BiRahi Cinta Milikku

BiRahi Cinta Milikku
Rencana Mengejutkan


__ADS_3

"Udahlah.. Mega jugakan udah turun panasnya, lagian di sana ada Bibi jadi lo gak usah khawatir lagi hmmm"


Lily yang sedang berjalan kaki menuju kantor terus berusaha membuat temannya agar merasa lebih tenang.


Mengingat tadi malam Mira mendapati telpon dari Bibi nya yang selama ini mengasuh putrinya, kalau anaknya sedang terkena demam.


Sebagai sesama ibu dirinya paham betul apa yang tengah dirasakan temannya, khawatir, takut, cemas, gelisah, bahkan sampai tidak dapat makan dengan baik, hanya demi ingin mendengar kata.


Dia sudah sembuh dan sekarang dia sudah mulai masuk sekolah


Walau tadi pagi sudah dapat kabar kalau putrinya sudah turun demamnya, tapi sepertinya Mira masih merasa cemas.


Terlihat dari sikapnya yang selalu asal ceplas ceplos dan bar bar. hmmm bukan lagi


Tapi hari ini nampak sunyi, hening hanya sesekali dirinya mendengar Mira menghela nafasnya.


Aaaaa


Kenapa serigala ku jadi kayak ayam sakit begini


Batin Liy.


Merasakan Mira yang tiba tiba menghentikan langkahnya seketika membuat dirinya menjadi panik.


"Kenapa, lo gak apa apakan?"


Tanya Lily


Melihat Mira hanya diam saja membuat Lily semakin dilanda kecemasan.


Apalagi sesaat kemudian Mira tiba tiba tersenyum makin makin membuat dirinya merasa takut.


"Mir lo kenapa? jangan bikin gue takut ya"


"Ish.. berisik lo, gue lagi menikmati ciptaan tuhan begitu indah dipagi hari"


Mendengar kata kata Mira membuat Lily mengerutkan keningnya.


Hah.?


Apaan sih, bener gila nih anak


Rutuk Lily dalam hati.


"Lihat tuh.. calon suami kita udah dateng"


Ucap Mira seraya membalikkan tubuh Lily mengarahkan nya kedepan.


Seketika bola matanya membulat dengan sempurna saat melihat pemandangan yang ada didepannya.


Terlihat Arzu yang sepertinya baru tiba di kantor dan saat ini tengah bicara kepada Dikhal dan seorang laki laki di depan pintu lobby.


Sontak saja tangan Lily memegangi bagian dadanya, merasai kalau saat ini jantungnya berdetak sepuluh kali lebih kencang.


Semoga hari ini aku bisa bernafas dengan baik


Batin Lily.


"Gila sih ini.. pagi pagi udah bikin sarang gue berkedut"


Alih alih menanggapi Mira, Lily hanya terkekeh geli.


Diliriknya perempuan yang berada di sebelahnya, dengan gaya sensual meraba tengkuk lehernya seraya menggit bibir bawahnya membuat Lily menggelengkan kepalanya.


Dasar jala.ng !


Begitu melihat Arzu masuk ke gedung kantor Lily dan Mira melanjutkan langkahnya segera.


______________________

__ADS_1


Disisi lain..


Kantor AR Grup


Presdir room


Sebuah pintu besar yang ber nametag presdir room, seorang laki laki masuk begitu saja setelah di izinkan sang pemilik ruangan.


Begitu dirinya berada dalam ruang besar yang dominan berwana putih, dia sudah disambut seorang laki laki nomer satu di AR Grup yang tengah duduk dibalik meja kerjanya.


Dengan pelan dan hati hati laki laki itu menyerah sebuah amplop coklat di atas meja tepat dihadapan Arzu.


Melihat itu Arzu seketika meraihnya dan mulai membaca.


"Jadi dia janda ?"


Tanya Arzu sesaat setelah selesai membaca civi seseorang.


"Iya Tuan, perempuan itu seorang janda dan dia memiliki anak satu orang"


Mendengar ucapan Dikhal membuat Arzu tiba tiba merasa hatinya berkedut nyeri, seperti ada sesuatu dalam dirinya yang hilang.


Tarikan nafas panjang beberapa kali dia hembuskan, mencoba memejamkan mata untuk barang sejenak sebelum melanjutkan perkataannya.


"Hmmm apa kamu sudah memanggil?"


Alih alih menjawab Dikhal malah balik bertanya.


"Apa Tuan yakin.. maksud saya apa perempuan itu nantinya mampu ?"


Sebelum sempat Arzu menjawab pintu ruanganya terdengar diketuk seseorang, dengan cepat Dikhal berjalan dan mulai membukanya.


