
Setelah berhasil keluar dari lumpur hidup, sudah bisa dipastikan tubuh mereka penuh dengan lumpur dan bau. Dan yang paling jelas, mereka lelah.
“Alice-kun, apa kita masih hidup?”
“Jangan bertanya. Kalau penasaran, coba tenggelamkan dirimu lagi ke sana dan rasakan sensasinya sendiri”
Code Name: Tarzan hanya diam dengan ekspresi aneh. Tidak mau bertanya lagi, dia mulai mengatur napasnya dan melihat sekujur tubuhnya.
“Bajuku kotor.”
“Kalau bersih kamu tidak normal.” celetuk Tenn.
Entah kenapa tingkat emosi Tenn sedang tidak bagus sekarang.
Faktanya, hal itu dikarenakan dia telah kehilangan satu-satunya sihir terkuat yang bisa dia pakai dan sekarang dia benar-benar hanya bisa mengandalkan keberuntungan dan kemampuan bertarungnya.
“Aku tidak akan memaafkan admin gila itu! Lihat saja nanti!” umpatnya dalam hati.
Code Name: Tarzan mencoba bangun dan melihat apa yang ada di depannya. Jelas sebagai manusia normal dia terkejut.
“Apa yang terjadi?!” teriaknya, “Alice-kun, apa kau melakukan sesuatu?”
Tenn hanya terlihat biasa-biasa saja dan menjawab dengan santai, “Tidak. Mereka berhenti sendiri. Bisa jadi ini ulah si admin gila itu.”
Meskipun kata-kata itu tidak bisa dipercaya sepenuhnya, Code Name: Tarzan harus bisa menerima alasan tersebut.
Setelah diam beberapa saat, mereka mencoba berdiri dengan tubuh penuh dengan lumpur.
“Sistem, apakah ada kartu di dalam semua zombie-zombie tersebut?” tanya Code Name: Tarzan.
[Terdeteksi. Ada satu kartu yang berada pada bagian dalam tubuh zombie]
“Eh!”
Teriakan penuh rasa terkejut itu membuat Tenn penasaran, “Kenapa? Apa katanya?”
“Mustahil! Dari semua ratusan mayat-mayat itu, hanya satu yang memiliki kartu di dalam tubuhnya!”
“Apa?! Jangan bercanda! Coba tanya yang benar!!”
Seperti mendengar kalimat lain dari sistemnya, tampaknya ekspresi Code Name: Tarzan cukup menjelaskan semuanya. Itu memang hanya ada satu.
“Sial!” umpat Tenn.
“Bagaimana sekarang?”
__ADS_1
“Aku tidak mau mengotori pakaianku lebih dari ini! Sistem itu juga hanya bisa memberitau jumlah kartu tanpa memberitau jenisnya, jadi lupakan!”
“Tapi bisa saja itu kartu yang kita cari, Alice-kun!”
Tenn dengan ekspresi kesalnya membuat gaya tolak pinggang sambil menghela napas panjang dan berat. Ini adalah sedikit tanda bahwa dia akan meledak.
Dan dia benar-benar meledak. Ledakan emosi yang disebut gerutuan panjang.
“Dari ratusan mayat hanya ada satu kartu di dalam tubuh salah satunya, Tarzan-chan. Kamu pikir kita punya waktu untuk bertaruh sekarang?”
“Lihat aku sekarang? Aku kotor, bau, menyedihkan dan tidak imut.”
Tenn merogok saku celananya dan mengambil kartu miliknya dalam posisi bagian belakang kartu menghadap ke arah Code Name: Tarzan.
“Lihat, hanya kartu kita saja yang bersih cling tanpa noda. Kartu ini dibuat istimewa oleh admin itu tapi tidak dengan pakaian kita.”
“Aku sudah muak dengan lumpur dan mayat. Pertama, kita pergi dari sini dan temukan sumber air untuk membersihkan diri.”
“Kedua, kalau masih bersikeras untuk membongkar mayat-mayat itu maka lakukan sendiri.”
“Di hutan ini masih ada 22 kombinasi suit yang bisa kita buat dan tidak mungkin ada pemain yang bisa langsung mendapatkannya semuanya dalam waktu singkat. Mengerti maksudku?”
“...” Code Name: Tarzan terpaksa diam. Tidak salah juga jika Tenn berpikir begitu. Mempertaruhkan waktu dan tenaga mereka demi sebuah kartu yang peluangnya 50:50 adalah sebuah keputusan gila.
Tenn dan Code Name: Tarzan akhirnya berdiri dan berjalan melewati ratusan mayat-mayat tersebut.
