Blessing Curse (Kutukan Berkah)

Blessing Curse (Kutukan Berkah)
10. Sihir Hitam


__ADS_3

Meski mungkin saja dikecam sebagai pemberontak atau bahkan dianggap dapat membahayakan nyawa seorang putri oleh beberapa orang, aku tidak juga menurunkan sorot mata tajamku yang tengah melirik benci ke arah Mizhawa. Aku tidak peduli jika saat ini mungkin mereka sedang merencanakan pembunuhan kepadaku secara diam-diam, yang aku pedulikan hanyalah kemarahanku.


Ini untuk kedua kalinya dia berusaha membunuhku. Bagaimana aku menahan rasa sakit di dadaku masih dapat kuingat dengan jelas semua itu. Bisa-bisanya dia berusaha mencekikku dan melakukan tindak kriminal untuk kedua kalinya kepadaku.


"Mizhawa, apakah kamu yakin kamu baik-baik saja?" Sazha untuk kesekian kalinya mengekspresikan kekhawatirannya kepada Mizha yang jelas sekali terlihat sempurna, berbanding terbalik denganku yang mengalami penyambutan istimewa darinya, dan mungkin sedikit trauma.


"Sudah berapa kali kubilang padamu, aku baik-baik saja!" Mizhawa membalas perhatian Sazha dengan kesal, tidak, dia terlihat lebih dari itu. Matanya mengatakan bahwa dia ingin sekali menghabisi Sazha yang mengganggunya menyantap makanan dihadapannya sedari tadi.


Aku, Dayeon, Chaeyun, Ji-hyeon, serta ketiga putri Hira, Mozhawa, Sazhawa, dan Mizhawa, dan satu lagi seorang putri yang berasal dari Jang Gu yaitu Jang Na Yeong, sedang berada di meja makan keluarga istana Hira yang begitu besar dan dipenuhi dengan aneka hidangan kerajaan yang belum pernah kusantap sebelumnya, bahkan hanya dengan melihat ini aku bisa melupakan siapa aku sebelumnya.


Namun jika dipikir-pikir, sedari kedatanganku dan rombongan ke kerajaan Hira, raja dari Hira tidak juga menampakkan dirinya yang mana itu merupakan sebuah kelegaan bagiku, tapi justru hal itu yang membuatku menjadi janggal juga. Bagaimana bisa seorang raja tidak menyambut atau bahkan mengetahui jika dia kedatangan para putri dari kerajaan lain di Daegun ini. Atau mungkin sebenarnya dia tahu dan dia sedang memiliki urusan lain sehingga dia tidak sempat untuk menyambut kedatangan kami, maksudku kedatangan mereka para putri karena jelas sekali aku bukanlah anggota kerajaan yang harus mendapatkan penyambutan hangat.


"Mizhawa, turunkan nada suaramu, kita sedang berhadapan dengan makanan" perintah Mozha dengan penuh wibawa kepada adik termudanya.


Dan gerakan selanjutnya sudah dapat aku prediksi, dia hanya akan menghela napas dan memutar bola matanya dengan jengkel tentunya.


Aku melihat keempat putri dari kerajaan lain tampak begitu tenang menyantap makanan mereka dan seolah terbiasa dengan pemandangan seperti ini. Mereka sungguh tidak bisa diprediksi.


"Aku hanya khawatir, karena wajahmu terlihat begitu memerah, kamu seperti sedang sakit" lagi-lagi, Sazha mengatakan hal yang membuat Mizhawa bertambah kesal.


Hal yang sama sekali tidak bisa kuprediksi selanjutnya, Mizha menggebrak meja yang ada dihadapannya dengan keras dan membuat seisi ruang makan tersentak kaget.

__ADS_1


"Mizhawa!" kali ini Mozhawa dengan lantang menggertaknya.


Ketegangan menyelimuti setiap orang didalamnya, terlihat para pembantu dan juga penjaga istana terlihat was-was dan memperbaiki postur mereka dengan lebih tegap, seolah mereka bersiap dengan yang akan terjadi selanjutnya.


Sedangkan para putri menghentikan apapun yang sedang mereka lakukan, terdengar suara sendok jatuh dari arah Chaeyun, dan ketika semua orang melirik kearahnya, dia hanya menyunggingkan seringai kecil dengan gigi dan bibirnya yang tampak canggung.


Mozhawa terlihat benar-benar kecewa dengan sikap Mizha, dan matanya seakan mengatakan bahwa dia meminta maaf dengan para tamu, terlebih saat matanya berhenti kepadaku yang berada tidak jauh dari hadapannya. Aku merasakan kekecewaan itu, meskipun aku bukan seorang kakak, bahkan aku tidak memiliki saudara tapi aku bisa merasakan betapa kerasnya usaha yang telah dia lakukan demi kerajaan dan adik-adiknya. Dia terlihat seperti seseorang yang telah melakukan semua yang dia mampu tapi pada akhirnya keadaanlah yang berbicara.


