Blessing Curse (Kutukan Berkah)

Blessing Curse (Kutukan Berkah)
29. Topeng yang Retak


__ADS_3

Latihan yang dilakukan Gi Tae bersama Chaeyun dapat dilalui dengan lebih mudah. Dengan dasar yang dimiliki Gi Tae ketika berlatih dengan sang ayah sebelumnya, kini kemampuan Gi Tae terlihat semakin meningkat.


Moon Gi Tae POV.


Tubuhku terasa lebih ringan dari sebelumnya dan kini metabolisme tubuhku semakin meningkat. Jika sebelumnya mengatur napas adalah hal tersulit untuk kulakukan, berkat Chaeyun aku bisa mempelajari cara mengatur napas dengan lebih baik, terutama ketika dihadapkan dengan keadaan tertentu. Tidak kusangka, latihan olah tenaga sehari bisa memberiku dampak yang signifikan.


Chaeyun berkata bahwa ini adalah tingkat awal dari latihan tenaga dalam kami, di tahap selanjutnya dia akan mengajariku cara memanggil energi yang ada di tubuhku dan mengontrolnya. Aku sangat tidak sabar menantikan waktu itu tiba.


"Kira-kira kabar bahagia apa yang membuat senyummu tidak juga hilang?"


Saat ini aku tengah berada di halaman tempat biasanya aku berlatih. Aku tengah duduk di atas batu sembari membaca sebuah buku pemberian Chaeyun yang berisikan tentang tata cara pengolahan tenaga dalam. Hanya sebuah obor kecil yang membantuku sebagai sumber pencahayaan malam ini. Dan seseorang datang menghampiri ketenanganku.


"Mozhawa...!" aku sontak berdiri dan tersenyum lebar melihat kedatangannya "kamu sudah kembali! kapan kau datang?" tambahku dengan antusias.


Aku tidak berbohong, semenjak aku sadarkan diri dari kejadian di kedalaman hutan, aku belum melihat Mozhawa. Dan itu membuatku merindukannya.


"Belum lama, baru beberapa saat yang lalu..." jawabnya dengan senang.


Aku mengangguk dengan memberikan senyum terbaikku padanya.


"Ngomong-ngomong apa yang sedang kamu lakukan disini?" tanya Mozha dengan melihat sekelilingku yang gelap.


"Aku sedang memperdalam pengetahuanku... Chaeyun memberiku ini" jawabku dengan menunjukkan kepadanya buku yang ku genggam.


Dia mengangguk beberapa kali pertanda mengerti.


"Mau berjalan-jalan sebentar bersamaku? aku ingin bertanya tentang Mizhawa..." setelah beberapa saat, dia kembali bertanya dan kali ini pertanyaannya membuatku terhenti dari senyumku dan menatapnya dengan kosong.


Apakah Mozhawa mengetahui kejadian di danau? ataukah sesuatu terjadi dengan Mizha? mengapa aku begitu gugup?.


"Tentu saja..." jawabku dengan tersenyum canggung kepadanya.


--


Malam belum terlalu larut, tetapi bintang-bintang dan bulan sudah menempati singgasana mereka.

__ADS_1


Aku dan Mozhawa tengah berjalan dengan damainya di sebuah jalanan kecil sekitar pondok. Aku menunggunya untuk menanyakan yang mengganjal hatinya.


"Jadi, Gi Tae... apakah sesuatu terjadi kepada Mizhawa?"


Bagaimana aku harus menjawabnya? apakah aku harus jujur kepada Mozha bahwa Mizhawa pernah menciumku? ataukah harus kembali berbohong kepadanya?


"Apa yang kamu maksud Mozha? apakah sesuatu yang aneh terjadi padanya?" aku belum menjawab pertanyaan Mozha dan justru kembali bertanya kepadanya.


Hal yang aneh ialah, Mozha menanyakan ini disaat dia tidak memiliki sihir pembaca pikiran. Pasti sesuatu terjadi dengan Mizhawa, dan Mozhawa sedang menyimpulkan sesuatu.


"Kamu benar... sepertinya sesuatu telah terjadi padanya, dia sangat aneh" ucapnya dengan ekspresi yang sulit dibaca "waktu terakhir ku tinggalkan dia, dia masih sama seperti biasanya... hanya saja dia tengah tidak sadarkan diri bersamamu waktu itu. Tetapi setelah aku kembali sesaat yang lalu, dia terlihat menghindariku dan aku merasakan suatu perubahan padanya" tambahnya seperti mencari-cari sesuatu pada pikirannya.


"Memangnya perubahan macam apa?" tanyaku semakin penasaran.


Perjalanan kami begitu sunyi, hanya angin malam yang begitu dingin yang mengiringi pembicaraan kami.


"Entahlah... dia seperti semakin pendiam dan dari yang kulihat, aura wajahnya kini berbeda. Walaupun semakin diam tetapi tidak sedingin sebelumnya. Sesuatu darinya telah hilang... aku tidak tahu, apakah aku harus bahagia melihatnya seperti ini, ataukah aku harus khawatir kepadanya..." aku dapat melihat bahwa saat ini Mozhawa benar-benar khawatir kepada adik termudanya.


