Blessing Curse (Kutukan Berkah)

Blessing Curse (Kutukan Berkah)
23. Penawar Kutukan


__ADS_3

Sebelumnya di hutan tempat Gi Tae dan kedua putri Hira berada...


Monster mengerikan yang mengejar Gi Tae dan kedua putri Hira semakin dekat sembari mengeluarkan lolongan yang membuat tubuh merinding. Hingga sampailah dia di hadapan Gi Tae yang berdiri paling depan.


Ketiga manusia yang tidak tahu harus bagaimana, saling berhadapan dengan sosok monster bermata merah yang siap menerkam mereka kapan saja.


"Hiiiiaaaaaaaak!!!"


Saat monster mengerikan itu hendak menerkam Gi Tae dengan bengisnya, Mizhawa mengambil langkah terlebih dahulu. Mizha terbang dan mengepalkan jemarinya menuju kepala monster yang besarnya lima kali lipat dari tubuhnya dan memekik dengan lantang.


"Wushhhh...!!!"


Belum sampai serangan Mizhawa mendarat pada kepala monster, sang monster mengayunkan tangannya dengan kuat menepis tubuh Mizhawa hingga terpelanting ke tanah membuatnya memekik kesakitan.


"Mizha!!" Gi Tae dan Sazhawa sontak memanggil namanya dengan terkejut lalu berlari menghampiri tubuhnya yang terluka.


"Mizha... kamu terluka!" ucap Sazhawa dengan begitu khawatir terhadap keadaan adiknya.


"Aku tidak ap-- ukhukk!!!" belum sempat Mizhawa melanjutkannya, dia terbatuk dengan mengeluarkan darah dari bibirnya membuat kedua manusia lainnya semakin khawatir. Mizhawa terlihat begitu kesakitan.


Mizhawa masih sanggup berdiri dengan bersusah payah melalui bantuan Sazhawa dan Gi Tae.


"Kita harus segera membawanya pergi!" pangkas Gi Tae mengalihkan perhatian Sazhawa.


"T-tapi bagaimana?!" tanya Sazhawa yang semakin kebingungan.


Sedangkan monster mengerikan kembali mendekati mereka dengan berjalan perlahan. Gema dari langkah kakinya dapat menggetarkan tanah dan memberikan suasana mencekam disekitarnya.


"Gunakan sihirmu!" perintah Gi Tae tanpa berpikir panjang.


"Kamu gila atau tuli?! aku sudah katakan sihirku tidak bisa dipanggil saat energiku tipis!" bentaknya dengan turut kalut dalam suasana.


Gi Tae tidak bisa berpikir jernih saat ini, sedangkan sang monster telah berdiri di hadapan mereka. Gi Tae mengambil langkah maju menghadapi monster yang memberikan tatapan mematikan itu.


Tubuh Gi Tae merasakan urgensi untuk bertahan hidup dan melindungi kedua putri yang ada dibelakangnya yang tengah kalut.


Asap kebiruan mulai muncul di kedua lengannya. Berputar-putar mengelilingi setiap lengan Gi Tae dengan cepat. Sepertinya saat-saat yang seperti ini dapat membangkitkan kekuatannya kembali.


Gi Tae yang merasakan energi asing yang sebelumnya pernah muncul itu kini mulai familiar dengannya. Dia berusaha keras untuk memusatkan kekuatan itu di kedua lengannya.

__ADS_1


Saat monster melompat tinggi dan hendak menerkam Gi Tae yang telah berdiri di hadapannya. Gi Tae segera mengarahkan kedua lengannya ke arah terbangnya sang monster dan memekik.


"Hiiaaaaaaaak!!!"


Suara keras Gi Tae yang maskulin dapat terdengar menggema di tempat mereka beradu.


"Aaaauurrrrnnngghhh....!!!"


Cahaya biru terang keluar dari kedua telapak tangannya dan menghantam tepat di perut sang monster. Membuatnya terpental dan mengeluarkan erangan yang mengerikan. Dia benar-benar kesakitan saat ini.


Mizhawa dan Sazhawa yang melihat hal ini terkejut bukan main. Mereka belum pernah menyaksikan seseorang mengeluarkan kekuatan yang begitu dahsyat dengan warna biru terang. Kekuatan sihir apa itu, pikir mereka. Bagaimana Gi Tae bisa memiliki kekuatan sehebat itu.


Tidak cukup sampai disitu, Gi Tae terus menerus mengeluarkan teriakan yang terdengar menyakitkan meskipun sang monster telah ditaklukkan.


"Hiaaaarggh!!! Argghhhhhhhh...!!!"


Gi Tae mengerang begitu keras, tubuhnya tidak bisa menerima kekuatan dari energi biru yang ada padanya saat ini. Dia berlutut menahan kesakitan dengan kepalanya menengadah keatas langit. Kedua matanya mengeluarkan cahaya biru terang menjulang hingga membuat sekeliling menjadi terang benderang.


Angin disekitar mereka menderu-deru hingga dedaunan kering terangkat dan berterbangan dengan kacaunya.


Angin yang begitu kencang membuat kedua putri Hira sesekali menutupi mata dan wajah mereka karena sangat sulit bagi mereka untuk memusatkan pandangan. Mizhawa dan Sazhawa yang kebingungan tidak mengetahui harus berbuat apa. Mereka hanya menyaksikan keanehan ini dengan mata dan wajah khawatir.


