Blessing Curse (Kutukan Berkah)

Blessing Curse (Kutukan Berkah)
49. Misi Dimulai


__ADS_3

Akhirnya kami sampai di ujung gua, pemandangan tidak sedap menyambut mataku. Dan kurasa tidak hanya aku yang merasakan ini, tetapi juga kedua putri yang bersamaku, karena aku dapat melihat wajah getir mereka saat begitu sampai di ujung gua.


Keadaan di sini berbeda dengan yang ada di dalam gua, jika tadi terasa begitu panas hingga terasa sulit untuk kami menyesuaikan pernapasan, tetapi saat berada di negri kabut hitam tidak hanya menyeramkan, melainkan juga dengan udara dinginnya yang begitu menusuk membuat aku dan kedua putri yang bersamaku kesulitan melindungi diri dari udara disekitar kami. Kabut hitam bahkan ada dimana-mana, selain untuk memperburuk suasana juga sangat berperan dalam memperburuk pandangan mata kami.


Namun aku berusaha keras untuk tidak begitu menghiraukannya, karena yang aku bingungkan saat ini adalah, bagaimana bisa kedua putri yang bersamaku juga mampu menghirup udara yang ada di negri kabut hitam ini? bukankah mereka tidak memiliki energi dari kegelapan? ataukah karena kelima mahluk yang berasal dari negri kabut hitam itu yang membawa kami bersama mereka, mangkanya mereka berdua bisa beradaptasi dengan tekanan udara disini.


Begitu banyak pertanyaan dikepalaku hingga aku sempat melupakan rencanaku untuk sesaat.


Aku berusaha menghilangkan semua pertanyaan dikepalaku. Melihat kami bisa bertahan dengan udara di sini, aku justru semakin optimis bahwa mereka bisa kuandalkan.


Dengan seringai yang masih terlihat jelas hingga saat ini, para makhluk berkepala binatang yang menggiring kami akhirnya membuka suara untuk menyambut ketibaan kami yang tidak begitu menyenangkan di negri kabut hitam.


"Selamat datang di negri kabut hitam, negri dimana kau akan dijunjung karena kekuatanmu dan negri dengan penuh kekuasaan..." si kepala babi berhenti sejenak setelah menyapu matanya ke arah dimana istana kabut hitam berdiri, matanya terlihat begitu bangga dengan yang mereka miliki saat ini, penuh kekaguman dan bersemangat. Lalu dia kembali menatap kami dengan seringai sombongnya "dan yang pasti, negri yang akan menjadi tempat terakhir kalian untuk bernapas...! hahahaha...!" kembali terdengar gelak tawa dari rombongan kelima sosok terkutuk setelah si kepala babi memberikan sambutannya kepadaku dan kedua putri yang masih saja memasang wajah kesal mereka.


Akupun tidak bisa menyalahkan mereka, aku sendiri juga muak mendengar suara bising dari gelakan tawa makhluk-makhluk terkutuk ini.


Kekaguman kepada negerinya sendiri? apa yang harus mereka kagumi. Bahkan yang terlihat hanya kabut yang akan membuatmu perlahan buta karena begitu tebalnya, dedaunan dan pepohonan yang hanya berwarna hitam, serta istana besar yang juga hanya terlihat seperti berhantu. Tidak heran mereka begitu payah baik dari wujud maupun pola pikir.


"Maksudmu mungkin negri dengan penuh bau busuk yang menyengat dan sebentar lagi akan binasa? aku akan sangat terhormat jika tempat ini tidak menjadi kuburan tebaikku." aku tersentak kaget setelah mendengar Na Yeong berani menghina negri mereka bahkan di wilayah mereka sendiri.


Kekuatan apa yang merasukinya? bukankah sedari kemarin dia hanya diam dan menuruti apapun yang mereka katakan, bahkan dia dan Sazhawa memberiku peringatan untuk tidak melakukan hal bodoh kepada mereka.


Walaupun demikian, aku merasa terhibur olehnya, mungkin hal sama yang kurasakan juga dialami oleh Sazhawa yang terlihat setuju oleh mulut Na Yeong kali ini. Kata-katanya juga cukup pas untuk menggambarkan istana mereka.


