
“Alice!!”
Code Name: Mad Hatter mencari Tenn sepanjang jalan yang sebelumnya dilewati oleh tiga kambing raksasa dengan troll besar itu.
“Kemana Alice pergi? Apa dia sedang buang air? Alice!!”
Pemuda itu terus berteriak dan mengabaikan yang lain. Di dalam hutan itu, semua hal bisa terjadi, tapi untuknya saat ini adalah yang terpenting bertemu Alice.
“Alice!”
Sementara itu, orang yang dicari oleh pemuda blasteran yang memanggil nama ‘Alice’ berkali-kali sedang sibuk melihat sekelilingnya dan sudah berjalan di depannya.
“Berisik sekali. Abaikan saja dan dia akan tenang seperti anak kucing.”
Tenn memperhatikan pepohonan yang tumbang dan jejak raksasa di tanah. Terdapat batang pohon yang hancur dan bila diperhatikan, banyak pula jejak darah dimana-mana.
“Mungkinkah ada yang mati sebelumnya? Atau mereka sudah mati saat para kambing raksasa itu kemari?” pikirnya.
Tenn hanya berjalan sambil mengawasi bagian-bagian hutan yang ada di sekitarnya. Hanya ada pohon, pohon dan pohon serta semak-semak. Wilayah berbatu yang sebelumnya dilewati sudah jauh dari tempatnya saat ini.
Bahkan sejauh ini, tidak ada tanda-tanda pemain lain ataupun zombie.
“Sistem, apakah ada pemain lain di sekitar sini?”
[Mendeteksi area sekitar]
[Pemain terdekat saat ini hanya Code Name: Mad Hatter yang berada di jarak 30 meter dari tempat Code Name: Alice berada]
“Abaikan orang gila itu.” gumamnya pelan.
Sambil berjalan dan mengingat kartu yang dimilikinya sekarang, Tenn terkesan sedikit terburu-buru.
“Aku harus mendapatkan kartu terakhir agar bisa mendapatkan suit “Hearts”. Lupakan suit kartu “Diamonds” yang aku incar di awal.”
“Pada akhirnya, milik Tarzan adalah yang paling mendekati kombinasi “Royal Straight Flush” untuk mengakhiri game.”
“Tapi dimana aku bisa menemukan kartu as terakhir?”
Dari kejauhan, ada seseorang yang memperhatikannya. Orang itu tersenyum, mengendap-endap kemudian berusaha mengikutinya secara diam-diam.
Sudah pasti bukan Code Name: Mad Hatter karena jika itu dia, orang itu pasti akan langsung berteriak begitu melihat Tenn.
__ADS_1
Dalam kondisi seperti ini, Tenn memilih untuk tidak melakukan apapun dan melihat ponselnya kembali.
Di dalam daftar seluruh sihirnya, total level yang mengekang sihirnya sampai di batas level 30 yang berarti level tersebut adalah level paling tinggi dalam permainan.
“Jadi hanya sampai level 30 ya. Apa informasi ini dimiliki oleh yang lain juga? Apa pemain lain tau bahwa permainan ini hanya sampai level 30?” pikirnya.
Di level 30, hanya ada satu sihir yang disegel yaitu [Necromancy], sihir yang dapat membangkitkan orang yang sudah mati.
Termasuk sihir yang tidak begitu kuat pada awalnya, namun dengan kombinasi tingkatan sihir dan demon eye dalam kondisi sempurna, sihir itu bisa sangat mengerikan.
“Admin gila itu cukup cerdas menyegel sihir itu di level terakhir.” katanya dalam hati.
Di satu sisi, orang yang mengendap-endap itu tampak belum melakukan apapun. Hanya melihat dan memperhatikan tanpa ada tanda-tanda akan menyerang. Bukan hanya itu, Tenn juga merasa bahwa ada maksud lain yang mungkin diinginkan oleh orang tersebut.
“Aku yakin orang di belakangku ini memiliki niat untuk muncul di hadapanku, tapi kenapa dia tidak memberikan tanda-tanda akan menyerang?”
“Hah!” Tenn tersentak dan berhenti. Dia langsung terlihat pucat seperti akan pingsan. Dia dengan panik dan tubuh merinding membayangkan sesuatu sambil bergumam cepat dalam hati.
