
Masih Di Masa Lalu.. Beberapa Bulan Setelah Kematian Orang tua Lily
Villa Qee House
Tempat Tersembunyi..
Dengan tubuh yang gemetar Lily mendekap hangat seorang bayi merah yang baru terlahir itu dengan pandangan yang tidak lepas dari seorang gadis yang tengah tertidur lelah sesaat setelah menjalani operasi beberapa saat yang lalu.
Dilihatnya bayi itu yang setengah menggeliat dalam pelukannya begitu lucu nan tampan dengan bentuk wajah begitu khas milik seseorang yang begitu tidak asing bagi dirinya.
Lily fikir bukankah Tuhan memang melakukan segala sesuatu hal tidak pernah setengah setengah saat memberikan hal baik maupun sebaliknya kepada umatnya.
Dan hari ini, untuk pertama kalinya Lily merasa hal baik yang Tuhan berikan untuk dirinya membuat hatinya bahagia dan sekaligus sakit secara bersamaan.
"Bibi tidak bisa berkata kata lagi.. dia begitu mirip dengan laki laki sampah itu"
Alih alih memperdulikan ucapan bibinya Lily secara perlahan meletakkan bayi laki laki itu kedalam box tempat tidurnya memastikan si baby nyaman dalam tidurnya.
"Bagaimana setelah ini.. apa yang akan kamu lakukan Qee?"
Tanya bibi Rani.
"Hmmm sesuai dengan rencana awal Bibi..."
Melirik sekilas wanita paru baya disamping nya setelah itu membuang pandangannya menatap pada bayi mungil didepannya lagi.
"Tapi Qee.. apa bayi itu kedepannya tidak akan membuat masalah untuk kita"
Mendengar ucapan sang bibi, Lily hanya tersenyum kecut, dia tahu dari dulu sang bibi memiliki ke waspadaan yang tinggi bahkan begitu protektif menjaga semua miliknya agar tidak bisa disentuh orang.
Kesalahan beberapa bulan yang lalu membuat dia merasa memiliki ketakutan dan trauma tersendiri, bahkan di selalu menghubunginya setiap waktu saat dirinya berada diluar jangkauannya.
Secara perlahan tangannya terulur membelai lembut pipi mugil bayi itu dengan jari telunjuknya, membuat sang empu terusik dan menggeliat liat pelan begitu menggemaskan batinya.
"Apa kehadirannya membuat Bibi merasa terancam hmmm.. . bukankah kita tahu bahwa dia adalah keturunan yang sah dari keluarga besar kita"
"Bukan begitu tapi.. entahlah Bibi hanya merasa kalau hati Bibi selalu resah saat membahas masalah bayi itu"
Jawab bibi Rani yang mulai mencoba menjauhi box bayi yang ada didepannya, berjalan pelan menuju sisi kanan ranjang tempat seorang gadis yang tengah terlelap dalam tidurnya.
Secara perlahan bibi rani mendudukkan tubuhnya diatas kursi sofa lalu kemudian menyandarkan punggungnya dengan nyaman seraya pandangannya menatap kelangit langit kamar tersebut.
"Aku fikir ketakutan Bibi bukan pada bayi ini.. melainkan pada siapa yang menabur benih didalam keturunan keluarga kita bukan"
"Cih.. dia selalu pandai membaca hati seseorang"
"Oh ayolah Bibi.. jangan mengkhawatir kan sesuatu dengan berlebihan"
Lily mencoba berjalan kearah sang bibi dan kemudian juga ikut mendudukan dirinya disebelah perempuan paru baya itu.
"Dari manapun benih itu berasal, asalkan keturunan kita yang mengandung dan melahirkannya mereka tetep mempunyai garis darah keturunan yang kental milik keluarga besar kita hmmm"
Lanjutnya Lily lagi.
"Iya baiklah tapi ingat... itu hanya berlaku untuk Niah dan Nilam bukan untuk kamu, karena kamu adalah pewaris pertama keturunan dari Red Seamon kedelapan"
__ADS_1
Ah, iya dia hampir melupakan bagian itu.
Satu rahasia lagi yang bibi nya katakan bahwa dirinya mempunyai darah dan jiwa yang mampu membuat siapapun melakukan segala hal yang dirinya perintahkan bahkan siap dan rela mati demi dirinya.
Dan siap ataupun tidak dia harus naik ke Tahtanya menggantikan mendiang sang papa agar semuanya bisa berjalan sesuai reglemen yang ada termasuk dengan siapa nanti dirinya akan menikah.
"Kalian masih disini?"
Seru seorang perempuan yang tiba tiba masuk begitu saja kedalam kamar.
"Ada apa?"
Tanya Lily kepada perempuan itu.
