BiRahi Cinta Milikku

BiRahi Cinta Milikku
Satu Kenyataan


__ADS_3

Kembali ke Mira.....


Begitu masuk kedalam ruangan tersebut, Mira dengan jelas menangkap seorang perempuan yang berdiri membelakangi nya.


Dengan earphone yang menempel disisi kiri telinga, perempuan itu terus bicara tanpa menyadari kedatangan nya.


Seolah tidak mau mengganggu Mira duduk diatas sofa sebelah kirinya begitu saja, mengeluarkan sesuatu dari paper bag yang dia bawah tadi dan meletakkan begitu saja diatas meja.


Merasakan kehadiran seseorang, perempuan yang tengah asik dengan sambungan telpon tadi seketika membalikkan tubuhnya. Terkejut


Tapi untuk sesaat perempuan itu terlihat menggeleng dan mengangguk kan kepalanya ditengah sambungan telpon nya seraya menatap dirinya.


"Apa ada masalah, kenapa kalian begitu terlambat datang?"


Tanya perempuan itu sesaat setelah mengakhiri acara telpon nya.


Alih alih menjawab, Mira nampak fokus menatap berkas berkas yang diatas meja seolah enggan untuk diganggu.


Dengan kening yang berkerut perempuan itu berjalan menghampiri Mira, duduk disampingnya begitu saja seraya memperhatikan apa yang tengah temannya lakukan.


Tapi tiba tiba dari arah pintu dua orang perempuan masuk begitu terburuh buruh, membuat Mira dan perempuan tadi seketika menghela kasar nafasnya.


Oh astaga...


Hah.!


"Tidak bisakah kalian diam sebentar, ini benar benar membuatku menjadi hilang kesabaran"


Pekik Mira seraya menatap kesal pada kedua perempuan yang baru masuk tadi.


"Iya maaf.. maaf.. tapi beneran Qee minta aku ke Jakarta, Angel kenapa kamu gak bilang apa apa"


Tanya Neo dengan panik nya.


Alih alih menjawab Mira terlihat menghela nafasnya seraya memijit ujung pelipisnya.


Pusing.!


Dia fikir kenapa bisa dirinya memiliki teman seperti mereka yang selalu barbar dan sangat rusuh.


Bahkan saat dalam situasi seperti ini bisa bisanya mereka tidak perna bersikap baik dan sedikit manis layaknya perempuan.


Seketika kepala Mira benar benar akan meledak sekarang juga, merasa harus ada seorang pawang yang bisa membuat mereka tidak bisa berkutik.


Tapi siapa sangka tiba tiba dari arah depan terdengar suara seseorang yang mendominasi didalam ruang tersebut.


"Neo kamu disini?"


Mendengar ucapan seseorang yang baru datang itu, membuat seluruh orang yang berada didalam ruangan jelas terkejut begitu pula dengan Mira dan Angel secara refleks mereka berdua langsung berdiri.


Terutama perempuan bernama Neo , dia jelas benar benar merasa panik dan takut secara bersamaan.


"Qee..."


Bagaimana Neo bisa menjawab nya?


"Itu.. hmmm sebenarnya..."


Belum sempat Neo meneruskan ucapannya tiba tiba Qee berbicara lagi.


"Bukankah pagi ini kamu harus ke Jakarta bersama Zero?"

__ADS_1


Pekik Qee dengan keras.


Mendengar ucapan Qee membuat Neo menelan kasar salivanya.


Bukan maksud hati tidak mau menuruti perintah Qee nya, tapi dia merasa kalau tidak ada yang memberi tahunya tentang hal ini.


Tubuh lelah yang baru tiba dari perjalanan jauh, seketika hilang begitu saja saat tatapan tajam milik Qee nya menusuk tepat dijantung nya.


Dia fikir dalam keadaan yang hampir menegang kan seperti ini, dia tidak berharap singa betinanya tiba tiba bangun dan menerkam semua orang termasuk dirinya.


Waaahhhh itu akan sangat menakutkan......


Habis lahh aku?


Batin Neo.


"Maaf Qee.. tapi Zero bilang Green lebih membutuhkan Neo saat ini ketimbang dirinya, jadi dia pergi sendiri pagi ini"


Angel seketika bicara saat melihat keadaan Qee nya yang terlihat dalam mode berbahaya.


Apa yang akan terjadi dengan mereka kalau sudah berhadapan dengan amarah milik Nonanya ini.


Memilih terbunuh secara langsung jauh lebih baik dari pada bermain main dengan kematian dan itu jelas jauh mengerikkan rasanya.