“Jangan bilang dia adalah orang hentai dengan sifat yang sama seperti Hatter yang senang mengikutiku dan maniak mengumpulkan tokoh yang berasal dari satu dongeng?!”
“Demi kue tart buatan ibuku, aku akan menendang wajahnya jika dia muncul di hadapanku.” katanya.
-Tap…tap…tap…
“Demi roti coklat buatan ibuku, siapa lagi itu?!”
[Perhatian. Code Name: Mad Hatter akan segera menabrak Code Name: Alice dalam hitungan 3, 2–]
“Apa yang kamu bicarakan i–”
Sebelum sistem selesai dengan kalimatnya, Tenn memotongnya dan saat dia melihat ke arah depan, orang yang berlari itu benar-benar melompat dan menabraknya hingga jatuh.
“Alice!!!”
“Huwaa!”
-Bruuk
Tubuhnya jatuh ke tanah dan dia bahkan tidak bisa bergerak sekarang.
“Bangun dari atas tubuhku!!” teriaknya.
__ADS_1
“Huwaaa~kenapa kau meninggalkanku sendirian, Alice?!”
Tenn tampaknya harus bertahan dengan tangisan itu sekarang. Dia harus menerima nasibnya sesaat dengan mendengarkan Code Name: Mad Hatter memelas seakan menjadi korban yang dianiaya.
“Kau tidak tau kalau ada zombie mengerikan yang ternyata menungguku di balik semak-semak tadi?!”
“Sudah begitu mereka sangat banyak. Aku harus bertarung sendirian dan menggunakan kemampuanku untuk menghentikan langkah mereka.”
“Selain itu, mereka juga tidak memiliki kartu bagus yang sesuai dengan suit kombinasiku. Hal terburuknya saat aku kembali, kau tidak ada di sana?!”
Mendengar ucapan itu, mata Tenn berubah merah pekat. Dia merasakan sesuatu yang tidak benar dari ucapannya itu.
“Kamu berbohong ya.” ucapnya.
“Aku tidak berbohong! Aku sungguhan. Mayat zombienya saja masih di sana.” Code Name: Mad Hatter mencoba membela diri.
Tapi sejujurnya itu sudah tidak berguna sejak kemampuan sihir Tenn, [Lie Detector] aktif saat ini.
Tanpa memedulikan omong kosong pemuda yang masih duduk tenang di atas perutnya, Tenn memaksakan diri untuk bangun dan mengabaikan pemuda itu apakah dia akan jatuh atau tidak dari atas tubuhnya.
“Alice, kau tidak terluka kan?”
“Tidak, sebelum kamu menjatuhkanku tadi. Sekarang, aku ingin kita pergi dari sini dan menghindar dari tikus kecil di sekitar semak-semak itu.”
Code Name: Mad Hatter melihat ke arah mata Tenn melihat. Dia mengarah ke semak-semak dan ke sekitar pepohonan di sana.
Orang yang bersembunyi itu langsung terlihat panik dan menghilang. Namun, dalam sekejap dia muncul di belakang Tenn.
“Aku tau kalian, Alice dan Mad Hatter benar kan?”
Tenn langsung berdiri mendengar suara itu. Ekspresinya menjadi tajam dan dia tau bahwa apa yang dilakukan oleh sosok yang berdiri di hadapannya itu adalah sebuah kemampuan yang mirip dengan miliknya dulu, teleportasi.
Sosok yang ada di hadapan mereka ada seorang anak perempuan berambut pendek berwarna kecoklatan, memakai topi newsboy cap berwarna coklat kotak-kota dengan garis hitam, pakaian yang dikenakannya juga senada dengan warna topinya, memakai celana bercorak sama dengan pakaiannya sepanjang lutut dan sepatu tertutup berwarna merah.
Anak itu membuat pose tolak pinggang dan senyum lebar.
“Aku adalah Cheshire Cat yang agung. Kalian harus menjadi pelayanku.”
Mendengar nama dan kalimatnya itu, Tenn langsung mengambil kesimpulan.
“Bocah manja tidak tau diri rupanya.”
__ADS_1
*****