Blessing Curse (Kutukan Berkah)

Blessing Curse (Kutukan Berkah)
24. Gejolak Emosi


__ADS_3

Moon Gi Tae dan kedua putri Hira berhasil kembali ke pondok dibantu oleh pemuda tampan yang sebelumnya adalah sosok monster mengerikan, diketahui dia bernama Min Hyujin.


Dia menepati janjinya untuk mengabdikan diri kepada kedua putri Hira dan juga Gi Tae.


Sesampainya di pondok, Mozhawa langsung mengobati Mizha dan Gi Tae yang dibaringkan berjejer di ranjang dengan kemampuan sihirnya.


Setelah pengobatan selesai, Mozhawa menyarankan agar membiarkan Mizhawa dan Gi Tae beristirahat hingga kembali pulih.


Selagi Gi Tae dan Mizhawa beristirahat, Hyujin dan Sazhawa menceritakan kepada putri lainnya bagaimana mereka bertemu hingga akhirnya Hyujin terbebas dari kutukan.


"Jadi benar Gi Tae orangnya?" tanya Chaeyun yang tertarik sekaligus kagum dengan cerita Hyujin.


Chaeyun telah kembali dari misinya bersama dengan Dayeon, dan kini mereka ikut berkumpul setelah mendengar kabar tentang Gi Tae dan penyerangan yang terjadi di kedalaman hutan.


"Ya... meskipun awalnya aku juga sedikit ragu, karena kita lihat sendiri bukan, bagaimana Gi Tae bersikap seolah dia tidak memiliki kemampuan apapun. Dia hanya terlihat seperti pemuda pada umumnya... tapi tentu saja dengan wajah yang rupawan... hhmm..." sahut Sazhawa yang mengeluarkan semua isi kepalanya dan di akhiri sebuah senyuman.


"Ketika di hutan, energinya lah yang memanggilku. Meskipun terlihat seperti orang pada umumnya, tetapi orang-orang sepertiku yang terkena kutukan sihir hitam akan merasakan daya tarik yang luar biasa terhadap energinya" tambah Hyujin dengan wajah seriusnya.


Dia benar, bahkan semua putri dari ketujuh kerajaan juga merasakan energi yang kuat menarik mereka untuk bertemu dengan Gi Tae.


Kini semua tidak terbantahkan, yang dikatakan oleh Mizhawa hingga keputusan mereka untuk menyembunyikan dan melindungi keberadaan Gi Tae dari penyihir ilmu hitam adalah hal yang memang harus mereka lakukan.


Tetapi Gi Tae tidak mengetahui misi dari kesembilan putri yang bersamanya saat ini. Yang dia ketahui, mereka adalah para putri yang telah dia putuskan untuk menjadi teman dan keluarga baginya.


Sebenarnya yang terjadi, para putri juga menginginkan kutukan Gi Tae untuk menyembuhkan kutukan mereka.


Sebelumnya kesembilan putri percaya telah terdapat ramalan yang mengatakan bahwa kedatangan sang 'Blessing Curse' akan menimbulkan kekacauan hebat yang akan menghancurkan negri Daegun. Tidak hanya itu, bahkan dipercaya dunia akan ikut menanggung akibatnya.


Tetapi untuk menyelamatkan Daegun, mereka juga bergantung kepada kutukan yang ada pada Gi Tae saat ini.


Sebenarnya, apakah kutukan yang disembunyikan oleh kesembilan putri dari ketujuh kerajaan?


--


Sinar mentari pagi yang cerah dengan kicauan burung di pepohonan membangunkan Gi Tae dari tidur nyenyaknya.


Hal pertama yang dilihatnya ketika membuka mata adalah wajah cantik Mizhawa yang tengah tertidur pulas tidak jauh dari pembaringannya. Dia tidak merasa bahwa sebelumnya dia setuju untuk tidur di ranjang yang sama dengan Mizhawa, tetapi mengapa terdapat peri cantik yang tertidur disampingnya? pikirnya dalam hati.