Mizhawa tidak mampu meneriakinya, dia hanya memegang dadanya yang terasa begitu sakit akibat dari hantaman monster.


Gi Tae terus mengerang hingga akhirnya setelah beberapa saat, perlahan-lahan tenaganya habis dan cahaya dimatanya mulai memudar, begitu pula dengan deru angin dan asap biru yang mengelilingi tubuhnya.


Mizhawa melepaskan lengan Sazhawa yang sedari tadi membantunya berdiri dan menyuruhnya segera menghampiri tubuh Gi Tae yang terkulai lemas.


Sazhawa langsung tersimpuh disamping Gi Tae dan menahannya agar tidak jatuh ke tanah.


"Kita harus membawanya pergi dari sini!" ucap Sazhawa dengan khawatir.


Mizhawa mengangguk setuju. Sazha membantu Gi Tae untuk berdiri dengan susah payah.


"Tunggu dulu...!" terdengar suara sosok monster yang mengerikan tadi menahan kepergian mereka dengan mencoba bangkit dari tempatnya terpental.


Dia berjalan mendekat ke arah mereka dengan terhuyung-huyung.


"Aku tahu sejak awal kedatangan kalian, dialah orang itu... orang yang bisa menyembuhkan kutukan yang ada padaku.. argh..." dengan bersusah payah dia berhasil mengatakan hal yang ingin dia sampaikan "aku mohon... biarkan pemuda ini membantuku. Aku juga tidak ingin hidup seperti ini, aku ingin kembali ke kehidupanku seperti sedia kala..." tambahnya dengan napas yang tersengal.

__ADS_1


Sazhawa dan Mizhawa saling bertukar pandangan, sepertinya mereka memiliki pemikiran yang sama.


Dan karena hanya Sazhawa yang tidak terluka, maka dialah yang memberi jawaban kepada monster bengis yang saat ini tengah melemah.


"Apa jaminannya bahwa kamu tidak membohongi kami?" tanya Sazhawa dengan masih tidak yakin dengan monster yang sebelumnya hendak menerkam mereka itu.


"Jika kutukan yang ada padaku ini sirna, maka aku akan menjadi budak dan mengabdikan seluruh hidupku kepada kalian, terutama sang 'Blessing Curse' ini..." ucapnya sembari berlutut memohon.


Setelah merenungkannya dengan cukup lama, Sazhawa akhirnya memutuskan untuk memberi kesempatan kepada sang monster dan membawa Gi Tae mendekatinya yang tengah berlutut rendah. Lagi pula jika mereka menolaknya, dikhawatirkan monster itu akan berubah pikiran dan kembali menerkam mereka.


Disisi lain, Sazhawa juga ingin membuktikan tentang ramalan itu. Maka ini adalah kesempatan sempurna mereka untuk menyaksikan sendiri bahwa Gi Tae adalah sang penawar kutukan.


Gi Tae masih terkulai lemas, kesadarannya hanya sebatas antara mimpi dan kenyataan.


Mizhawa ikut mendekat dengan tetap menahan rasa sakitnya.


Sazhawa menidurkan tubuh Gi Tae di tanah dan meletakkan bagian kepala di pangkuannya sebagai bantalan, untuk mempersilahkan sosok monster itu melakukan ritualnya.


Sang monster berkepala serigala merangkak mendekati tubuh Gi Tae yang berbaring di tanah dan mendekatkan moncongnya ke arah bibir Gi Tae.


"Apa yang kamu lakukan?!" tanya Sazhawa yang kaget dengan tindakan sang monster. Dia mengira bahwa monster mengerikan itu akan melahap Gi Tae.


"Kamu tidak tahu? ini adalah cara untuk membebaskan kutukan! dia harus mengecupku...!" jawab monster dengan menggelengkan kepala, merasa aneh dengan gadis yang terlihat layaknya kaum bangsawan tetapi tidak mengetahui apapun.


"Benarkah? aku mendengar tentang kutukan berkah, tetapi tidak mengetahui caranya bekerja..." jawabnya dengan agak ragu. Sazhawa berpikir bahwa hal ini konyol, bagaimana mungkin kutukan bisa dibebaskan oleh sebuah kecupan. Dan itu berarti selama ini Gi Tae telah mengecup bibir banyak orang. Entah mengapa hal ini membuatnya kesal.


Mizhawa mendengarkan pembicaraan mereka berdua. Meskipun dia tahu hal ini telah terjadi di hidup Gi Tae, tetap saja dia juga merasa sedikit aneh mengetahui fakta ini.


Setelah monster yang mengerikan itu berhasil mengecup Gi Tae, perlahan tubuhnya mengeluarkan asap hitam yang bergumpal dan memutar mengelilinginya, menyebabkan angin dan dedaunan disekitar mereka berterbangan hingga kedua putri Hira tidak dapat melihat tubuh besarnya saat ini.


Setelah beberapa saat, gumpalan asap hitam perlahan meredup dan digantikan dengan sosok pemuda cukup kekar dan memiliki tampang yang indah tengah bersimpuh di hadapan mereka.


--


Di tempat lain disisi dunia, kehidupan dari kegelapan perlahan bangkit.


"Haahhhmmmm.... satu energi lagi datang" gumam sosok misterius yang diselimuti oleh jubah dan asap hitam di sekujur tubuhnya.


----

__ADS_1


 


__ADS_2