
Suasana canggung jelas menghiasi ruang tamu yang berselimut dinding kaca tersebut nampak menyuguhkan haparan luas keindahan seluruh kota.
Dengan ditemani hangatnya dari sang mentari yang menembus masuk dengan begitu sempurna.
Kejadian beberapa saat yang lalu membuat Lily seperti kehilangan mukanya saat ini, begitu memalukan hingga dirinya tidak berani bertatap muka dengan Arzu.
Apalagi gerak geriknya saat membuat sarapan pagi beberapa waktu yang lalu, yang tidak terlepas dari tatapan nakal laki laki yang tengah duduk menikmati secangkir kopi panas miliknya membuat Lily merasa gugup dan salah tingkah.
Tapi dia begitu bersyukur saat dia bisa menghentikan ke gilaan pagi pagi beberapa saat yang lalu.
Sedikit saja dia terlena degan godaan yang Arzu berikan, bisa dipastikan usaha yang selama ini dirinya lakukan akan menjadi sia-sia.
Yang benar saja, aku belum mau melepasnya saat ini walaupun dia yang pertama menyentuhnya.
Seraya menghela nafasnya, Lily menatap kedua laki laki yang duduk dihadapannya yang tengah fokus memperhatikan sesuatu yang ada dihapannya.
Setelah dirinya dan Arzu mendapatkan sarapannya laki laki itu langsung menghubungi asistennya atas dasar idenya karna ingin memberi tahukan sesuatu pada mereka.
Dan kini sudah beberapa menit berlalu terlewatkan tapi hanya hening yang dirinya rasakan.
Entah bagaimana reaksi mereka berdua Lily tidak bisa menebaknya, sampai saat ini belum ada satu kata apapun yang keluar dari mulut mereka.
Hanya sorot mata yang tajam dan tarikan nafas yang begitu berat yang bisa Lily lihat.
"Ini begitu di luar pemikiran ku.. ternyata dia yang selama ini yang bergerak di belakang kita"
Arzu menggeram seraya mengepalkan kedua tangannya.
"Bahkan dia melakukan rencana dengan begitu baik dan menjadikan gadis itu sebagai perisainya, Hah"
Lily hanya menggigit bibir bawahnya sembari menaikkan ujung alisnya saat melihat kemarahan Arzu.
Dia fikir bukankah memang benar laki laki itu seperti serigala yang begitu mengerikan saat sedang marah.
Bahkan dirinya harus bernafas tanpa mengeluarkan suara saking takutnya.
Tapi ini sedikit mengganggu dirinya saat melihat lebih jelas lagi, laki laki itu benar begitu terlihat marah tapi ada sedikit yang tertahan didalam dirinya.
Dia sangat mengenal situasi seperti itu tapi ada apa dan kenapa?
Ditengah kebingungannya Lily terus memperhatikan sikap apalagi yang ditunjukan laki laki yang ada didepannya saat ini.
Dia belum mau membuka suaranya sebelum tahu apa yang dilakukan selanjutnya.
"Maafkan saya Tuan yang terlambat menyadarinya"
Ucap sesal Dikhal yang merasa kecolongan kali ini, dia fikir bukankah meraka begitu berani dan pandai dalam merencanakan nya.
Berkali kali mereka melakukan kecurangannya tanpa diketahui oleh siapapun hingga begitu sempurna sampai dengan ke tahap sejauh ini.
Bahkan dirinya tidak menyangka bahwa selama ini telah salah dalam mengintai taget tersangka.
__ADS_1
Sial.!
Hmmm tapi....
Perempuan cantik didepannya ini.
Bagaimana bisa mengetahui segalanya dengan begitu detail sampai sejauh ini.? begitu mudahnya hanya dalam waktu kurang dari beberapa hari.
Aneh bukan, dia saja butuh waktu yang cukup lama untuk mengetahui banyak hal, siapa perempuan ini sebenarnya.
"Kal.. bergerak lah sekarang bereskan semuanya"
Pekik geram Arzu yang sudah tidak dapat mengendalikan amarahnya yang sudah menggelap didalam tubuhnya kali ini.
Lily yang sejak tadi menahan diri untuk tidak ikut berbicara seketika bereaksi, jujur dirinya ingin tahu apa yang selanjutnya yang Arzu lakukan.
Tapi ketika Arzu meminta asistennya untuk bergerak dirinya seolah mencerna kata ambigu laki laki itu.
Bergerak seperti apa.?
"Baik Tuan.."
Tegas Dikhal.
"Pastikan kamu menjamu orang itu dengan baik sebelum aku menemuinya"
"Baik"
Melihat Dikhal mulai bergerak ingin pergi membuat Lily gelagapan.