Gi Tae bangkit dan terduduk, kepalanya masih terasa sedikit berdenyut tetapi kesadarannya cukup untuk membantunya berdiri.

__ADS_1


"Oh, kamu sudah bangun?" tanya Dayeon yang masuk untuk memeriksa keadaan Gi Tae dan Mizhawa.


"Uh... iya, ngomong-ngomong bagaimana aku bisa tidur disampingnya?" tanya Gi Tae keheranan dengan menunjuk Mizhawa yang belum juga bangun dari tidurnya.


"Mozhawa mengobati kalian kemarin malam, dan kamu tidak perlu khawatir... tidak terjadi apapun dengan kalian, karena kami selalu mengawasi kalian..." jawab Dayeon dengan tersenyum manis kepadanya.


Ini membuat wajah Gi Tae tiba-tiba terasa panas dan malu. Dia tidak bermaksud untuk menanyakan hal itu, dia hanya penasaran dengan yang terjadi sebelumnya.


"Mam-maksudku, bagaimana aku bisa berada disini?" kembali Gi Tae bertanya dengan terbata dan telinga kemerahan.


"Oh... itu... apakah kamu lupa kejadian kemarin malam? serangan dari monster di hutan?" Dayeon bertanya dengan mengangkat kedua alisnya kepada Gi Tae, mencoba membantunya untuk mendapatkan kembali ingatannya.


Setelah beberapa saat Gi Tae merenung sembari memegangi kepalanya, akhirnya dia kembali mengingat kejadian sebelumnya.


"Aku baru ingat sekarang..." ucapnya sembari menghela napas dalam-dalam "lalu bagaimana dengan keadaannya?" tambahnya dengan menunjuk ke sosok yang berbaring di sebelahnya.


"Dia cukup terluka parah, tetapi Mozhawa telah mengobatinya... jadi kamu tidak perlu khawatir" jawab Dayeon mengetahui kekhawatiran Gi Tae.


Gi Tae merasa buruk karena telah meletakkan Mizhawa dalam kondisi yang membahayakan. Dia bahkan tidak menyangka bahwa Mizhawa akan senekat itu untuk melindunginya saat itu. Dia akan menyalahkan dirinya sendiri dalam hal ini.


"Seandainya kita tidak berhenti berlari waktu itu..." gumamnya dengan menatap getir Mizhawa.


--


"Dialah pemuda itu..." ucap Dayeon menunjuk ke arah seorang pemuda yang tengah membuat kayu bakar menggunakan kapak yang sebelumnya pernah Gi Tae gunakan.


"Jadi dia monster itu?!" tanya Gi Tae yang terdengar seperti memendam kemarahan kepada pemuda yang disebutkan tadi.


"Namanya Min Hyujin" tambah Dayeon tersenyum kepada Gi Tae.


Tetapi Gi Tae tidak mempedulikan ucapan Dayeon dan hanya menatap marah kepada Hyujin.


Suasana pagi yang cerah di wajah Gi Tae seketika sirna dan tergantikan dengan emosi yang mendidih.


Betapa terkejutnya Dayeon ketika melihat Gi Tae bergegas menghampiri Hyujin dengan ekspresi marahnya disertai dengan jemari yang mengepal.


"Gi Tae apa yang ingin kamu lakukan?" pekik Dayeon yang sudah terlambat.


Sesampainya Gi Tae di belakang Hyujin, dia langsung memegang pundaknya, memutar badan Hyujin untuk menghadapnya, lalu pukulan yang teramat keras mendarat di pipi kiri Hyujin membuatnya terhuyung.

__ADS_1


Gi Tae saat ini tengah tersulut emosi, dia tidak terima dengan yang telah Hyujin lakukan. Bagaimana tidak? Hyujin menyebabkan Mizhawa terluka parah dan hampir kehilangan nyawa. Jika sebuah kata dapat menjelaskan betapa buruknya kemarahan Gi Tae, maka kematian Hyujin adalah jawabannya.