Oh, apakah aku bangga kepadanya, mungkin saat ini dapat kukatakan aku lebih dari bangga untuk memiliki dia menemani kami disini, jika itu Mizhawa, aku pastikan kata-kata yang dikeluarkannya akan lebih parah.


Berkata tentang Mizhawa, aku sedikit lega saat dia bukan orang yang diutus Ji-hyeon untuk pergi bersamaku, karena aku tidak tahu bagaimana jadinya jika dia terus mengetahui pikiranku. Bukan untuk menyelesaikan misi, mungkin kami akan berakhir saling bertengkar dalam perjalanan.


Kembali kepada kelima mahluk berkepala menjijikan ini, begitu mendengar hinaan Na Yeong, mereka seketika menampilkan kemarahan di wajah mereka yang semakin membuat penampilan mereka mengerikan. Jika kami tidak terbiasa dengan apa yang telah kami lihat, mungkin kami akan merasa tertekan. Tetapi apakah kami sudah terlalu terbiasa, hingga tidak ada satupun ketakutan yang terlihat dariku dan kedua putri yang bersamaku.


Sepertinya setelah mengetahui kami bisa bernapas dengan cukup baik di negri kabut hitam ini, kepercayaan diri kami semakin meningkat.


"Jaga bicaramu mahluk rendahan! kamu tidak tahu siapa kami! dan yang pasti, kamu tidak akan bisa lari dari kekuatan penguasa kami!" si kepala kerbau yang sama berisiknya dengan rekannya, pastinya tidak terima dengan apa yang diucapkan Na Yeong dan terus melemparkan ancaman yang terdengar seperti omong kosong.


Tidak untuk berbohong, kami sebenarnya juga tidak tahu apa yang menyambut kami nanti di istana busuk yang berdiri gagah memenuhi negri kabut hitam di hadapan kami ini, dan itu pasti membuat hati kami berdebar, Bukan hanya karena asing dan menyeramkan, tetapi juga beribu pertanyaan seperti halnya apakah kami bisa keluar lagi dari sini dengan keadaan utuh dan bernapas.


Saat mereka hendak kembali menarik kami untuk menuju istana, Sazhawa dan Na Yeong menatapku dengan mata penuh tekanan, mereka terus melemparkan pertanyaan dengan kedua mata mereka yang terlihat menyipit dan membelalak terus menerus, hingga perlahan aku mengerti. Benar, ini saatnya aku mengambil tindakan, astaga, bagaimana aku bisa lupa!.

__ADS_1


"Ehrmm..." aku menarik perhatian mereka dengan berdehem. Tidak memakan waktu lama, mereka kembali memusatkan perhatian kepadaku dengan wajah marah yang bercampur kesal.


"Sebenarnya sedari kemarin aku ingin buang air, apakah kalian mengizinkanku untuk mencari tempat untuk melakukan urusanku sebentar?" dengan ragu aku berusaha meyakinkan mereka.


Tetapi kedua wajah putri disampingku yang terlihat kecewa sepertinya tidak setuju dengan alasanku. Mereka membuang wajah dengan penuh kekesalan, seperti mengatakan, apakah alasanku bisa dianggap waras?


Tentu saja, lalu apalagi alasan yang bisa kukatakan kepada kelima mahluk menjijikan ini.


"Ck! Urusan itu nanti saja, lagi pula di dalam istana ada tempat yang lebih layak untuk melakukan bisnismu!" bentak kepala babi setelah berdecak kesal. Dia pasti berpikir aku tengah membuang-buang waktu mereka.


Dan wow, apakah ini terdengar lebih bermoral saat dia mengatakan ada tempat yang lebih layak? Aku pikir mereka hanya melakukan apapun yang mereka mau tanpa aturan yang pasti. Ini pengetahuan baru bagiku.