Terlihat seorang perempuan tengah berdiri dibalik pintu dengan sikap sempurnanya, buruh buruh Dikhal memberi isyarat agar perempuan itu segera masuk.


Perempuan cantik berbalut kemeja putih berlengan panjang dengan bawahan short skirt berwarna merah maron yang sangat kontras dengan kulit putihnya


Lagi lagi Arzu tidak dapat mengontrol degub jantungnya yang sangat kencang, saat matanya menangkap sosok perempuan yang baru sekali bertemu.


Umpat Arzu dalam hati.


Beberapa kali Arzu mencoba mengantur nafasnya dan membenahi posisi duduknya karena merasa salah tingkah sendiri.


Begitupun dengan Lily, dirinya begitu tidak percaya kalau presdirnya hari ini ingin bertemu.


Dia bahkan beberapa kali mencubit tangannya sendiri merasa apa dirinya saat ini tengah bermimpi atau tidak.


Aaaaawww.... iiisshh sakit ternyata


Tapi saat cubitnya terasa sakit baru dirinya percaya kalau memang itu benar adanya.


Perasaan senang tapi juga takut menyelimuti hatinya saat ini, pasalnya tidak ada angin maupun hujan tahu tahu dirinya di beri perintah menghadap sang presdir.


"Kamu duduk"


Suara keras milik Dikhal mengejutkan perempuan yang sedari tadi berdiri meremas kedua tangannya dengan kepala yang menunduk.


Dengan perasaan yang sedikit takut Lily menggeser tubuhnya duduk dikursi yang berada di depan Arzu.


Hatinya jelas semakin merasa was was bahkan dari tadi mulutnya tidak berhenti membaca doa berharap di selamatkan dari situasi ini.


Gerakkan bibir Lily yang sedang berdoa tidak luput dari pandangan Arzu, seketika membuat dia mengulumkan senyum yang merasa lucu dan menggemaskan batin nya.


Bahkan sampai dirinya menggeserkan sesuatu di depannya, perempuan itu tidak menyadarinya dia benar benar tidak berani mengangkat wajahnya barang sedikutpun.


"Bacalah.... ?"


Satu kata itu berhasil mempuat Lily mengangkat cepat wajah, menatap Arzu sekilas setelahnya dia melihat sebuah map didepan.


Sejenak Lily memejamkan matanya menarik nafas secara perlahan dan setelahnya dia mulai membaca.

__ADS_1


Hah.! apa ini....


Mata indahnya melirik Dikhal dam Arzu secara bergantian, seketika dirinya merasa lucu dengan apa yang dia baca saat ini, Dia fikir apa laki laki di depannya saat ini dalam keadaan baik baik saja.


Bahkan sampai dirinya harus menutup mulut karena menahan gelak tawanya.


Apa dia salah minum obat.?


Batin Lily sesaat setelah menyeselai kan membacanya.


"Saya rasa ini terlalu menggelikkan"


Ucap Lily


"Apa kamu fikir presdir sedang membuat lelucon di depan kamu"


Jawab tegas Dikhal.


"Bukan seperti itu, hanya saja ini tidak masuk diakal"


Iya Lily fikir ini memang tidak masuk akal, sebab dirinya diminta melakukan suatu hal yang bukan dalam passionnya.


"Bagian mana yang tidak masuk akal"


Mendengar Arzu bicara membuat Lily mengalihkan pandangannya menatap dalam bola mata tajam milik Arzu.


Deg


Oh astaga.! mata kamu selalu membuat aku kesulitan bernafas sayang


Batin Lily.


"Hmmm itu bukan passion saya Pak"


"Bukan masalah, itu lebih bagus"


Jawab Arzu cepat.


Hah.! bagus


"Pekerjaan saya di Surabaya?"


"Akan ada orang yang akan mengurusnya"


Yang benar saja...!


"Tapi nanti saya akan menyulitkan Bapak"


"Itu hmm.. ada Dikhal yang membantu kamu"


Arzu bicara sambil menatap Dikhal yang terlihat mengerutkan keningnya sejak tadi.


Haaaiiyaaa


Kenapa jadi maksa begini


Batin Lily.


"Bapak yakin..?"


"Hmmmm"


Baiklah, Lily fikir terlalu cepat doanya di kabulkan, bukankah Tuhan nya begitu baik.


Tapi melihat pekerjaanya yang sedikit menyulitkan dia rasa harus ada timbal baliknya bukan.


Hmmmm


Memanfaat kan kesempatan yang tidak datang dua kali

__ADS_1


Batin Lily sambil mengangkat ujung bibirnya.


(kalau kesempatan nya habis yaa terpaksa ambil dana umum, hiiiiyaaa)batin author.


__ADS_2