"Hyujin..!" Dayeon berlari untuk membantunya. Hyujin tengah memegangi pipinya yang terkena pukulan "Gi Tae! kamu gila ya?!" tambah Dayeon dengan memarahi sikap Gi Tae.


"Kamu seharusnya malu berada disini! kamu sudah membuat Mizhawa hampir kehilangan nyawanya!" tunjuk Gi Tae dengan murka kepada Hyujin.


"Gi Tae! ini bukan kesalahannya! justru kamulah yang menolongnya terbebas dari kutukannya!" ucap Dayeon yang tidak habis pikir dengan tingkah laku pemuda yang sebelumnya dia kenal karena kepolosannya itu.


"Tidak apa, Dayeon... dia benar" ucap Hyujin dengan tertunduk bersalah.


"Baguslah jika kamu sadar!" serobot Gi Tae yang masih juga belum mereda "aku bahkan akan menolak untuk menghapus kutukan yang ada padamu jika aku tahu!" tambahnya semakin kesal dengan mata yang menatap Hyujin dengan tajam.


Hyujin tidak tahu lagi harus bagaimana, dia tentu merasa bersalah tetapi dia ingin menebus kesalahannya kepada Gi Tae dan kedua putri Hira yang telah dibuatnya trauma.


"Aku mohon padamu tuanku... aku akan menebus semua kesalahanku kepada kalian, aku bahkan telah memohon maaf kepada temanmu lainnya..." pintanya dengan berlutut di hadapan Gi Tae. Matanya sangat sayu dan berkaca-kaca.


"Min Hyujin!!" Sazhawa memanggilnya dengan terkejut melihatnya tengah berlutut di hadapan Gi Tae "apa yang kamu lakukan?" dia mendekati dan menariknya untuk berdiri.


Sazhawa baru saja teleportasi dari kerajaan Hira untuk mengantarkan Mozhawa menunaikan tanggungjawabnya sebagai putri mahkota. Karena di setiap kerajaan harus terdapat setidaknya beberapa hari sekali para putri menjaga kestabilan pemerintahan. Meskipun para mentri dan abdi istana melakukan tugas-tugas mereka masing-masing, tetapi sosok pemimpin tetaplah dibutuhkan demi kelangsungan pemerintahan.


Setelah Sazha berhasil membuat Hyujin kembali berdiri, dia melihat sebuah luka lebam yang masih segar di wajahnya.


"Apa yang terjadi?" tanya Sazhawa dengan penuh perhatian.


Gi Tae semakin mendidih melihat hal ini. Apakah dia cemburu? siapa yang tahu. Menurutnya, yang dilakukan oleh Sazhawa dan yang lainnya adalah sebuah kebodohan, bagaimana bisa dia membiarkan seseorang yang telah melukai Mizhawa tinggal bersama mereka? sangat konyol.


"Gi Tae tadi sedang tersulut emosi... tetapi kita bisa mengurusnya nanti, sekarang bawalah Hyujin kedalam" ucap Dayeon dengan sedikit merasa tenang karena Sazhawa datang tepat pada waktunya.


"Kamu melakukan ini?!" dahi Sazhawa mengkerut seakan tidak percaya dengan yang terjadi.


"Kamu harus menghindarinya!" sahut Gi Tae mengabaikan pertanyaan Sazhawa. Jelas kemarahannya belum mereda.


"Kamu benar-benar konyol! justru dialah yang membantu kita kembali ke sini! jika bukan dia, bagaimana aku bisa membawamu dan Mizhawa yang sudah tidak bisa bergerak sama sekali?!" Sazhawa ikut terbawa suasana dan menyalahkan sikap Gi Tae yang tidak rasional.


"Sazha! jangan kamu juga..." pinta Gi Tae dengan getir.


Sazhawa mengabaikan Gi Tae dan membawa Hyujin masuk ke pondok.


Dayeon menatap Gi Tae untuk yang terakhir, dia menyayangkan semua yang terjadi dan ikut masuk ke dalam pondok.

__ADS_1


 


__ADS_2