
Dengan sejuta alasan akhirnya Lily bisa terlepas dari dekapan Arzu, dia langsung berjalan kearah kamar mandi untuk membersihkan diri.
Beberapa saat berkutat dengan air, sabun dan teman temannya, Lily membawa tubuhnya keluar dari kamar mandi.
Walaupun merasa ragu dan takut, tapi dia mencoba untuk setenang mungkin, sebab saat masuk kamar mandi tadi dia melupan baju gantinya, hingga membuat dirinya hanya menggunakan bathrobe saja.
Dalam keadaan seperti ini kenapa aku melupakan nya sih
Lily mengintip kearah ranjang sebentar, berharap Arzu telah bangun dan keluar kamar dari kamarnya, begitu matanya menatap pada ranjang besar tersebut seketika membuang nafasnya perlahan.
Untung dia sudah bangun..
hmmm semoga saja laki laki itu lama diluar
Lily mulai berjalan kearah koper miliknya yang berada disamping kasur tersebut, sedikit menjokokan tubuh agar bisa memudahkan dia menekan tombol kunci itu.
Begitu kunci terbuka secepat kilat dia meraih satu setelan baju dan segera memakainya sebelum Arzu kembali.
Tapi siapa sangkah saat Lily mulai membalikan tubuhnya nampak Arzu tengah menatapnya dengan tatapan begitu aneh.
"Bukankah kamu terlihat begitu berani keluar dari kamar mandi hanya dengan menggunakan itu"
Lily hanya diam seraya mendekap baju gantinya.
"Mau berusaha menggodaku hmmm"
Ya
Mana ada aku menggoda laki laki ini
aku kan tidak sengaja melupakan baju gantiku
Gerutu Lily dalam hati.
Tiba tiba Arzu melangkah mendekatinya,dengan pandangan yang tidak lepas menatapnya penuh serigai tersebut, Lily fikir apa laki laki ini akan berbuat tidak tidak dengannya.
__ADS_1
Hah, kenapa semakin mendekat kesini
apa yang dia inginkan?!
"Pak.."
Arzu hanya menarik tipis ujung bibirnya.
"Bapak mau apa?"
Dengan panik Lily mendekap bathrobenya saat disana dia tidak punya tempat untuk mundur maupun begerak kesisi lain.
Lily begiti menelan kasa ludahnya saat laki laki itu benar benar mengurung dirinya menempel di dinding.
"Kamu tahu aku tidak suka mendengar kamu memanggilku dengan sebutan Bapak maupun Tuan"
"Apa"
"Jadi mulai hari ini cari panggilan lain untuk ku hmmm, kalau tidak kamu bisa mendapatkan hukuman dariku"
"Tapi pak saya bi.."
Cup
Bola mata Lily membulat sempurna dengan serangan dadakan yang Arzu berikan.
"Kamu tahu, aku tidak perna main main dengan ucapanku"
"Terus saya harus memanggil apa?"
"Terserah kamu asal bibir ini jangan sekali kali berucap kata menjijikan seperti Bapak atau Tuan"
Ucap Arzu sambil mengusap lembut bibir Lily.
Apa dia tadi kebanyakan minum.. tiba tiba saja dia menjadi baik seperti ini
__ADS_1
"Baiklah nanti saya fikirkan, hmmm bisakah bapak menyingkir saya ingin mengganti ba.."
"Pak"
Cup
Seketika Arzu melum.at bibir merah buah itu dengan begitu lembut dan hangat.
Hari ini dia memang menang banyak sepertinya, entahlah, Aezu juga tidak tahu alasan yang tidak masuk akal sejak tadi.
Sesaat kemudian tiba tiba merasa hawa panas memenuhi ruangan hitam mendominasi tersebut, bibir lincah Arzu terus bergerak menyes.ap dan melum.atnya dengan rakus.
Seolah merasa kalau Arzu begitu haus akan madu yang dibasilkan bibir merah merona milik perempuan itu.
Lily yang mendapat serangan tiba tiba Arzu membuat Ia seketika gelagapan, dia fikir laki laki itu memang luar biasa dalam hal seperti ini.
Begitu gila dan menggila hingga selalu membuat dirinya melayang dibuatnya, bahkan sensasi sensasi yang dia dapat begitu berbeda dengan mantan mantannya.
Oh god
Dia melakukannya lagi
Begitu tautannya terlepas, senyum mengembang sangat lebar dari bibi Arzu, saat melihat Lily yang memejamkan mata sembari mengatur nafasnya.
"Masih mau mencoba memangil Bapak lagi hmmm"
Tanya Arzu.
"Aku akan dengan senang hati melakukan sesi yang kedua"
What.?!
"No, ah.. baiklah aku akan mencari panggilan yang sesuai untuk kamu"
Dengan pipi merona dia mencoba menatap dalam bola mata Arzu.
__ADS_1