Ketegangan bertambah saat Mizhawa berdiri dari tempat duduknya secara tiba-tiba, hal itu juga menarik perhatian para putri lainnya.


"Aku sadar, aku hanya beban untukmu, jadi saranku kamu tidak perlu memikirkan aku Mozhawa!" Mizha berhenti sejenak sambil terus menampakkan amarahnya, dia tidak berapi-api, namun dari setiap kata yang dia keluarkan semua itu seolah merupakan rasa sakit yang sedang dia luapkan "dan untukmu Sazhawa, berhenti mencampuri urusan orang lain." dia menunjuk Sazhawa yang duduk tepat diantara dia dan Mozhawa, lalu pergi begitu saja.


Mozhawa terlihat menghela napas dalam-dalam dan mengusapkan jemari ke pinggiran dahinya, jelas terlihat kalut dengan keadaan mereka.


"Tidak apa Sazha, kamu hanya khawatir kepadanya, jangan terlalu diambil hati" Mozha meyakinkannya dengan senyum, salah satu senyum palsu tentunya. Dia bahkan terlihat terguncang dengan perilaku Mizha sebelumnya, bagaimana bisa di meyakinkan orang lain yang bahkan dirinya sendiri tidak yakin. Terlihat ironis.


Saat sedang memperhatikan Mozha dan Sazha, sebuah tangan menyentuh lengan kananku, aku langsung mengalihkan pandanganku kepada pemilik tangan itu, Na Yeong.


"Kau tahu, tidak biasanya Mozhawa sampai sestress ini menghadapi Mizhawa, pasti ada sesuatu yang mengganggu pikiran Mizha sampai dia bertindak sejauh ini dihadapan kami" Na Yeong sedikit mendekatkan mulutnya ke telingaku dan berbisik, dia berusaha agar kami tidak ketahuan bahwa sedang berbicara secara diam-diam.


"Tapi bukankah banyak yang berkata bahwa dia memang seperti itu, maksudku... putri Mizhawa" Aku bertanya keheranan kepada Na Yeong dengan tetap mengarahkan pandangan kami ke depan.

__ADS_1


"Dia memang seperti itu, tapi ini diluar batas. Dia sangat jarang menjatuhkan martabat keluarganya di hadapan kerajaan lain, sepertinya pengaruh sihir hitam mulai bereaksi padanya" Na Yeong terlihat sangat serius mengatakannya.


Sihir hitam? Sekarang aku mulai tertarik dengan kisah Mizhawa, aku berpikir apakah ini ada kaitannya dengan kedatanganku. Apakah yang dimaksud oleh Na Yeong bahwa dia terpengaruh sihir hitam, apakah seorang putri juga bisa terkena sihir hitam? bukankah mereka adalah golongan penyihir tingkatan teratas.


"Apa maksudmu dengan sihir hitam, putri Na Yeong?"


"Kalian tahu, kami bisa mendengar suara kalian dengan jelas" Ji-hyeon yang berada di sebelah kiriku mengatakan itu dengan tanpa beban sembari menyantap potongan apel yang ada di garpunya.


Seketika aku dan Na Yeong menelan ludah masing-masing dan berdehem lalu saling menjauh satu sama lain setelah mendengar Ji-hyeon berbicara demikian.


Aku melihat sekelilingku dan mereka menatap kami berdua sehingga membuat suasana menjadi canggung. Sungguh aku tidak berniat membicarakan Mizhawa di belakangnya, ini hanya terjadi secara spontan.


"Aku sungguh minta maaf atas kejadian ini, sehingga membuat sarapan kita menjadi tidak nyaman" Mozhawa dengan rasa bersalahnya mengungkapkan permintaan maaf kepada para tamunya.


"Aish, sudahlah Mozha, kita ini sudah seperti keluarga... tidak perlu merasa tidak enak seperti itu, lihatlah Ji-hyeon, dia tetap melanjutkan untuk menikmati makanannya tanpa merasa terganggu" Na Yeong spontanitas berusaha mengurangi perasaan canggung diantara para putri dengan senyumannya yang penuh energi positif.


Namun hal sebaliknya terjadi kepada Ji-hyeon, dia menghela napas dan menatap kesal ke arah Na Yeong. Saat pandangannya terhalang olehku, dia dengan kasar menggelengkan kepalanya dengan wajah cemberut, mengisyaratkanku untuk minggir dari pandangannya.


Pandangan mematikannya membuatku agak gugup, hingga aku dengan cepat mengundurkan badanku agar dia dapat melampiaskan kekesalannya kepada Na Yeong, bukan denganku.


"Yah! Jang Na Yeong! mengapa harus membawa namaku! tidak bisakah kamu mencari orang lain saja sebagi contoh!"

__ADS_1


 ----


__ADS_2