Blessing Curse (Kutukan Berkah)

Blessing Curse (Kutukan Berkah)
31. Gerbang Dimensi


__ADS_3

Gi Tae semakin memasuki hutan yang dalam, cahaya rembulan tertutup pepohonan sepenuhnya.


"Uuwk.. uuuwwk..."


Suara hewan-hewan malam terdengar saling bersautan. Meskipun Gi Tae tidak lagi takut terhadap kemungkinan-kemungkinan buruk, tetapi dengan sekelilingnya yang mencekam tentu membuat bulu kuduknya merinding.


"Sepertinya mereka telah jauh" gumamnya memandangi arah ketiga rekannya yang sudah tidak lagi terdengar.


"Lalu aku harus kemana..." tambahnya dengan menghela napas dan meletakkan kedua tangannya di pinggang.


Tidak lama kemudian, Gi Tae seperti melihat sesuatu. Cahaya yang nampak kemerahan terlihat dari kejauhan.


Gi Tae memutuskan untuk mendekati cahaya tersebut dengan tanpa pertimbangan.


Setelah beberapa saat dia berjalan, sampailah Gi Tae pada sumber cahaya merah yang berkerlipan.


Cahaya merah yang berkerlipan dari kejauhan ternyata adalah sebuah pusaran seperti pintu masuk ke dimensi lain yang berada diantara dua pohon raksasa.


Pusaran yang mengeluarkan cahaya merah bercampur hitam itu terlihat mengerikan dan mampu membuat siapapun yang melihatnya merinding.


"Apakah aku harus memasukinya?" gumam Gi Tae dengan ragu-ragu.


--

__ADS_1


Di lokasi lainnya di hutan, Mizhawa terlihat terus terbang dan hinggap dari satu pohon ke pohon lainnya.


Dia mencari-cari keberadaan seseorang, dan tentu yang dicarinya adalah Moon Gi Tae, orang yang tanpa sengaja telah menaklukkan dinding tebal di hatinya.


Dia dituntun oleh sebuah bisikan yang terdengar tidak asing lagi olehnya. Itu adalah suara bisikan dari orang yang sama yang dia jumpai saat dirinya menyelamatkan Gi Tae di hutan larangan, yaitu seorang pria tua.


"Ikuti langkah perginya jiwa yang tengah diselimuti kegelapan. Temukan dan terangi jalannya..."


Dia masih ingat bagaimana suara itu membangunkannya dari tidurnya.


- flashback -


Saat Mizhawa terbangun setelah mendengar suara bisikan yang menggema dalam tidurnya, dia tidak sengaja mendengar percakapan Mozhawa dan Sazhawa dikamar mereka.


Mizha belum menggerakkan tubuhnya dan tetap meringkuk menghadap ke dinding kamar mereka. Sehingga Mozha mengira hanya Sazha yang mendengarkannya.


"Iya, aku tidak sengaja membuatnya terluka. Dan mungkin sekarang Gi Tae sudah pergi jauh, aku kehilangan jejaknya" wajah sedih nampak sekali pada Mozhawa, dia tentu merasa bersalah akan hal ini.


"Maksudku mengapa dia harus pergi? jika dia pergi maka usaha kita akan sia-sia!" Sazhawa juga terlihat kecewa. Belum lama ini dia berusaha agar Gi Tae tetap berada disisi mereka, tetapi karena kesalahan kecil Gi Tae kabur begitu saja "dia memang seperti anak kecil... mengapa dia harus kabur-kaburan terus?!" tambahnya dengan kesal.


Mendengar hal ini, Mizhawa ingin sekali menampar mulut saudaranya yang telah berbicara buruk tentang Gi Tae.


"apakah dia tidak sadar jika semua ini berawal dari kesalahannya?" ucap Mizhawa dalam hati.

__ADS_1


Bahkan Mizha merasa ketika yang lain setuju untuk membawa Hyujin bersama mereka, namun Gi Tae terus menolaknya, saat itulah Mizha menyadari bahwa Gi Tae benar-benar mempedulikan hidupnya.


Tetapi untuk saat ini dia terus berpura-pura untuk tidur. Dia tidak ingin terlihat ikut peduli dengan kepergian Gi Tae.


"Aku sudah mengatakannya padamu, ini kesalahanku!" Mozha ikut terbawa suasana dan menaikkan nada bicaranya. Dia tidak ingin Sazha terus-terusan menyalahkan Gi Tae.


"Terserah apa katamu...!" sahut Sazha dengan kesal.


Mozhawa sebagai yang tertua diantara saudaranya mencoba untuk menenangkan dirinya.


Sazhawa memang seperti itu, jika dia benar-benar kecewa dan kesal, maka dia akan meluapkan emosinya. Jika Mozha ikut-ikutan kalut, maka mereka tidak akan menemukan jalan keluarnya.


"Lalu... apakah kita harus mengatakan ini kepada yang lain?" tanya Mozhawa dengan ragu setelah mengatur napasnya.


"Aku pikir kita harus berusaha mencarinya dahulu. Ini sudah larut malam, jika Gi Tae masih sama dengan yang dulu, maka dia akan ragu untuk pergi sejauh itu" sahut Sazhawa dengan optimis "lagi pula, jika yang lain mengetahui kepergian Gi Tae karena kesalahanmu, maka ini bukan lagi masalah kecil untuk kita" tambahnya.


Sayangya, Moon Gi Tae telah banyak berubah.


Saat Mozhawa dan Sazhawa keluar pondok, Hyujin melihat mereka dan bertanya untuk turut serta bersama mereka.


Sazha mengizinkannya untuk ikut, karena mungkin saja mereka membutuhkan bantuannya nanti.


Dan disaat ketiga manusia itu pergi, Mizhawa bangun dan pergi secara diam-diam mengikuti kata hatinya. Tidak lupa Mizhawa membawa panah sihirnya kali ini.

__ADS_1


- end of flashback -


 


__ADS_2