"Tapi aku sudah tidak tahan...! ini sudah kurasakan sejak kemarin, dan saat ini, aku bisa saja mengeluarkannya di dalam celana!" kali ini aku berusaha memasang wajah yang meyakinkan, aku terus meringis seperti menahan sesuatu untuk keluar dari bawah "dan juga- istana itu terlihat cukup jauh dari sini... aku mohon, ini--" aku sengaja tidak melanjutkannya, dan malah terkesiap dan menyentak dengan mata yang melebar agar mereka percaya.


Dengan tangan yang terikat di belakang tubuh kami, aku tentu aku tidak dapat memegangi perutku agar lebih mendalami peran. Justru aku memegangi belakangku dengan terus menahannya. Tetapi setidaknya dari wajah mereka, sepertinya mereka cukup yakin denganku.


Syukurlah...


"Baiklah, tetapi jika kau berani kabur dan menipu kami, maka kepala dua gadis ini menjadi taruhannya!" bentak kepala babi dengan beringas kepadaku.


Aku tidak dapat menahan untuk menelan ludahku sendiri dalam ukuran yang cukup besar dengan mata yang sesaat melebar. Aku tahu betapa gugupnya kedua putri saat mereka mendengarnya, akupun tidak dapat menghindari rasa gugupku, sama seperti kalian.


Sebelumnya aku sudah memberitahu rencanaku ini kepada Na Yeong dan juga Sazhawa saat berada di dalam gua. Bahwa ketika aku berhasil mengelabuhi beberapa diantaranya, mereka harus mengalahkan setidaknya satu diantara mereka.


Mungkin ini adalah saat yang tepat, karena dua sosok sudah bersamaku, tertinggal tiga lainnya yang menurutku tidak cukup sulit untuk dikelabui.


POV. Orang Ketiga


Saat Gi Tae berada cukup jauh dari tempat dimana mereka berkumpul sebelumnya, Sazhawa dan Na Yeong mengambil ini sebagai awal mula rencana mereka untuk dijalankan.


"Aku tidak tahan berdiri disini, bisakah kita menuju istana lebih dahulu? mengenal Gi Tae, dia terbiasa melakukan urusannya dengan waktu yang sangat lama..." dengan wajah yang kesal dan tidak sabar, Sazhawa mencoba meyakinkan kepala babi dan rekannya yang tersisa beberapa saat setelah Gi Tae pergi bersama rombongan.


"Aku tidak akan tertipu oleh rencana licik kalian." wajah tegas kepala kerbau saat mengatakannya sesaat berhasil menurunkan kepercayaan diri kedua gadis yang kini harus mengatasi sisanya.


"Aku tidak akan terkejut jika nanti kalian mungkin saja bisa tertidur disini alih-alih membawa kami kepada misi utama kalian..." sikap Na Yeong yang acuh mungkin saja dapat membuat kepala kerbau dan kedua rekannya berpikir kembali.


Lagi pula tidak ada salahnya kan untuk masuk istana terlebih dahulu, toh nanti mereka juga akan menyusul? pikir kepala kerbau dengan saling bertukar tatap dengan si kepala kijang dan kepala kambing.

__ADS_1


Setelah memastikan bahwa kedua gadis tidak akan bisa melakukan kekerasan, ketiga mahluk berkepala binatang itu membawa mereka masuk ke kawasan istana.


Pada awalnya, baik Na Yeong dan juga Sazhawa berpikir bahwa ini akan sangat sulit untuk menghasut mereka, tetapi ternyata itu tidak sesulit yang mereka pikirkan.


Apakah karena mereka wanita dan ketiga mahluk yang bersama mereka mengganggap itu bukanlah hal yang membahayakan? jika itu alasannya, maka ketiga mahluk bodoh tersebut sepenuhnya salah.


Dengan ketiga sosok bringas yang berjalan didepan, Na Yeong dan Sazhawa saling mengangguk dengan mata yang penuh makna. Ini pertanda, keduanya siap untuk melakukan misi.


Na Yeong mengeluarkan belati yang selama ini dia simpan di balik lengan bajunya secara perlahan, dan memutus ikatan yang dua hari ini menyakiti pergelangan tangannya. Setelah ikatannya berhasil terputus, dia segera memotong ikatan pada tangan Sazhawa sambil terus berjalan dan mengawasi ketiga sosok dihadapannya.