"Oh astaga.. apa dia sudah gila"


Pekik Qee sembari menghempas kan tubuhnya diatas sofa, dengan jutaan rasa cemas menyelimuti hatinya.


Merasakan kalau pekerjaan kali ini sedikit membuat dirinya gelisah, tapi rasa rasanya dia begitu terlihat familiar akan situasi seperti ini.


Begitu sulit dan rumit, hmmm


Dirinya mencoba mengingat ngingat kembali ke masa lalunya, mencoba menekan lebih kedalam memori diotaknya.


umpan yang mudah tertangkap, pengalih perhatian, kucing hitam yang berani, dan..


Oh shi..t


Seketika matanya membulat sempurna saat satu ingatan terlintas di fikiranya, dalam hati berharap tebakkan nya benar benar salah kali ini.


Tapi kalau benar dia...


"Angel.. dimana berkasnya?"


Tanyanya pada Angel.


Dengan cepat Angel meraih berkas disisi kanannya dan langsung menggeser ke meja tepat didepan dirinya.


Begitu berkas di tangannya dibuka, seketika detak jantung Qee terus berpacu bahkan mulutnya tidak bisa mengeluarkan suara nya sama sekali.


Bagaimana... bagaimana bisa?


Qee hanya bisa terdiam seraya menggeleng gelengkan kepalanya.


Sulit dipercaya kamu kembali lagi, aku pastikan kamu tidak akan lepas kali ini


Batin Qee.


______________________


Apartemen xxxxx

__ADS_1


Surabaya


Pukul 18.30


Safira terlihat tengah sibuk mengeluarkan satu persatu beberapa makanan dari dalam paper bag miliknya, menata dengan cantik diatas piring yang dominan berwarna putih itu.


Di ujung dekat jendela terlihat sang kakak bersama asisten pribadinya yang tengah sibuk membahas soal sesuatu.


Walau sedikit jauh tapi samar samar dirinya bisa mendengar percakapan antara mereka berdua.


Cih.!


Kerja melulu


Diliriknya jam dilayar handphone nya, dia fikir ini sudah sangat terlambat untuk mendapatkan makan malamnya


Tapi kenapa kedua laki laki disana tidak juga beranjak dari duduknya malah semakin asik dengan pekerjaanya.


Ish.. apa mereka tidak merasa lapar?


Dengan perasaan sedikit kesal Safira mulai berjalan mendekati dimana kedua laki laki itu berada, mengintrupsi kegiatannya memaksa agar secepatnya mendapatkan makan malam.


"Kakak masih belum begitu merasa lapar Safira, kamu dengan Dikhal saja yang makan"


Tolak Arzu saat dirinya diminta sang adik untuk makan malam bersama.


Dia merasa tidak berselerah untuk menyantap makanan hari ini, bahkan tadi siang dia juga melewatkan begitu saja waktu makan siangnya.


Rasa marah dan kesal begitu sesak Ia rasakan, dia fikir kenapa sampai saat ini Lily belum juga memberi kabar, apa dia ingin membohongi dirinya.


Bahkan berkali kali dia mencoba menghubungi handphone milik perempuan itu tapi berkali kali juga suara orang lain yang menjawab nya.


"Kakak yakin.. Kal bilang dari tadi siang Kakak belum makan sama sekali"


Tanya Safira yang sedikit cemas dengan keadaan kakaknya, dipandangi sang kakak dari atas sampai bawah.


Sepetinya sehat


Tapi kenapa merasa seperti orang yang tidak berselerah makan, apa karena banyak hal yang dia fikirkan, apa itu tentang perusahaan.


Tiba tiba dirinya menatap iba kearah sang kakak, dia fikir kapan masalah ini akan selesai dan kembali baik baik saja seperti sebelum nya.


"Hmmm iya.. hanya saja tiba tiba Kakak kehilangan selerah makan"


Arzu secara perlahan mencoba beranjak dari duduknya dan Di ikuti juga oleh Dikhal.


Menatap Safira dan Dikhal untuk sesaat sembari menarik tipis ujung bibirnya.


"Kalian berdua saja yang makan Kakak ingin membersikan diri dulu, hmmm apa kamu akan menginap disini Baby?"


Tanya Arzu.


"Aku rasa tidak Kak, kasihan Anna dia sendiri di apartemen"


"Hmmm baiklah kakak kembali ke kamar dulu"


Arzu memutuskan mengistirahat kan tubuhnya barang sejenak, mandi berendam adalah pilihan tepat saat ini, dengan begitu dirinya akan terlihat sedikit lebih segar


Dan berharap setelahnya ada seseorang yang akan menghubungi dirinya.


Ah tiba tiba saja dia merasa rindu.

__ADS_1


__ADS_2