
"Apa ini... ?"
Bentak Dikhal dengan meleparkan berkas ke atas meja seraya menatap pada perempuan yang berdiri di samping kirinya.
"Apa kamu fikir bisa membodohi ku seperti ini.. hah ?"
Mendengar orang kedua di AR Grup menampilkan kilat amarahnya membuat semua orang diam seraya menundukkan kepalanya
Begitupun dengan Lily, yang tidak bisa berhenti menggigit bibir bawahnya karna takut dengan suara keras milik asisten pribadi bosnya.
Lily bisa merasakan ada bahaya besar yang tengah mengancam dirinya, bukankah dia yang di tunjuk untuk bertanggung jawab atas divisinya.
Bahkan laporan itu hampir 80% hasil dari pekerjaannya, lalu kenapa bisa jadi seperti itu.
Apa ada yang salah? bahkan aku memeriksanya berkali kali
Kalau sampai benar dirinya melakukan kesalahan bukankah itu hal yang buruk, bisa bisa pekerjaan dan karirnya. The end
Oh No.. Itu tidak boleh terjadi
"Maafkan saya pak.. sebenarnya saya hanya menyampaikan dan memastikan laporan ini tidak terjadi masalah"
Mendengar jawaban perempuan itu membuat Arzu dan Dikhal sama sama mengerutkan keningnya.
Hah.?
Dan seketika Arzu menatap Dikhal yang juga sedang menatapnya dengan jutaan kebingungan.
"Yang back up pekerjaannya itu rekan saya Lily Kinanti"
Ujar perempuan itu seraya menatap Lily dengan seringai liciknya.
Mendengar namanya disebut membuat Lily mengangkat wajahnya, dan seketika dirinya begitu terkejut karena pandangan semua orang menatap kearahnya.
Mati aku.!
Pekik Lily dalam hati.
Apalagi saat pandangan Lily tidak sengaja bersitatap dengam bola mata Arzu seketika membuat dirinya membeku.
Deg
Dirinya merasa ada sesuatu hal yang di rasakan saat menatap bola mata coklat itu.
Sekilas terlihat tajam untuknya tapi saat beberapa detik kemudian dirinya merasa ada kehagatan dalam mata laki laki tersebut.
Lily fikir perasaan macam apa ini, bahkan dirinya melihat dengan jelas perubahan raut wajah laki laki itu yang penuh dengan kelembutan.
Aaaawwwwhh
Lily terpekik saat merasakan kakinya diinjak seseorang buruh buruh dirinya kembali dari kesadarannya dan beralih melihat Dikhal.
Waaahhh
Ini mah bapak serigala
Batin Lily.
"Apa kamu akan diam saja seperti orang bodoh seperti itu"
Mendengar kata Dikhal membuat Lily memejamkan matanya barang sejenak dan setelahnya Ia mulai beranjak dari duduknya.
Dengan langkah pasti Lily berjalan kearah depan seraya melihat perempuan yang sejak tadi terseyum licik kearahnya.
__ADS_1
Setibanya dia di depan, tiba tiba perasaannya menjadi tidak enak, dia begitu tegang dengan sorot mata milik laki laki di hadapannya saat ini.
Pasalnya pandangan kedua laki laki dihadapannya seolah olah ingin menelanjangi dirinya, bahkan Lily beberapa kali menelan kasar salivanya karna begitu gugup.
Kenapa cara melihatnya seperti itu, apa ada yang aneh padaku
Batin Lily.
"Mau menjelaskan sesuatu ?"
Deg
Mendengar suara berat yang begitu dominan itu membuat semua orang mengangkat wajahnya seraya melihat kearah depan karena terkejut.
Bahkan Dikhal ternganga sambil mengerjapkan matanya beberapa kali, baginya ini sulit dipercaya kalau tuannya mau bicara dengan seorang perempuan.
Apalagi perempuan itu tengah melakukan kesalahan.
Sepertinya dia memang hanya salah dengar.
"Aku fikir kata maaf terdengar omong kosong bukan ?"
Dan kali ini Dikhal dengan jelas bukan salah mendengar, itu memang suara tuanya.
Ucapan Arzu membuat jiwa didalam tubuh Lily mulai terbakar dia fikir laki laki didepanya itu tidak begitu mengerikan rupanya.
"Saya rasa tidak ada yang harus saya jelaskan disini"
Terlihat Arzu mengangkat sedikit ujung bibirnya.
"Bukankah Nona Lidia yang berkewajiban menjelaskan segalanya ?"
