Black Alice in the Murder Land

Black Alice in the Murder Land
Chapter 26. Zombie Fairy Tales bag. 2


__ADS_3

Tenn mendapatkan sebuah informasi menarik dimana akhirnya dia bertemu dengan orang yang lebih menyebalkan tapi lebih berguna dari mendiang Code Name: Tarzan.


“Latar cerita ‘Zombie Fairy Tales’ ya. Karangan siapa itu?” tanya Tenn.


“Cerita itu karya Kevin Richey pada tahun 2013. Ada beberapa cerita utama yang cukup populer diantaranya versi zombie dari Hansel and Gretel, Red Riding Hood, Pinocchio, Beauty and The Beast dan Cinderella.”


Mendengar nama Cinderella, Tenn ingat apa yang sebelumnya menimpa dirinya.


“Jadi begitu. Pantas Cinderella yang aku lihat saat di istana sebelumnya berubah menjadi zombie.”


“Setting permainan game dan arena yang diciptakannya masuk ke dalam beberapa tema dongeng dan itu artinya…kemungkinan ada versi Alice in Wonderland juga di tempat ini.”


“Sial! Kalau saja sistem tsundere itu sudah bisa aku pakai. Dia sama sekali tidak membiarkanku menjalani semua dengan mudah.”


“Tapi, aku cukup beruntung. Meskipun Tarzan sudah tidak ada, tapi aku bertemu pemain yang lebih berguna dan bisa aku manfaatkan dengan baik.”


Pikiran Tenn sudah tidak lagi memikirkan rekan kerjasama timnya yang baru saja tewas. Di hadapannya sudah berdiri seseorang yang sepertinya rela melakukan apapun demi bisa tetap membuatnya berada di dekatnya.


“Meskipun dia mirip seperti seorang yandere, tapi aku tidak peduli. Selagi bisa dimanfaatkan, itu jauh lebih baik.”


Tenn mulai beradu akting dengan Code Name: Mad Hatter.


“Baiklah. Pertama terima kasih sudah memberikan penjelasan kepadaku. Aku cukup beruntung bertemu dengan teman…teman…” rasanya mulut Tenn benci sekali dan tidak ingin mengatakan kata itu. Tapi sekarang, pemuda di depan Tenn seperti menunggu dirinya menyelesaikan kalimatnya.


“Matilah aku.” gumamnya dalam hati. Dan akhirnya Tenn terpaksa menyelesaikan kalimatnya.


“Bertemu teman satu dongen sepertimu, Hatter.”


Wajah Tenn terlihat sangat, sangat, sangat terpaksa mengatakan semua itu. Tapi yang mendengar merasa begitu bangga dan menganggap Tenn memiliki pandangan yang sama seperti dirinya.


“Aku benar, kan? Syukurlah~kukira Alice tidak senang bertemu denganku. Aku sudah merasa kalau kau adalah orang pengertian. Hanya nasib pertemuanmu saja yang tidak beruntung.”


“Benar. Tidak beruntung karena bertemu dengan orang yang kurang sehat mentalnya.” jawan Tenn dengan begitu percaya diri.

__ADS_1


Code Name: Mad Hatter melihat ke arah kepala Code Name: Tarzan dan terlihat jijik, “Benar. Bertemu dengan Tarzan yang berbeda cerita dengan kita memang kesialan dan membuat jiwamu sakit.”


“Kamu yang aku maksud!”


Begitulah isi perasaan demon lord kita yang satu ini, tapi sudahlah. Tidak ada yang bisa mendengarnya juga jadi lupakan saja.


Kembali ke kondisi saat ini, tempat mereka sekarang itu berisi mayat yang sudah nyaris tidak berbentuk, tidak jelas dan sangat mengerikan.


Dengan cara yang sebelumnya telah dilihat oleh Tenn, sudah dapat ditebak bahwa kemungkinan besar memang Code Name: Mad Hatter-lah pelakunya. Tapi, sedikit keraguan mulai muncul.


Jumlah mayatnya terlalu banyak, bahkan lebih banyak dari sebelumnya, ditambah lagi aroma busuk mereka terlalu menyengat sehingga ada kemungkinan mereka bisa saja sudah mati sebelum keduanya tiba.


Setting cerita baru saja dimulai, tapi ada kemungkinan bahwa zona waktu di tempat itu sangat berbeda sehingga berpengaruh dengan kondisi semua yang ada di dalamnya.