Alih alih perduli dengan apa yang nanti laki laki didepannya ini fikirkan dia harus secepatnya melakukan sesuatu.
"Kalian mau apa.. hmmm maksud aku kamu tidak akan melakukan hal bodoh lagi kan, emm.. ee kenapa harus terburuh buruh maksud ku kenapa tidak merencanakan dulu bagaimana cara menangkap mereka"
Ucap Lily gelagapan.
Mendengar ucapan perempuan yang berada didepannya Arzu hanya menaikkan ujung bibirnya.
Bahkan Dikhal yang tadinya sudah berjalan beberapa langkah seketika harus berhenti dan membalikan tubuhnya menatap Lily.
"Semua sudah dalam kendali saya Nona, anda tidak perlu mengkhawatirkan nya"
Jawab tegas Dikhal.
"Tapi bagaimana kalau..
"Nona tidak perlu memikirkanya, bukankah tugas Nona hanya menarik mereka keluar saya fikir anda tidak perlu ikut dalam pergerakan eksekusinya"
Sahut cepat Dikhal dengan senyum seringainya.
"Kenapa.. apa kamu tertarik membantu Dikhal hmmm"
Tanya Arzu seraya menyesap minumannya dengan sorot matanya tidak terlepas menatap perempuan yang ada didepannya.
__ADS_1
Menarik.?
Satu kata yang sedari tadi memenuhi fikirannya, dari awal dia begitu tertarik dengan perempuan ini ada yang berbeda dalam tubuhnya.
Saat dimana orang yang baru masuk dalam barisan terpenting didalam dunia bayangannya, begitu kagok dengan tugasnya dan harus butuh bimbingan.
Tapi tidak dengan perempuan ini, dia bekerja begitu teliti dan sempurna hampir menguasai seperti Dikhal yang sebagai kaki tangan serta bayangannya.
Bakan Dikhal saja baru kali ini harus menerima kekalahannya karna perempuan itu, bukankah patut dipertanyakan.
Dan dia harus mendapat jawaban nya dari bibir perempuan ini secara langsung.
"Ah.. bukan begitu maksudnya hmmm aku tidak mau kalian salah langkah yang berakhibat ceroboh seperti sebelum sebelumnya"
"Kamu tenang saja Dikhal begitu pandai dalam hal seperti ini, bukan begitu Kal..?"
Tanya Arzu tanpa mengalihkan pandangannya dari wajah Lily yang terlihat sedikit aneh.
Membuat Arzu semakin percaya kalau perempuan ini menyimpan sesuatu yang tidak dirinya ketahui.
"Benar Tuan"
"Pergilah.. aku tunggu kabar baik selanjutnya"
"Baik Tuan saya permisi dulu"
Melihat Dikhal yang sudah menjauh menghilang dari ruangan ini membuat hati Lily menjadi gelisah.
Dia fikir ini tidak seperti rencana yang dia buat, tapi bersikap berlebihan akan membuat Arzu semakin curiga.
Bahkan saat dirinya berbicara dengan sedikit keberatan seperti tadi dia yakin pasti Arzu dan Dikhal sudah mulai menimbulkan banyak pertanyaan di dalam pikirannya.
Kini dia harus bagaimana rencana B dan C yang sudah dia rancang saat rencana A gagal, seketika musnah semua.
Didalam rasa gelisah dan kebingungan nya tiba tiba dirinya terkejut saat Arzu sudah berada disebelahnya seraya mendekap bahunya.
"Ada apa.. kamu terlihat kurang nyaman hmmm"
Bisikkan Arzu yang begitu lembut dan begitu dekat di balik telingahnya membuat seluruh tubuhnya menegang seketika.
Apalagi saat hembusan nafas ber aroma mint milik laki laki ini menguar masuk kedalam indra penciumannya membuat Lily memejakan matanya untuk beberapa saat.
Gerakan tangan Arzu yang membelai hangat rambut gelombang miliknya menyadarkan dirinya akan hal memalukan yang tengah dia buat.
Bisa bisanya dia menikmati sentuhan dari laki laki ini.
Secara perlahan dia menatap laki laki yang berada di sampingnya kelopak matanya tidak berhenti berkedip menikmati barang sesaat wajah tampan bak dewa didepannya ini.
Dengan mengembangkan senyum cantiknya dan menggelengkan pelan kepalanya dirinya berkata.
"Kamu tahu aku hanya merasa takut saat kebahagiaan yang tengah aku rasakan diambil kembali"
Ucapan nya begitu lirih sembari tangannya bergerak keatas mengusap lembut wajah tampan Arzu, yang terlihat mengerutkan dahinya saat mendengat jawabnya.
__ADS_1
πMinta tolong like dan vote iya mak.. terima kasih πππ