Apakah aku harus jujur kepadanya? jika ini berkaitan dengan keselamatan Mizhawa, bukankah aku harus mengatakan yang sebenarnya?


Mozhawa menghentikan langkahnya dan mengangkat wajahnya ke atas menatapku. Aku turut menghentikan langkahku dan memusatkan pandanganku padanya.


"Tidak hanya keselamatannya... tetapi juga seluruh kehidupan di negri Daegun ini bisa terancam." ucapnya dengan mata yang menatapku dengan tajam namun menyembunyikan ketakutan.


Kalimatnya membuat jantungku seketika berhenti.


Apakah aku telah melakukan sebuah kesalahan?


Aku kembali teringat perkataan Mizhawa sesaat setelah menciumku. Dia telah melanggar kesepakatan... Tapi kesepakatan apa yang ada kaitannya denganku?


"Mozha, ini mungkin terdengar kasar, tapi... apakah kalian menyembunyikan sesuatu dariku?" tanyaku dengan menatapnya serius. Aku ingin sekali mendengar jawaban ini darinya.


"Itu..." dia terlihat kesulitan menjawabku "aku tidak memiliki hak untuk mengatakannya, tetapi percayalah... kami sedang mencoba melakukan yang terbaik untukmu dan untuk Daegun..."


"Bagaimana mungkin sesuatu yang berkaitan dengan kebaikanku, tetapi aku tidak diizinkan untuk mengetahuinya?" aku merasa telah terhianati. Mereka sudah kuanggap sebagai orang-orang terdekatku, tetapi aku masih tidak mengetahui apapun tentang mereka.

__ADS_1


"Gi Tae, ini tidak seperti yang kamu bayangkan!" kembali Mozhawa mengatakan hal konyol.


"Memangnya apa yang sedang kubayangkan, Mozha?" tanyaku dengan getir kepadanya "aku sudah mempercayai kalian tepat setelah kamu memenjarakanku. Meskipun aku yakin bahwa setelah ini kalian akan kembali menghukumku, tapi aku masih mempercayakan hidupku kepada kalian. Bukankah itu tidak adil untukku?" mungkin aku terdengar berlebihan. Tetapi ini mengenai hidupku, dan mereka yang memutuskan bagaimana hidupku akan kujalani? terdengar konyol.


"Gi Tae... semua bisa kita bicarakan dengan kepala dingin!" lagi-lagi, perhatian Mozha dengan suara lembutnya mencoba menenangkanku.


Jika bukan karena dia telah banyak membantuku, aku pasti sudah pergi dan tidak ingin berbicara lagi kepadanya.


Aku harus bisa menerima kenyataan bahwa saat ini merekalah yang mengontrol kehidupanku.


Ini benar-benar membuatku sedih dan putus asa. Aku tidak bisa memiliki hidupku bukan? mengapa aku lupa bahwa aku hanyalah senjata dan mantra bagi mereka. Baik bagi sihir ilmu hitam maupun mereka para putri dari ketujuh kerajaan. Mereka hanya menginginkanku sebagai pusaka.


Aku sudah dibodohi oleh ilusiku.


"Kamu benar, Mozhawa... aku memang orang bodoh. Dan kumohon mulai sekarang... biarkan aku berjalan di jalanku. Aku akan pergi dari kalian. Aku meminta padamu, jangan pernah mencariku bagaimanapun keadaanku..." aku masih sanggup menahan air mata yang berteriak ingin keluar.


Aku harus mampu berdiri untukku sendiri. Tidak ada yang bisa kita percayai melainkan diri kita sendiri.


Aku ingin lepas dari mereka, aku tidak ingin dimanfaatkan seperti ini.


Akupun melanjutkan langkahku, tetapi kali ini menjauh dari Mozhawa, dari mereka, dan dari kenangan kami.


"Moon Gi Tae! tunggu...!" pekik Mozhawa berlari mengikuti dari belakang.


Aku memperbesar langkah kakiku dan berjalan menuju kegelapan hutan yang dipenuhi dengan pepohonan.


Aku tidak tahu akan kemana kakiku melangkah, yang pasti ini adalah penghianatan buatku.


--


POV. Orang Ketiga


"Dia mendengarkan bisikanku... ah.. betapa senangnya melihat ini! ahahahaha!" di negri kabut hitam, sang Penguasa Sihir Hitam terlihat bahagia dengan merentangkan kedua lengannya dengan bangga.


"Jika terus seperti ini, maka usaha untuk menyelamatkan negri mereka akan mempermudahku untuk membalaskan dendam yang telah ku pupuk. Mereka perlahan telah membuka pintu kematian untuk mereka sendiri! ahahahaha!!" Gelak tawa terdengar di seluruh negri kabut hitam.

__ADS_1


----


__ADS_2