Seketika membuat Lidia terbelalak matanya seraya menatap tajam kearah Lily, dia fikir kurang ajar sekali perempuan ini.
Batin Lidia.
Lily dapat melihat dengan jelas dari balik ekor matanya saat Lidia menatapnya dengan mata yang tajam membuat dirinya menyeringai dalam hati.
"Bukankah kamu yang mengerjakan semua laporannya, kenapa menyalakan orang lain"
Jawab cepat Lidia
Oh yeeaaa
Kamu masuk perangkap baby, mudah sekali membuat kamu terlihat bodoh di depan semua orang
Batin Lily dalam hati.
"Lalu apa gunananya kamu disini ? Aku hanya sekedar back up pekerjaannya saja bukan"
Tanya Lily dengan berani menatap kearah Lidia seraya melipat kedua tanganya.
Sikap Lily yang begitu tenang dengan gerakkan yang begitu berani di hadapan presdir, membuat semua peserta rapat menggeleng gelengkan kepalanya.
Apalagi tatapan Arzu yang tidak lepas sedikitpun dari perempuan itu membuat dirinya menyeringai dalam hati.
"Bukankah kamu yang memastikan laporan itu tidak ada masalah, seharus kamu juga yang bertanggung jawab karna sudah mengambil keputusan untuk menyampaikan kepada Presdir"
Lanjutnya.
"Iya gak bisa seperti itu.. kamu kan.."
"Cukup.... !!"
__ADS_1
Ucapan Lidia seketika terhenti karna mendengar suara intrupsi milik Dikhal.
"Kembalilah ketempat kamu ?"
Tunjuknya pada Lidia.
Dengan perasaan geram menahan amarahnya Lidia kembali ketempat duduk nya.
Lily yang melihat itu hanya tersenyum kecut seraya menatap temannya.
Bagaimana, apa kamu menikmati pertunjukkan nya
You are a winner baby
Begitulah arti dari tatapan antara Lily dan Mira, mereka merasa sangat puas sudah bisa mempermalukan Lidia.
Karna selama ini perempuan itu selalu saja punya cara membuat dirinya begitu kesal setengah mati akan sikap dan kelakuannya.
"Apa kamu juga akan menjadi perempuan bodoh selanjutnya"
Ucapan Dikhal mengenjutkan Lily akan lamunannya.
Seketika dirinya menatap kearah dua laki laki yang berkuasa di AR Grup, melihat keduanya menatap dengan begitu tajam membuat Lily menghembuskan pelan nafasnya.
Dengan rasa percaya dirinya Lily mencoba maju satu langkah lebih dekat dengan Dikhal yang tengah berdiri seraya matanya memindahi kedua laki laki di hadapannya.
"Mungkin laporan saya sedikit rumit untuk di mengerti, untuk itu saya akan menjelaskan secara rinci satu persatu"
Lily berjalan melewati Dikhal begitu saja mendekati Arzu
"Bolehkah saya meminjamnya ?"
Tunjuknya pada laptop yang berada di atas meja tepat di hadapan Arzu.
Mendapat persetujuan dari Arzu yang hanya menganggukkan kepalanya, Lily mulai mendekat dan langsung duduk di kursi yang di tempati Dikhal tadi.
"Maaf pak"
Dia sedikit menggeser laptopnya, dan mengambil sesuatu di saku blazernya seraya mencoba menyatukannya.
Sedikit mengetikkan sesuatu di dalam sana setelahnya Ia menatap ke arah Dikhal yang masih berdiri disisi kirinya.
"Aku fikir bapak juga harus melihat dan mendengarnya"
Mengerti apa yang di katakan perempuan yang duduk di depannya, Dikhal menduduki kursi di samping kanan tuannya yang menjadikan Arzu duduk tepat ditengah tengah.
Dengan sedikit menggeser kursinya lebih dekat dengan Arzu, Lily mulai menjelaskankan mulai dari awal laporannya.
Sesungguhnya dirinya begitu gugup dengan posisinya saat ini, sesekali Ia mencoba memejamkan mata karna aroma maskulin dari laki laki yang duduk disampingnya saat ini yang begitu mengganggu dirinya.
Oh astaga.!
Aku sampai tidak bisa bernafas dengan baik
Batin Lily.
Apalagi saat mata mereka bertemu karena Arzu beberapa kali bertanya pada dirinya dan itu sukses membuat jantung Lily berdetak begitu cepat.
Ya Tuhan
Aku tidak sanggup lagi dalam situasi seperti ini
Batinnya lagi.
__ADS_1