Untuk sesaat ketiga mahluk itu berhenti berjalan dengan diawali oleh kepala kerbau yang berada di urutan paling depan.


Hal ini membuat Na Yeong dan Sazhawa tersentak dan kembali ke posisi semula. Na Yeong memasukkan belatinya kembali kedalam lengan bajunya lalu menggenggam tali yang sebelumnya telah ia putus, supaya mereka tidak curiga.


"Ada apa? apa ada sesuatu yang salah?" tanya si kepala kambing dengan keheranan kepada si kepala kerbau diikuti anggukan oleh si kepala kijang.


Untuk sesaat kepala kerbau ragu dengan apa yang mereka lakukan. Kedua gadis sebenarnya sangat kesal dengan apapun yang mereka hadapi, terlebih mereka seperti sekumpulan mahluk bodoh yang berpikir sangat lambat. Jika Gi Tae dan kedua lainnya kembali, maka rencana mereka pasti gagal.


"Apakah ketua nanti tidak akan marah jika kita masuk istana tanpa mereka?" kepala kerbau jelas mengarah kepada kepala babi dan rombongannya. Tetapi ini sama sekali tidak bisa membantu kedua gadis yang terlihat tidak sabar, terutama Na Yeong.


"Aku pikir kita tidak melakukan hal yang salah, dan juga, ketua tidak mengatakan untuk menunggunya bukan?" kepala kijang membantu meyakinkan rekannya, mungkin saja dia juga sudah penat dengan misi mereka.


Mendengar hal ini, kedua gadis kembali memiliki harapan dan tanpa disadari keduanya ikut mengangguk bersama ketiga mahluk yang menyandra mereka. Sepertinya untuk kali ini mereka berlima, baik anak manusia maupun makhluk terkutuk itu memiliki hal yang bisa disetujui secara bersama.


Kepala kerbau melanjutkan langkah yang diikuti rekannya. Na Yeong tidak mau lagi membuang-buang waktu, dia segera menurunkan belati dan kembali menggesekkannya ke tali yang masih mengikat tangan Sazhawa.


Setelah berhasil terlepas, kedua putri segera menyergap kepala kijang dan kepala kambing, tetapi memastikan untuk tidak menimbulkan satupun suara.


Sazhawa membawa kepala kambing untuk berteleportasi ke semak yang sebelumnya mereka lewati lalu mengeluarkan panah sihirnya untuk menghabisi mangsa dihadapannya saat itu juga. Mata horor dan kesakitan yang tidak cukup lama, membuat nyawa si kepala kambing hilang seketika.


Sedangkan Na Yeong menarik si kepala kijang sedikit jauh dari jalur yang dilewati mereka, setelah merasa tempatnya cukup aman, dia langsung menggorok leher mahluk yang sangat dibencinya dengan belati yang sedari tadi digenggamnya. Na Yeong tidak lupa melempar bangkai mahluk itu ke balik rerimbunan untuk menghilangkan jejak.


Setelah menyelesaikan urusannya, Na Yeong segera merubah wujudnya dan menyamar sebagai si kepala kijang, dia lalu segera kembali kedalam barisan yaitu berada di belakang kepala kerbau.


Untuk Sazhawa, karena dia tidak bisa merubah wujud menyerupai orang lain, dia hanya kembali berteleportasi ke tempat semula dan berjalan dibelakang Na Yeong dan si kepala kerbau, tidak lupa untuk kembali memasang ikatan, tetapi kali ini tidak terikat sempurna.


Kepala kerbau kembali menghentikan langkahnya karena merasakan kejanggalan. Dia menatap kebelakang dan terkejut saat salah satu rekannya menghilang. Tidak hanya itu, seorang gadis tawanan juga ikut menghilang.

__ADS_1


Kemarahan di wajahnya kembali terlihat, dia menatap Sazhawa seakan ingin melahapnya saat ini juga.


 


__ADS_2