"Zero sudah datang bersama seseorang... dia bilang dia membawakan pesanan kamu"
Alih alih menjawab, Lily hanya menganggukan kepalanya seraya beranjak dari duduknya. menatap sebentar sang adik yang masih setia dalam tidurnya sambil berkata.
"Kamu sudah menyiapkan semua yang aku perintahkan Nilam?"
Lily berjalan pelan mendekati dimana perempuan itu berdiri saat ini.
"Sudah Qee"
Jawab perempuan itu seraya menundukan kepalanya.
"Itu bagus... hmmm tetaplah disini bibi membutuhkan bantuan kamu, sepertinya dia merasa terancam oleh seseorang"
Yah.!
Apa.?
Setelah berkata seperti itu Lily melesat pergi keluar kamar meninggalkan kedua orang yang tengah dilanda kebingungan dengan ucapannya.
_____________________
Kembali Di Masa sekarang..
Rumah kedua Lily
Surabaya
Diamana semua orang menatap disatu titik, seorang gadis paling muda diantara semuannya yang tengah terdiam seraya menunduk.
Entah apa yang sedang gadis itu fikirkan, tapi dalam keadaan hening saat seperti ini membuat semua orang merasa cemas berlebih.
"Are you oke girl..?"
Tanya Caca setelah tidak ada yang mau membuka suaranya.
Gadis yang dimaksud pun seketika mengangkat wajahnya, sesaat kemudian menandai satu persatu wajah semua orang.
"Apa ada yang harus dicemaskan, aku fikir kalian terlalu berlebihan dalam menunjukan ekspresi saat membahas laki laki sampah itu"
Jawab lantang gadis itu.
__ADS_1
"Kamu yakin sayang..?"
Nilam mulai mendekat kearah gadis itu seraya membelai lembut kepalanya.
"Oh please.. Kak Angel terlalu berlebihan oke?"
Mendengar jawaban dari gadis itu seketika membuat semua orang tersenyum, tapi tidak dengan satu perempuan yang sejak tadi tatapannya begitu datar dan dingin melihat gadis itu.
"Lalu bagaimana selanjutnya, rencana kita semuanya telah gagal sebelum bergerak"
Tanya Caca
Dan semua orang mengalikan pandangan pada sang Alpha yang sejak tadi hanya terdiam seolah tengah berfikir.
"Angel bergeraklah bersama Neo ke Jakarta pantau terus apa yang direncanakan Dikhal bawa semua sayap kiri untuk melindungi kalian"
"Siap Qee"
Jawab Nilam dan Nina bersamaan
"Zero.. apa gadis itu bisa dipercaya"
Caca yang ditanya seperti itu seketika membeku, bagaimana bisa....?
Ah.. iya dia lupa berhadapan dengan siapa saat ini, jangankan hal kecil seperti ini yang besarpun Qee nya pasti mengetahuinya.
"Dia cukup bisa diandalkan dalam membidik lawannya, aku fikir dia sudah terlatih akan hal itu Qee"
"Hmmm baiklah.. aku izinkan kamu bergerak bersamanya, tapi ingat lindungi semua anggota, aku merasa ada orang lain yang juga ikut bergerak dalam jarak jauh, kamu harus lebih waspada bawa sayap kanan untuk membantu menyambut target utamannya"
Jelas Lily yang masih tetap fokus menatap gadis yang ada berada didepannya.
"Siap Qee"
Jawab Caca cepat.
"Delta..?"
"Aku dan Green sudah menyiapkan segalanya baby"
Sembari masih menyesap rokok di tangan kanannya, dengan santai Mira melaksanakan apa yang di inginkan sang Alpha karena dia sudah tahu harus melakukan apa.
"God.. Bergeraklah...!!!
Begitu mendengar kalimat kramat itu semua perempuan yang berada disitu langsung melesat pergi menjalankan apa yang menjadi tugas mereka.
Dan sekarang ini hanya menyisahkan Lily dan seorang gadis yang sejak tadi telah menganggu fikirannya.
"Kemarilah..
Serunya pada gadis itu sembari menepuk sisi kursi sofa sebelah kirinya.
Dengan ragu gadis itu mendekat, mendudukan diri dimana dirinya disuruh untuk duduk.
"Kamu tahu Niah.. Kakak merindukan pelukan si bungsu kesayangan Kakak, pelukan yang begitu hangat seperti punya Mama sama Papa"
__ADS_1
Mendengar ucapan Kakaknya Niah mencoba menatap sang Kakak dan sepersekian detik kemudian mereka saling berpelukan sambil berbagi air mata bersama sama.
Mama.. Papa.. laki laki itu akan datang.. dengan segera aku akan menunaikan janjiku 10 tahun yang lalu saat berada didepan peristirahatan kalian