Pertanyaannya, apakah benar Code Name: Mad Hatter yang membunuh mereka semua? Atau memang sejak awal semua mayat-mayat itu sudah ada di sana terlalu lama hingga membusuk?


“Oh, setengahnya sudah ada di sini sebelum aku tiba. Tapi para pemain yang mati itu aku bunuh saat aku tiba.” jawab Code Name: Mad Hatter dengan santai.


Itu menjawab pertanyaan.


“Benar.” Code Name: Mad Hatter menceritakan situasi miliknya kepada Tenn. “Aku tidak tau berapa lama aku sudah ada di sini.”


“Sistemku hanya berkata bahwa aku sudah berada di tempat ini sekitar satu jam tiga puluh menit.”


“Sebelumnya, aku baru saja menemukan kartu suit “Spades” tergeletak di tanah. Kemudian saat aku tiba di sini, aku melihat delapan pemain itu sedang merobek mayat. Seperti mencari kartu, lihat itu. Kartunya bahkan masih di sana.”


Tenn melihat kartu-kartu klondike yang tergeletak. Awalnya dia tidak menyadarinya karena tertindih mayat-mayat dan tertutup darah meskipun kartu klondike dalam permainan ini seperti memiliki teknologi waterproof.


“Kartu itu bukan kartu yang bisa membuat kombinasi “Royal Straight Flush” dengan kata lain mereka sampah.”


“Lalu, karena mereka sudah bekerja keras jadi aku mengajak mereka minum teh. Tapi ketika aku mengajak mereka untuk berkenalan, mereka menyerangku.”


“Sebelum aku membunuh mereka, aku berharap ada dari mereka yang merupakan user dengan nama tokoh yang satu dongeng denganku. Tapi sepertinya harapanku terlalu cepat. Mereka orang asing.”

__ADS_1


Tenn bisa melihat kebenaran dari penjelasan miliknya dan dia serius. Itu artinya para pemain yang dibunuh oleh Code Name: Mad Hatter telah lebih dulu tiba di sini dan mengoyak habis mayat-mayat itu.


“Aku sudah menjelaskan kronologinya padamu. Sekarang kita minum teh lagi ya.”


-Klik


Tempat itu kembali berubah menjadi penuh warna dan gula seperti sebelumnya. Meja dan kursi, bunga-bunga penuh warna dan kudapan kembali terlihat.


Aroma busuk kembali menjadi aroma manis gula yang menyenangkan. Tapi Tenn sepertinya sudah terlanjur jijik.


Code Name: Mad Hatter menarik tangan Tenn dan memintanya duduk kembali.


“Minum tehnya, Alice. Ini spesial merayakan berkumpulnya tokoh Alice in Wonderland. Cheers!”


Tenn hanya diam tanpa berkomentar apapun. Memilih diam, Tenn memutuskan untuk menggali habis seluruh informasi yang dimiliki olehnya.


**


Di sisi lain hutan yang cukup jauh dari sana, di tempat yang sangat dalam penuh tanaman liar dan akar belukar, ada sebuah rumah kue yang berdiri tegak di sana.


Di dalam rumah kue tersebut terdapat dua sosok yang sedang duduk.


“Kita harus menemukan kartunya lagi, Hansel.”


“Aku tau itu, Gretel. Suit “Hearts” dan “Diamonds” itu sedikit sulit ditemukan. Aku rasa kita harus keluar dari tempat ini.”


“Sayang sekali harus kehilangan rumah kue yang sudah kita bangun susah payah.”


“Jangan khawatir, setelah mendapatkan kartu yang dicari dan keluar dari sini, kita akan membangun rumah kue lain. Para zombie itu juga pantas untuk dijadikan pondasi rumah kue kita.”


“Kau jenius, Hansel! Kalau begitu, ayo!”


Mereka berdua keluar dari tempat itu. Saat mereka telah berjalan menuju hutan, rumah kue itu berubah menjadi mayat para pemain lain yang cukup mengenaskan. Sekitar 8 pemain yang mati dengan beberapa bagian tubuh yang tampak seperti telah dimakan oleh sesuatu.

__ADS_1


Permainan berburu kartu di dalam kumpulan latar cerita Zombie Fairy Tales akan segera berlanjut.


*****


__ADS_2