamit Lily.
"Hmmm Iya tentu"
Setelahnya Lily dan Mira melesat pergi dari sana menuju meja kasir.
Samar samar masih bisa didengar oleh Monic, perempuan yang di sebelah Lily masih tetap mengomel.
Dia fikir apa mereka berteman atau bersaudara, pasalnya begitu tidak biasa dengan sikap keduanya.
Apalagi cara bicara mereka yang menurutnya terlalu gamblang, membuat dirinya merasa sedikit aneh tapi juga lucu.
Bukankah menyenangkan memiliki seseorang dihidup kita seperti itu.
Ah.! sunddely i feel jealous of them
Ujar Monic dalam hati.
_____________________
Mansion Utama
Arbianzu
Sudah sejak tadi Arzu menahan gelisah dihatinya, bayangan perempuan itu semakin jelas telihat didalam pikirannya
Bahkan saat dirinya memilih menyibukkan diri diruang kerjanya, Arzu tetap tidak bisa mengalihkan pikirannya barang sejenak sedikitpun.
Oh Shi.t
Umpatnya dalam hati.
Arzu mulai bangkit dari duduknya, berjalan mendekati kaca jendela besar persis di belakang meja kerjanya.
__ADS_1
Dengan gerakkan perlahan Arzu mulai memasukkan kedua tangan kedalam saku celananya.
Pandangan matanya menatap lurus kearah depan sambil sesekali terlihat menghela pelan nafasnya.
Lagi lagi pikirannya kembali pada perempuan itu, perempuan yang lumayan cantik.
Ah dia memang cantik
Dia perempuan biasa biasa saja.
Tapi kenapa dalam hatiku berkata dia special
Cukup.!
Bukankah ini sudah sangat keterlaluan, bisa bisanya dia menjadi segila ini.
Hmmm
Tapi saat teringat kembali tatapan mata perempuan itu, bagaikan dirinya berjalan digurun pasir yang terik tapi seketika ada angin yang berhembus begitu menyejukan.
Dia merasa tidak asing lagi dengan nya bahkan antara dirinya dan perempuan itu seperti mempunyai sebuah keterikatan khusus.
Ah.. lagi lagi membuat Arzu merasakan hatinya berdesir.
Iiish..
Perasaan bodoh seperti ini lagi
Rutuk Arzu dalam hati.
Terdengar ketukkan dari seseorang dari balik pintu dan sepersekian detik kemudian muncul seseorang dari sana berjalan perlahan menghampiri dirinya.
"Tuan"
Sapa Dikhal.
Tapi Arzu hanya meliriknya sekilas dari pantulan kaca jendela.
"Hmmm..
"Ternyata benar.. dan kita sudah mendapatkan nya"
Walaupun Arzu tidak melihatnya tapi Dikhal berbicara sembari menundukkan pandangannya.
Mendengar ucapan Dikhal membuat Arzu langsung membalik tubuhnya seraya berjalan kearah meja kerjanya dan mulai mendudukkan diri kekursi.
Buruh buruh Dikhal menyerahkan sesuatu dari tangannya kepada Arzu.
"Hmmm mereka cukup bagus dalam bermain apa mereka orang lama... kamu sudah pastikan hanya ini saja"
Tanya Arzu setelah mengetahui apa isi dari benda yang di berikan asistennya.
"Benar Tuan.. tapi kita belum bisa masuk lebih dalam, mengigat pemain lama saya perlu waktu lebih lagi"
"Sepertinya kinerja kamu mulai lambat Kal, kita sudah menghabiskan banyak waktu"
Ucapa Arzu seraya memijat ujung pelipisnya.
"Pembangunan nya akan segera dimulai, kamu harus menemukan taget utama secepatnya"
Lanjutnya.
Arzu mulai beranjak dari duduknya dan menumpuhkan tubuhnya disisi meja seraya melipat kedua tangannya,
"Aku fikir kita harus mengubah sedikit rencananya, bukankah kita hanya perlu seseorang bermain dengan cantik untuk menariknya agar keluar"
Alih alih menjawab, Dikhal masih terdiam mencoba mencerna setiap ucapan yang di sampaikan Arzu.
Dia fikir apa tuannya ingin mencobah hal baru, tapi apa, bukankah rencana awal mereka juga sudah cukup bagus.
Tapi Dikhal tahu tuannya pasti tidak suka dibantah dalam hal apapun, tak urung juga akhirnya dia menuruti tuannya.
"Baiklah, saya akan secepatnya menghubungi salah satu orang kita"
Jawab Dikhal.
Tapi saat melihat Arzu menggelengkan kepalanya seketika membuat Dikhal menaikkan ujung alisnya.
"No.. kita butuh wajah baru untuk tugas ini karena dia akan muncul dipermukaan dan yang lebih penting dia harus smart"
Senyum seringai milik Arzu saat dirinya yang nampak sudah mendapatkan sesuatu.
__ADS_1
Ya.!