
Sebuah pemandangan yang sangat berbeda bak langit dan bumi terlihat.
Sebelumnya, sisi hutan tersebut dipenuhi tanaman besar dengan warna dan aroma manis, bunga dan jamur serta beberapa pohon buah segar.
Namun sekarang hilang dan berganti menjadi pemandangan tidak sedap dipandang.
Siapa yang menyangka bahwa sejak awal, Tenn dan mendiang Code Name: Tarza telah masuk ke sisi hutan yang dipenuhi dengan lumpur dan darah dimana-mana.
Sudah begitu, yang lebih mengejutkannya lagi bahwa mereka telah dikelilingi oleh mayat.
Bukan hanya mayat zombie namun juga ada beberapa mayat pemain. Hal itu terlihat dari pakaian modern dan bukan pakaian pesta abad ke-17.
“Ini…”
Bau busuk tercium. Tepat di samping Code Name: Mad Hatter, terdapat gunungan mayat. Sekitar 10-12 mayat ditumpuk memanjang.
“Jadi begitu rupanya…” Tenn memperhatikan bentuk mayat-mayat yang ada di sampingnya. Terlihat bahwa sejak datang, ternyata Tenn duduk di salah satu tumpukan mayat yang disusun menjadi dua tumpuk dengan bentuk yang sudah tidak lagi utuh.
Beberapa bagian tubuhnya terpotong dan terpisah, ada yang terkoyak dan ada yang masih menggantung seperti bagian mata dan isi perut.
“Aku bersyukur aku tidak memakan apapun yang disediakan olehnya tadi. Kalau aku memakannya, aku pasti akan muntah berkali-kali sekarang.” pikirnya.
Tenn melihat ke arah sosok pemuda setengah waras di hadapannya. Dia terlihat begitu santai dengan senyumannya.
“Aku sudah bilang kalau ini tidak menyenangkan untuk dilihat kan, Alice?”
“Aku lebih tidak suka melihatmu senyum tidak jelas begitu.” celetuk Tenn. terlihat bahwa selera mereka berbeda.
__ADS_1
Tapi entah kenapa, Tenn tidak begitu membenci pemandangan tersebut. Faktanya, dia sering melakukan hal yang tidak jauh berbeda di masa lalu. Masalahnya hanya terletak pada perbedaan selera.
Tenn tidak pernah memainkan sesuatu yang sudah dibunuhnya, sedangkan Code Name: Mad Hatter senang menjadikan buruannya itu seperti properti. Bahkan sekarang Tenn curiga bahwa yang dinikmati di meja makan sebelumnya adalah isi perut dari para mayat tersebut.
“Biar kutebak, kemampuan ini bisa menjadikan apa yang kamu bayangkan dan apa yang kamu inginkan menjadi nyata. Benar begitu?”
Mendengar tebakan Tenn, wajah senang dan ekspresi terkesan ditunjukkan sambil berjalan mendekatinya.
“Aku tidak percaya ada yang bisa menebak sampai sejauh ini! Alice, sudah kuduga kau dan aku sangat cocok satu sama lain.”
“Terima kasih tapi aku tidak mau cocok denganmu.” kata Tenn ketus. Dia tidak bercanda, dia serius tidak ingin disamakan atau dipasangkan dengannya.
Tapi siapa peduli, yang jelas orang yang ada di hadapan Tenn sama sekali tidak memedulikan hal tersebut dan meraih tangan Tenn.
“Dengar Alice, kita harus bekerja sama dan menyelesaikan game ini bersama sampai akhir! Ini adalah kesempatan untuk mencari karakter lain yang berasal dari Alice in Wonderland!” ucapnya dengan mata berbinar.
“Pertama, tenangkan dirimu dan lepaskan tanganku.”
“Kedua, jangan dekat-dekat denganku karena kamu bau amis.”
“Ketiga aku menolak mencari teman khayalanmu karena aku ingin menyelesaikan game bodoh ini dan memenggal kepala si admin sial itu.”
Tenn benar-benar tidak menahan dirinya saat mengatakan semua hal itu dan tentu saja Code Name: Mad Hatter bukan tipe pendengar yang baik.
“Alice, aku tau kau pengertian.”
“Hah?!”
__ADS_1
“Aku tau kau hanya malu karena terlalu senang. Kalau begitu, biar kuberitaukan sesuatu padamu.”
“Kamu kira aku akan mendengarkan omong ko–”
“Keseluruhan tempat ini adalah bagian dari cerita ‘Zombie Fairy Tales’ dan kita baru ada di bagian ‘Tarzan, The Ape Man’. Menarik bukan?”
-Deg
Tenn tidak bisa menyembunyikan perasaan terkejutnya. “Zombie…fairy tales katamu?”
“Benar. Tempat ini adalah gabungan dari semua set cerita berjudul ‘Zombie Fairy Tales’. Sejujurnya tidak ada cerita soal Tarzan di dalam koleksinya.”
“Namun latar dongeng tersebut dipakai karena di level 1 permainan game ini, admin memasukkan lebih dari satu latar yang digabung menjadi satu.”
Tenn tidak langsung percaya pada semua yang dikatakan oleh pemuda itu dan bertanya, “Dari mana semua informasi itu?”
“Sistemku.”
“Benarkah?”
“Sistem tiap pemain memiliki algoritma yang berbeda dan mereka tampaknya memiliki karakter yang disesuaikan dengan tokoh yang dimainkan oleh user yaitu kita.”
Tenn tampaknya benar soal pemikiran bahwa tiap sistem menganut algoritma berbeda.
“Ternyata begitu. Tidak heran sistem milik Tarzan juga seperti itu. Dalam cerita dongeng di beberapa versi, Tarzan memiliki karakter yang jujur dan lugu.”
Tapi semua itu tidak penting. Tenn baru saja mendapatkan informasi berharga mengenai level game yang sekarang berlangsung.
__ADS_1
*****