Setelah berjalan beberapa saat, keduanya memperhatikan setiap semak dan pepohonan. Tidak ada yang benar-benar aman di sana.
“Bahkan zombie saja bisa memanjat pohon. Nanti apalagi? Ada zombie yang bisa bernapas dan berjalan di dalam air? Menyebalkan!” gerutu Tenn.
Code Name: Tarzan yang berjalan di belakangnya sedikit memperhatikan Tenn.
“Aku masih sedikit penasaran dengan Alice-kun. Bagaimanapun, dia terlihat sangat kuat dan emosional. Tetapi, ada satu sisi yang membuatku takut.”
“Kekuatan tendangan yang aku lihat waktu itu…itu jelas bukan milik manusia.”
“Selain itu, saat dirinya memintaku untuk menutup mata, aku yakin dia melakukan sesuatu pada semua zombie-zombie itu. Meskipun aku tidak memiliki bukti, tapi aku sangat yakin.”
“Ada sesuatu yang membuat Alice-kun sangat berbeda.”
Di balik rasa curiga itu, tetap saja ada perasaan beruntung karena Code Name: Tarzan tidak salah dalam memilih rekan.
Keduanya memasuki area lain dari hutan. Lokasinya cukup jauh dari tempat sebelumnya dan kali ini wilayah tersebut dikelilingi oleh bebatuan dan jalan terbuka. Sedikit pohon berakar tinggi dan terlihat ada sesuatu yang berbeda dengan wilayah tersebut.
“Ini…”
__ADS_1
Bunga, atau kita bisa menyebutnya taman bunga. Ada banyak bunga di sana, mirip kantong semar dan beberapa bunga liar dengan akar merambat dan dedaunan di sekitarnya.
Tapi perlu diketahui pula bahwa pemandangan yang mirip seperti taman bunga di hadapan mereka sekarang adalah pemandangan di luar nalar manusia normal.
“Apa…ini?” Tenn seperti melihat sekitarnya. Bunga besar, lebih besar dari ukuran normal yang bahkan bisa dibandingkan dengan ukuran sebuah rumah.
“Bunga…raksasa?”
“Aku tidak suka tempat ini.” gumam Alice.
Namun baru saja mereka berhasil lolos dari maut, di hutan tersebut mereka mendengar suara. Sebuah suara musik indah dari alat musik gramofon.
Cukup unik bisa mendengar suara musik yang berasal dari gramofon, mengingat alat tersebut sudah tua dan sudah mulai langka di zaman tersebut.
“Ini suara musik dari piringan hitam. Bagaimana mungkin ada musik di hutan belantara begini?” pikir Tenn.
Bukan hanya Tenn, namun Code Name: Tarzan juga mendengar suaranya dengan jelas.
“Ini musik? Kenapa bisa?”
Kedua pemain tersebut masuk ke dalam taman raksasa dan berjalan sambil memperhatikan tiap detailnya.
Seperti negeri dongeng, tidak ada lagi semak belukar namun berganti menjadi rumput raksasa dan jamur raksasa.
Bunga mawar yang berwarna-warni, kantong semar dan dandelion. Beberapa bunga liar lainnya terlihat di sini. Suasana ini persis seperti negeri dongeng sesungguhnya.
“Ini bukan dunia Tarzan, The Ape Man tapi sudah berubah menjadi dunia lain.” kata Tenn sambil memegang sebuah jamur warna-warni yang besar.
Tinggi jamur tersebut hampir sebesar dirinya dan aromanya begitu menyengat.
“Ini semakin mencurigakan. Aku semakin muak dengan tempat ini.” gerutunya. Code Name: Tarzan yang masih kebingungan semakin mendengar suara tersebut dengan jelas.
“Alice-kun, suaranya dari sini!”
“Kita ke sana!”
Mereka berlari menuju tempat tersebut dan dilihatnya sebuah pemandangan penuh warna dan…gulali?
Dari hutan penuh zombie menjadi tempat yang penuh dengan gulali. Coklat dan permen tersebar dimana-mana. Aroma busuk mayat dan darah tidak lagi tercium, semua berubah menjadi aroma manis gula.
Ada sebuah meja panjang dengan banyak kursi di sana. Saat dihitung, jumlahnya sekitar 10 buah. Di atas meja terdapat banyak sekali makanan manis dan teh hangat. Buah segar dan chocolate fountain kecil ada di sana.
Ada seseorang di salah satu kursi tersebut. Dia tampak tenang dan santai menyeruput tehnya. Setelah selesai, dia melihat kedua orang yang baru saja tiba dan berkata, “Selamat datang di pesta tehku.”
*****
__ADS_1